Inflasi Masih Terkendali, Mengapa Ekonomi Indonesia Tetap Perlu Waspada?

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang Penulis dan Pemerhati isu Sosial, Pendidikan, Ekonomi, dan Lingkungan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Harry Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki kuartal terakhir 2026, perekonomian Indonesia menghadapi situasi yang cukup menarik. Di satu sisi, inflasi nasional masih berada dalam sasaran pemerintah. Di sisi lain, tekanan harga pangan, nilai tukar Rupiah, serta ketidakpastian ekonomi global membuat kebijakan ekonomi tidak bisa hanya berfokus pada satu indikator. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan (year on year), meningkat dari 3,19 persen pada Agustus. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi 2026 sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Namun, terdapat catatan penting karena inflasi volatile food mencapai 5,03 persen. Inflasi Terkendali, tetapi Harga Pangan Tetap Menjadi Perhatian Angka inflasi nasional yang masih berada dalam sasaran memang memberikan gambaran bahwa stabilitas harga secara umum relatif terjaga. Akan tetapi, pengalaman masyarakat dalam menghadapi kenaikan harga tidak selalu sama dengan angka inflasi nasional. Salah satu penyebabnya adalah kelompok pangan yang harganya lebih mudah berfluktuasi. Pemerintah mencatat tingginya inflasi volatile food pada September dipengaruhi oleh dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Niño, dan bencana alam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan suku bunga. Persoalan pangan berkaitan erat dengan produksi, distribusi, cadangan, hingga kondisi cuaca. Artinya, kebijakan dari sisi pasokan juga memiliki peran penting dalam menjaga daya beli masyarakat. BI Menghadapi Tantangan Menjaga Rupiah dan Pertumbuhan Di sisi moneter, Bank Indonesia masih harus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. BI-Rate berada di level 5,75 persen setelah sebelumnya dinaikkan selama kuartal II 2026 untuk memperkuat stabilitas nilai tukar dan menjaga inflasi. Tantangannya menjadi lebih kompleks karena tekanan eksternal dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar Rupiah. Ketika suku bunga negara maju meningkat, aset dalam mata uang asing dapat menjadi lebih menarik bagi investor global. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Namun, mempertahankan suku bunga tinggi juga memiliki konsekuensi. Biaya pinjaman dapat tetap mahal sehingga rumah tangga dan dunia usaha perlu lebih berhati-hati dalam mengambil kredit. Jika berlangsung terlalu lama, kondisi tersebut berpotensi menahan konsumsi dan investasi. Tantangan Ekonomi Bukan Hanya Soal Inflasi Karena itu, melihat kondisi ekonomi Indonesia hanya dari angka inflasi dapat menghasilkan kesimpulan yang kurang lengkap. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga beberapa kepentingan sekaligus: stabilitas harga, nilai tukar, daya beli, konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Ada perkembangan positif memasuki kuartal IV 2026. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat PMI Manufaktur Indonesia September 2026 kembali masuk zona ekspansi dengan angka 52,4, meningkat dari 49,8 pada Agustus. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbaikan aktivitas manufaktur dan pesanan baru. Situasi ini memberikan pesan bahwa perekonomian Indonesia belum dapat dinilai hanya dengan mengatakan “aman” atau “buruk”. Ada indikator yang menguat, tetapi terdapat pula risiko yang perlu diantisipasi. Pada akhirnya, tantangan ekonomi Indonesia memasuki akhir 2026 adalah bagaimana menjaga stabilitas tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan. Pengendalian harga pangan membutuhkan kebijakan dari sisi pasokan, sementara kebijakan moneter perlu tetap mempertimbangkan stabilitas Rupiah dan kebutuhan dunia usaha. Bagi masyarakat, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa angka ekonomi makro bukan sekadar statistik di laporan pemerintah. Inflasi berkaitan dengan harga makanan, suku bunga berkaitan dengan cicilan, dan nilai tukar dapat memengaruhi harga barang tertentu. Memahami ekonomi makro berarti memahami bagaimana berbagai keputusan ekonomi pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari.
Ditulis oleh: Harry Kurniawan, Fadli Fahrezi, Rafi Ahmad Daffa Kelompok 4, Mahasiswa Manajemen, Universitas PamulangPamulang
