kumparan
30 Agu 2019 1:38 WIB

Tambora & Krakatau: Gunung Api Pengguncang Dunia, 200 Tahun Terakhir

Tampak perbandingan betapa kecilnya manusia saat berjalan di sisi salah satu dinding kaldera yang masih mengeluarkan asap solfatara, di dalam dasar kaldera Tambora. Hal ini mendakan bahwa Gunung Tambora masih menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Foto: Harley Sastha
Adalah pada waktu tengah malam; meletuslah bunyi seperti meriam; habislah terkejut sekalian alam; serasa dunia bagaikan karam.
ADVERTISEMENT
Waktu subuh fajar pun merekah; ditutunkan Allah bala celaka; sekalian orang habislah duka; bertangis-tangisan segala mereka.
Bunyi bahananya sangat berjabuh; ditempuh air timba habu; berteriak memanggil anak dan ibu; disangkanya dunia menjadi kelabu.
Begitulah beberapa keping syair Kesultanan Bima yang ditulis Khatib Lukman, 1830, dipublikasikan oleh Chambert-Loit, Orientalis Perancis, 1932, yang menggambarkan betapa dahsyat dan mengerikannya saat Gunung Tambora meletus hebat 10-15 April 1815. Seolah kiamat telah terjadi saat itu.
Sejarah mencatat, beberapa peristiwa letusan gunung api yang dahsyat pernah terjadi di muka bumi. Letusan-letusan tersebut memengaruhi iklim dunia hingga peradaban manusia dan ilmu pengetahuan.
Sebagai tempat bertemunya tiga mega lempeng dunia yang sangat aktif: Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik, menjadikan Indonesia sebagai tempat aktivitas hiruk-pikuk ketiganya yang kemudian melahirkan rangkaian gunung api yang seolah-olah menjadi jembatan penghubung pulau-pulau di Nusantara. Rangkaian ratusan gunung api inilah yang menjadi bagian dari cincin api dunia atau Ring of Fire.
ADVERTISEMENT
Keberadaan gunung api merupakan berkah Tuhan yang tidak ternilai harganya. Tanah yang subur, udara yang segar, sumber gas panas bumi, sumber daya bahan galian industri, daerah tujuan wisata, dan lain sebagainya.
Sejumlah gunung berapi di Indonesia pernah menorehkan sejarah kelam dalam catatan sejarah dunia akibat letusan yang ditimbulkannya. Ribuan hingga puluhan ribu jiwa melayang.
Dalam rentang 200 tahun, antara 1815 – 2019, Gunung Tambora dan Gunung Krakatau menjadi dua gunung api di Nusantara yang meninggalkan catatan penting bagi kehidupan dan pengetahuan sejarah dan peradaban dunia.
Kaldera, baik dinding, gigiran, serta bagian dalamnya merupakan atraksi dan fenomena alam Gunung Tambora yang sangat indah dan menakjubkan, hingga mendapat julukan The Greatest Caldera in Indonesia. Foto: Harley Sastha
Gunung Tambora
Dalam sejarah manusia modern, dengan kekuatan 7 VEI, menjadikan Tambora sebagai gunung api yang memiliki letusan terhebat, setidaknya dalam 200 tahun terakhir. Kehebatannya tergambar dalam keping-keping syair yang sudah dituliskan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Tambora sebenarnya sudah dimulai pada 1812. Kemudian, 5 April 1815, Tambora benar-benar meletus. Suaranya terdengar hingga Makassar, Sulawesi; Jakarta (Batavia), dan Ternate di Maluku. Diceritakan juga ketika pedagang dan penjelajah Inggris melakukan perjalanan ke Nusantara yang pada awalnya berpikir itu merupakan suara tembakan meriam.
Loading Instagram...
Pada tarikh 10-11 April 1815, gunung api di Semenanjung Sanggar ini menunjukkan letusan paripurnanya. Dunia berderak-derak. Wilayah Bima, Dompu, dan sekitarnya laksana dilanda kiamat yang maha dahsyat. Syair-syair Kesultanan Bima menggambarkan narasi seolah dunia runtuh dan kiamat sudah terjadi. Betapa mengerikannnya huru-hara yang terjadi saat itu.
