Konten dari Pengguna

Suku Bunga Acuan BI Naik: Mengapa Tagihan Cicilan Terasa Makin Mencekik?

Aqila Hartanto

Aqila Hartanto

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aqila Hartanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi efek domino akibat dari suku bunga acuan BI naik. Gambar dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi efek domino akibat dari suku bunga acuan BI naik. Gambar dibuat menggunakan AI.

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah harga barang melambung tinggi. Benarkah demikian? Mengapa rasanya kenaikan suku bunga acuan ini justru terasa mencekik bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, terutama mereka yang sedang pusing memikirkan tagihan cicilan setiap bulan? Sebelum kita membahas lebih jauh tentang pusingnya tagihan cicilan, kita perlu untuk memahami lebih lanjut nih tentang apa itu suku bunga BI dan bagaimana kebijakan moneter ini bisa memberikan efek domino yang cukup terasa bagi masyarakat. Jadi sebenarnya apa sih suku bunga itu? Secara sederhana, suku bunga acuan atau BI-Rate adalah suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI). Angka ini menjadi patokan bagi lembaga keuangan di seluruh Indonesia untuk menentukan besarnya suku bunga yang akan mereka tawarkan kepada nasabah, termasuk suku bunga pinjaman dan tabungan. Jika dianalogikan, Bank Indonesia itu merupakan 'otak' dalam sistem perekonomian kita, sedangkan bank-bank serta lembaga keuangan lainnya merupakan organ tubuh yang bergerak mengikuti perintah sang otak. Jadi, ketika Bank Indonesia sudah menetapkan sebuah acuan, maka seluruh lembaga keuangan baik milik negara maupun swasta mau tidak mau akan bergerak untuk merespons komando tersebut. Lantas, apa yang terjadi ketika sang 'otak' tiba-tiba memberikan komando untuk menaikkan suku bunga? Nah, sekarang kita masuk ke dalam inti permasalahan. Pasti beberapa dari kita mulai bertanya mengapa keputusan yang terlihat jauh dari meja makan kita nyatanya ikut mengurusi menu makan kita hari ini.

Sekarang coba bayangkan bank-bank umum ini ibarat pihak yang harus "kulakan" uang. Kalau sang otak (BI) memutuskan biaya suku bunga itu naik, bank-bank ini jelas tidak mau menanggung beban itu sendirian. Supaya tidak mengalami kerugian, mereka akan melempar beban tersebut (suku bunga) kepada para nasabahnya dengan cara menaikkan suku bunga pinjaman.

Jadi dapat dibayangkan bagaimana kita yang sedang mencicil KPR atau bahkan kendaraan dengan suku bunga floating (mengambang) harus bersiap-siap melihat nominal tagihan yang membengkak akibat dari kebijakan ini. Lalu, apa muara dari rentetan efek domino ini? Saat gaji bulanan habis tersedot untuk menambal tagihan yang membengkak, otomatis jatah untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari lauk di meja makan hingga sekadar biaya untuk healing melepas penat akan berkurang drastis.

Akibatnya, masyarakat secara massal akan mengerem bahkan menghentikan pengeluaran mereka. Ketika semua orang menahan diri untuk berbelanja, permintaan barang di pasar pun perlahan menjadi lesu dan menurun.

Nah, bagaimana akhirnya? Saat semua orang mengerem pengeluaran mereka, harga-harga barang yang tadinya melambung tinggi (inflasi) perlahan-lahan akan terpaksa turun, atau setidaknya laju kenaikannya akan cenderung lebih lambat hingga kembali stabil. Kesimpulannya, kenaikan suku bunga acuan oleh BI tidak selalu berarti buruk. Kenaikan ini bisa diibaratkan sebagai obat pahit yang memang sengaja disuntikkan oleh para pembuat kebijakan demi mengembalikan kestabilan perekonomian di Indonesia kita.