Konten dari Pengguna

Statistika di Era AI: Ketika Data Bukan Lagi Sekadar Angka

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Harry Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan



Sumber: (Ron Lach) https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-teknologi-nomor-angka-9783346/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: (Ron Lach) https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-teknologi-nomor-angka-9783346/

Di tengah perkembangan statistika, artificial intelligence (AI), dan big data, data tidak lagi sekadar kumpulan angka di dalam tabel. Bagi bisnis, data telah menjadi dasar untuk memahami konsumen, membaca perubahan pasar, mengevaluasi strategi, hingga menentukan keputusan. Karena itu, kemampuan memahami statistika menjadi semakin penting ketika perusahaan menghadapi perubahan perilaku konsumen yang berlangsung cepat. Perubahan tersebut sedang terlihat dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Statistik di Indonesia. Pada September 2026, Komisi X DPR RI mendorong penyempurnaan sistem statistik nasional agar data tidak hanya menjadi kumpulan angka, tetapi mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara akurat dan menjadi dasar kebijakan yang tepat sasaran.

Dari Sensus dan Survei ke Big Data

Selama ini masyarakat lebih familiar dengan sensus dan survei sebagai sumber data statistik. Padahal, perkembangan teknologi menghasilkan sumber data yang jauh lebih beragam. Data administrasi, transaksi digital, hingga big data mulai menjadi perhatian dalam pengembangan statistik modern.

Akademisi yang hadir dalam pembahasan RUU Statistik bahkan mengusulkan agar data administrasi dan big data dapat diakui sebagai sumber statistik resmi, tidak hanya mengandalkan sensus dan survei. Perubahan ini menunjukkan bahwa statistika sedang memasuki fase baru, ketika jumlah dan jenis data semakin besar serta kompleks.

Bagi masyarakat, perubahan tersebut sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aktivitas menggunakan aplikasi, melakukan transaksi digital, mencari informasi di internet, atau menggunakan layanan publik dapat menghasilkan data. Jika dikelola dengan tepat dan tetap memperhatikan perlindungan data, informasi tersebut berpotensi membantu menggambarkan pola kehidupan masyarakat secara lebih cepat.

AI Membantu, tetapi Tidak Boleh Menggantikan Nalar Perkembangan AI juga ikut mengubah cara data diolah. Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2026 mengangkat pemanfaatan AI dalam pengolahan dan analisis data. AI dapat membantu berbagai proses, mulai dari mendeteksi anomali hingga menghasilkan visualisasi data secara lebih cepat. Namun, BPS menekankan bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Hasil analisis tetap membutuhkan validasi dan pemikiran kritis. Hal ini penting karena data yang banyak tidak otomatis menghasilkan informasi yang benar. AI dapat membantu menemukan pola, tetapi manusia tetap harus memahami dari mana data berasal, bagaimana data dikumpulkan, apakah terdapat bias, dan apakah kesimpulan yang dihasilkan memang sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dengan kata lain, tantangan statistika modern bukan hanya bagaimana mengolah data dalam jumlah besar, tetapi juga bagaimana memastikan data tersebut berkualitas dan digunakan secara bertanggung jawab.

Mengapa Masyarakat Perlu Melek Statistik? Statistika sebenarnya tidak hanya penting bagi mahasiswa, peneliti, atau pemerintah. Masyarakat umum juga semakin membutuhkan kemampuan membaca data. Setiap hari kita berhadapan dengan persentase, survei, grafik, peringkat, hingga klaim yang menggunakan angka untuk meyakinkan pembaca. Kemampuan memahami data dapat membantu seseorang tidak mudah mengambil kesimpulan hanya berdasarkan angka yang terlihat menarik. Kita perlu bertanya: siapa yang mengumpulkan data, bagaimana metode pengambilannya, kapan data tersebut dibuat, dan apakah data tersebut benar-benar mewakili kondisi yang sedang dibahas? Terlebih lagi, data pemerintah juga dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Dalam pembahasan RUU Statistik, muncul pula dorongan agar masyarakat memiliki ruang untuk mengetahui, menyanggah, dan mengoreksi data apabila tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Pada akhirnya, masa depan statistika bukan sekadar tentang menghitung angka. Statistika akan semakin berkaitan dengan teknologi, kebijakan publik, bisnis, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. AI mungkin mampu menghitung lebih cepat, sementara big data mampu menyediakan informasi dalam jumlah yang sangat besar. Namun, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa angka tersebut memiliki makna.

Ditulis Oleh: Harry Kurniawan, Mahasiswa Manajemen, Universitas PamulangPamulang