Pencarian populer

Hidup Terkurung di Kota Tua si Lumbung Emas

Entah sudah berapa kali kami dibuat cemas sekaligus terkesima ketika kereta lori yang kami naiki tertatih-tatih meniti rel berkarat yang telah berumur lebih dari seabad di Desa Lebong Tandai, Kabupaten Bengkulu Utara, pekan lalu.

Bayangkan saja, dengan jurang dalam persis di bawah kaki dan aliran sungai deras yang menghempas batu-batu raksasa di kiri dan kanan rel. Sementara kita cuma bisa duduk terdiam tanpa pengaman apapun di tubuh. Sungguh benar-benar menegangkan.

Tapi mau bagaimana lagi. Tak ada pilihan lain. Desa yang dulu tersohor hingga ke tanah Eropa karena lumbung emasnya ini, memang cuma memiliki satu-satunya jalan masuk, yakni rel tua sepanjang 33 kilometer yang dibangun Belanda pada tahun 1901 silam.

"Dulu cukup 2 jam perjalanan. Tapi kini tidak bisa lagi, rel sudah banyak rusak dan kadang tertimbun longsor," ujar Pedi, sopir Molek yang mengantarkan kami menembus perut hutan.

Pedi mengaku sudah belasan tahun menjadi sopir Molek sebuah akronim dari Motor Lori Ekspress atau nama lain dari bangkai lori milik Belanda yang merangkak membawa kami. Selama pengalamannya bersama molek, Pedi mengaku beberapa kali mengalami celaka.

Proses pemindahan penumpang di Stasiun Ronggeng sebelum menuju Desa Lebong Tandai Kabupaten Bengkulu Utara/Harry Siswoyo

Salah satunya ketika moleknya yang cuma berukuran 3x1 meter dan berangka kayu papan tergelincir keluar dari rel di sebuah pinggiran jurang lantaran tanah yang menahan rel tergerus longsor pada bulan lalu. Moleknya pun terguling sampai ke bawah jurang bersama para penumpangnya.

"Tapi tidak ada yang mati. Cuma lecet dan paling parah patah," ujar Pedi dengan mimik wajah datar. Sesekali kepalanya keluar jendela untuk melihat roda lori. Kami yang berdesakan di kursi penumpang cuma bisa melongo sembari meneguk liur dan memandang dalamnya jurang dari bawah jembatan ringkih yang sedang kami lewati.

Lama perjalanan menuju Lebong Tandai setidaknya butuh waktu sekitar 4-6 jam. Di sela itu, penumpang mesti berpindah molek di Ronggeng, yakni nama sebuah tanah lapang yang dahulunya dipergunakan orang Belanda bersama pekerja tambang untuk menonton seni pertunjukan tari Ronggeng yang didatangkan langsung dari tanah Jawa.

Di tanah lapang itulah molek-molek biasanya berhenti. Baik itu yang dari Lebong Tandai menuju Air Tenang maupun sebaliknya. Jadi mirip stasiun transit. Sekaligus tempat istirahat sebelum menempuh perjalanan melelahkan berikutnya.

Alat pemecah batu yang mengandung emas milik warga Desa Lebong Tandai/Harry Siswoyo

Batavia yang Meredup

Menelusuri jalan ke Lebong Tandai, membuat kita serasa masuk dalam dunia yang berbeda. Sepanjang mata merayap, pohon-pohon sebesar dua kali lingkar tangan orang dewasa masih tegap menjulang di perbukitan.

Belum lagi hempasan Sungai Lusang yang berwarna jernih ketika menabrak batu-batu sebesar rumah, membuat perjalanan itu seperti mengarahkan kita ke dunia yang berbeda.

Apalagi kalau mata melihat rela-rel berkarat yang mengular. Tak terbayang rasanya, bagaimana orang-orang di zaman dahulu membawa baja-baja nan berat ini bisa sampai ke daerah ini.

"Dulu pakai tenaga kuda dan manusia membuat relnya," ujar Supandi, tokoh masyarakat Lebong Tandai, menjawab pertanyaan kami setibanya kaki di desa.