Suara letusan terdengar hingga ke Surabaya, Madura, dan Banyuwangi. Madura tertutup abu selama tiga hari. Aliran materi vulkanik mencapai 100 kilometer kubik. Kolom letusan mencapai tinggi 40–50 kilometer. Gunung Tambora telah memuntahkan sekitar 50-150 kilometer kubik magma. Kaldera gunung runtuh pada akhir letusan dan menghancurkan 30 kilometer kubik tubuh gunung. Suhu bumi secara global turun 2,5 derajat Celcius.
ADVERTISEMENT
Jauh sebelum letusannya mengguncang bumi dan mengoyak langit, saat tengah pertengahan April 1815, diperkirakan Tambora mempunyai tinggi sekitar 4.300 mdpl. Pascamenggelegak, sepertiga tubuhnya hilang, hanya tersisa menjadi 2.851 mdpl. Gelegarnya dari rahimnya telah melahirkan lubang kaldera sedalam 1,4 km–terdalam di dunia, berdiameter lebih dari 7 km. The Greatest Caldera in Indonesia. Demikian dunia internasional, khususnya para ahli geologi dan kegunungapian menjulukinya.
Tambora Explosion 1815. Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:1815_tambora_explosion_B.png
Letusannya menggulung peradaban tiga kerajaan sekaligus: (pa) Pekat, Sanggar, dan Tambora. Hanya Sanggar yang tidak benar-benar musnah. Beberapa penduduknya selamat, termasuk Sultan Sanggar.
Sekitar 92 ribu jiwa melayang. Ini belum termasuk kematian yang melanda Eropa, Amerika, hingga Asia yang juga ikut merasakan efek dari gelegar sang raksasa Tambora.
ADVERTISEMENT
Setahun pascaletusan, yaitu 1816, cuaca dunia berubah drastis. Pada belahan bumi bagian utara, musim panas menjadi dingin membekukan. Akibatnya, timbul bencana kelaparan yang meluar. Bahkan dalam catatan sejarah lain, diceritakan kondisi darurat iklim akibat letusan Tambora hingga tiga tahun ke depan, 1815-1818. Dalam bukunya 'Tambora, Letusan Raksasa dari Indonesia', Gillen D’Arcy mengatakan selama tiga tahun sesudah letusan hampir di mana pun di dunia ini hidup berarti lapar.
Doro Api Toi atau Gunung Api Baru: salah satu anak Gunung Tambora di dasar kaldera yang lahir pascaletusan April 1883. Doro Api Toi masih aktif hingga kini dan terus tumbuh. Foto: Dany Prabowo
Musim dingin yang berkepanjangan dan kegagalan panen yang melanda juga menjadi pemicu kekalahan pasukan Napoleon Bonaparte dalam pertempuran di Waterloo.
Kegelapan dan bencana yang melanda manusia pada tahun 1816 kemudian menginpirasi seorang Mary Shelley yang saat itu masih berusia 18 tahun untuk menulis novel horor ilmiah yang terkenal dan legendaris, Frankeinstein.
ADVERTISEMENT
Kini, Tambora punya ceritanya sendiri. Atraksi dan fenomena alamnya yang mengagumkan telah memanggil jiwa-jiwa petualang dari seluruh penjuru negeri, dari mulai penggiat alam bebas, pencinta gunung api, hingga para peneliti serta ilmuwan, dan berbagai disiplin ilmu.
Berbagai sejarah yang dimilikinya dan potensi flora serta fauna di dalamnya mengantarkan Gunung Tambora menjadi taman nasional ke-51 pada 11 April 2015 yang ditetapkan oleh Presiden RI, Joko Widodo di Doroncanga, Dompu. Hal tersebut dikuatkan dengan Surat Keputusan (SK) Kementerian Lingkungan Hidupa dan Kehutanan, Nomor 111/MenLHK/-II/2015, tanggal 7 April 2015. Statusnya kini menjadi Taman Nasional Tambora.
Kaldera Tambora terlihat seperti cawan raksasa. Foto: Harley Sastha
Gunung Krakatau
Hampir 70 tahun setelah letusan besar Gunung Tambora, dunia kembali dikejutkan oleh letusan gunung api di Nusantara. Waktu itu, Senin, 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus hebat dengan kekuatan 6 VEI. Memicu tsunami setinggi sekitar 30-40 meter.
ADVERTISEMENT
Diceritakan sebuah kapal yang jaraknya sekitar 80 km dari pusat gunung terhempas akibat terkena angin letusan. Semua yang ada di Selat Sunda dan sekitarnya porak poranda. Dalam catatan sejarah, inilah letusan terbesar di penghujung abad 19 yang telah menelan korban jiwa lebih dari 36.000.