Awal memasuki desa, kita langsung akan menjumpai deretan bangunan terbuat dari semen berwarna putih pudar. Di kiri kanan rel ada banyak rumah yang berdempetan, berdinding papan dan berlantai semen.

Sebuah tugu setinggi 2,5 meter berwarna putih menjadi penanda inilah desa penghasil emas di Bengkulu. Sebab di atas puncak tugu semen itu ada sebuah alat bor sisa Belanda sepanjang satu meter. Bentuknya persis seperti senapan mesin seperti di film-film Hollywood.

Anak-anak Desa Lebong Tandai menyambut molek yang baru tiba di desa mereka/Harry Siswoyo

Saat molek memasuki areal desa, biasanya akan ada banyak anak-anak dan anjing-anjing kampung berlarian menyambut. Beberapa bocah langsung menaiki bagian belakang Molek atau berloncatan duduk di lori gandeng molek sampai kendaraan itu berhenti.

Penduduk setempat sudah terbiasa dengan orang asing dari luar desa. Mereka yang datang ke desa ini memang beragam. Mulai dari orang dari negara lain sampai ke pengunjung lokal yang sekadar bertandang ingin melihat lebih dekat aktivitas pertambangan tradisional, sudah lumayan sering mereka temui.

"Sekitar tiga bulan lalu ada orang Belanda ke sini. Dia cari rumah kakeknya. Katanya orang tuanya lahir di desa ini," ujar Mukhlisin, Kepala Dusun.

Ya, Lebong Tandai memang sudah tersohor sejak masa sebelum kemerdekaan atau setidaknya sejak tahun 1900-an, ketika Belanda mulai membawa ribuan orang dari tanah Jawa dan Cina dari Singapura untuk melubangi bukit-bukit batu raksasa di Lebong Tandai untuk berburu urat emas.

Glundung, alat tradisional warga untuk memisahkan emas dari batuan/Harry Siswoyo

Diakui, sejak lampau nama Pulau Sumatera memang dikenal sebagai Pulau Emas atau Svarnadwipa. Karena itu, orang dari tanah Eropa berlabuh ke tanah ini. Namun demikian, saat itu terkhusus Bengkulu, sebagai salah satu daerah yang dijajaki Inggris hampir empat abad silam, dan menjadi salah satu pangkalan dagang terbesar kala itu.

Justru tak pernah terendus oleh Inggris di mana lumbung emasnya atau mungkin lebih tepatnya seperti yang pernah dituliskan John N Miksic dalam bukunya Traditional Sumatran Trade di bulletin de l’Ecole française d'Extrême-Orient (1985), bahwa Inggris memang tak menyadari bahwa ada lumbung emas di Bengkulu.

Dugaan itu juga mempertegas apa yang pernah dituliskan oleh William Marsden, seorang sekretaris yang bekerja di Fort Marlborough, sebuah benteng buatan Inggris terbesar di Asia Tenggara yang ada di Bengkulu dalam bukunya The History of Sumatra yang diterbitkan pada tahun 1783, yang menyebutkan bahwa emas-emas yang ada di Bengkulu justru berasal dari tambang tak jauh dari benteng mereka yang berada di jantung Kota Bengkulu saat ini.

Batu berisi urat emas yang dikumpulkan oleh para pekerja tambang tradisional di Lebong Tandai/Harry Siswoyo

Karena itu jua lah, Inggris yang telah menjejakkan kakinya sejak tahun 1685, hanya mengangkut getah damar, pala, kopi, dan rempah rempah di Bengkulu. Sampai kemudian muncul perjanjian tukar guling antara Inggris dan Belanda, untuk bertukar tempat daerah jajahan pada abad 18. Di titik inilah, mulai tersingkap di mana lumbung emas Bengkulu.

Inggris yang terlanjur hengkang ke Singapura menggantikan Belanda. Baru menyadari bahwa ada gunung emas nan banyak di Bengkulu. Itu ditunjukkan dengan keberhasilan perusahaan milik Belanda bernama Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong (1896), yang membuka tambang emas di daerah Kabupaten Lebong, atau sekitar 5 jam perjalanan darat dari Kota Bengkulu.

Termasuk pula perusahaan tambang bernama Mijnbouw Maatschappij Simau (1901), yang beroperasi di Desa Lebong Tandai, Kabupaten Bengkulu Utara, yang konon berdasarkan laporan Conference Paper A Brief History of Mineral Exploration and Mining in Sumatra (2014), mampu memproduksi sekurangnya satu ton per tahun.

Ya, setidaknya sejak 1901 hingga berakhir pada tahun 1940, dua perusahaan Belanda itu mampu memenuhi sedikitnya 72 persen ketersediaan emas untuk kerajaan Belanda atau Netherlands East Indies.

Namun demikian, kini sisa-sisa kejayaan itu telah meredup jauh. Urat-urat emas itu semakin dalam di perut bumi. Orang-orang desa yang bermodal alat seadanya untuk menambang emas hanya bisa memungut kerak emas.

Lubang-lubang yang dahulu dibuat Belanda sampai ratusan meter kini semua terendam air. Sementara warga hanya memiliki alat sedot yang sangat terbatas.

Karena itu, sejak peninggalan Belanda pada tahun 1940-an dan kemudian dikeruk lagi oleh PT Lusang Mining milik Australia pada tahun 1980-1995, semua ceruk emas itu makin sulit dikais.

Contoh emas mentah yang didapat dari Glundung warga/Harry Siswoyo

"Dapat satu gram emas saja, itu sudah beruntung sekali. Susah, susah sekali sekarang cari emas," ujar seorang penambang, Misnar, yang mengaku telah lebih dari 15 tahun menambang emas.

Kondisi itu pun kini membuat warga di Desa Lebong Tandai terbelit kesusahan. Apalagi, alat-alat untuk menambang berupa glundung, yang terbuat dari besi silinder berisi batangan besi serta air raksa ilegal makin mahal.

Biaya operasionalnya pun menjadi tak sesuai lagi dengan pendapatan. Bayangkan saja, dengan satu set alat pemisah emas yang bisa bermodalkan hingga Rp 25 juta, lalu air raksa seharga Rp 1,5 juta, belum ditambah dengan biaya tenaga mengangkut batu emas dari lubang-lubang bukit dan kebutuhan lain, membuat penambangan emas di desa itu seperti sudah tak menghasilkan lagi.

"Emas mentah yang didapat satu glundung paling cuma sebesar biji kedelai. Itu harganya di sini cuma Rp 50 ribu. Dari itu kami bertahan," tambah Misnar.

Harga gas elpiji di Desa Lebong Tandai/Harry Siswoyo

Terlambat Beralih

Kesusahan yang membelit warga Lebong Tandai kini perlahan makin menjadi. Apalagi, semua harga kebutuhan pokok di desa ini semuanya dibanderol dua sampai tiga kali lipat dari harga normal.

Itu terjadi lantaran susahnya akses transportasi untuk membawa semua barang tersebut ke dalam. Jadi jangan terkejut jika harga gas elpiji 3 kilogram di daerah itu mencapai Rp 40 ribu per tabung, atau juga harga semen yang mencapai Rp 160 ribu atau lebih per sak-nya. Belum dengan harga beras. Untuk kualitas rendah saja, di desa ini bisa mencapai Rp 20 ribu per kilogramnya.

Menurut Mukhlisin, lebih dari 200 kepala keluarga di Lebong Tandai memang tak memiliki keahlian lain. Warga yang turun-temurun menambang, bahkan sudah lupa cara menanam padi.

Lintasan rel rapuh yang dilalui Molek dalam perjalanan menuju Lebong Tandai/Harry Siswoyo

Karena itu, banyak bekas sawah di ujung desa yang ditinggalkan dan dibiarkan menjadi rawa. Bahkan, hanya untuk kebutuhan sayur-mayur di Desa Lebong Tandai sangat susah dicari. Mereka hanya mengandalkan dari membeli ke pedagang yang sesekali naik ke atas desa menggunakan molek, dan tentunya dengan harga yang mahal.

"Kami sekarang sedang menyosialisasikan agar ada alternatif lain selain tambang. Namun memang agak terlambat," ujarnya.

"Orang-orang di sini harusnya sudah berhenti menambang. Emas sudah susah. Baiknya menanam lagi padi atau yang lain," tambah tokoh masyarakat setempat Supandi (77).

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.38