Krakatoa Volcano Eruption of 1883. Sumber: www.thoughtco.com
Letusan dahsyat Gunung Krakatau telah menghancurkan tubuhnya sebanyak 18 kilomter kubik. Suara dentumannya terdengar hingga ke Sri Lanka dan Karaci. Ke timur hingga ke Perth dan Sydney. Abu letusan menyembur ke udara hingga setinggi 70-80 km. Kemudian menyebar ke hampir seluruh dunia. Benda-benda keras berhamburan ke udara dan jatuh di daratan pulau Jawa dan Sumatera serta Sri Lanka, India, Pakistan, Australia, dan Selandia Baru.
Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris, Suara letusan Gunung Krakatau terdengar hingga 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana Gunung Tambora, dampak letusan hebat Gunung Krakatau juga memengaruhi iklim dunia. Hampir sebagian langit dunia gelap gulita. Suhu permukaan bumi pun turun 1,2 derajat Celcius.
Anak Gunung Krakatau dua bulan sebelum letusan dan longsoran samping. 28 Desember 2018. Foto: Deni Sugandi
Akibat debu vulkanik yang terlempar ke atmosfer hingga memengaruhi iklim dunia, orang-orang di Inggris dan Amerika merasa aneh karena melihat matahari terbenam berwarna merah.
Meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883 menjadi penting karena saat itu telegraf telah ditemukan. Peristiwa ini menjadi berita kolosal pertama yang dapat dideskripsikan secara rinci ke dunia melalui kabel telegraf bawah laut. Dengan cepat, pembaca berita di Eropa dan Amerika Utara dapat mengikuti laporan saat terjadinya bencana.
Sebelum meletus dahsyat, 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau mempunyai ketinggian sekitar 800 mdpl. Gunung Krakatau merupakan sisa letusan gunung berapi tua yang pernah meletus pada tahun 416 masehi. Gunung Krakatau saat itu sendiri terbentuk dari gabungan tiga gunung berapi yang muncul dari sisa letusan Gunung Krakatau purba, yaitu Gunung Danau, Gunung Rakata, dan Gunung Parbuatan. Setelah 200 tahun tertidur, 20 Mei 1883, Gunung Krakatau menunjukkan aktivitas seismiknya yang menandakan bahwa sang raksasa di Selat Sunda tersebut bangun kembali.
Anak Gunung Krakatau, 4 Mei 2019. Terbentuknya danau kawah, hasil longsoran samping dan letusan 28 Desember 2018. Foto: Deni Sugandi
Suara letusan eksplosif awal Krakatau terdengar hingga 16 km jauhnya. Semburan abu terlihat naik hingga 11 km di atas puncak gunung. Pada 11 Agustus 1883, tiga ventilasi aliran magma secara aktif meletus.
ADVERTISEMENT
Pada 26 Agustus 1883, letusan-letusan semakin sering terjadi dengan rentang waktu rata-rata setiap 10 menit. Seorang pelaut yang berada sekitar 120 km dari pusat letusan, melaporkan bahwa asap awan hitam naik dari atas gunung.
Kemudian, 27 Agustus 1883, terjadilah empat letusan besar yang berasal dari gunung. Menghancurkan dua pertiga dari Pulau Krakatau. Memicu tsunami dengan kekuatan yang besar. Tidak hanya Pulau Krakatau yang hancur, pulau-pulau kecil lainnya pun terdampak. Sejak saat itu, peta Selat Sunda berubah.
Majalah Atlantic Monthly terbitan tahun 1884, melaporkan bahwa beberapa kapten laut telah melihat matahari terbit yang hijau. Berbulan-bulan setelah letusan, matahari terbenam di seluruh dunia berubah merah. Peristiwa tersebut berlangsung selama hampir tiga tahun. Pola cuaca terus menjadi kacau selama bertahun-tahun, setidaknya itu berlangsung hingga tahun 1888. Krakatau sendiri kini menyandang status sebagai Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau.
ADVERTISEMENT
Di balik kedahsyatan letusan Tambora dan Krakatau, kita patut bangga karena gunung-gunung api di Nusantara telah menjadi catatan penting sejarah peradaban dunia. Tidak salah jika kiranya kelak Indonesia benar-benar dapat dijadikan laboratorium gunung api dunia.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan