Bukan Media Sosialnya, Tapi Cara Kita Mengelolanya
Tulisan dari Mohamad Hasan Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Membuka Instagram, TikTok, YouTube, atau platform lainnya sering kali menjadi aktivitas yang dilakukan hampir tanpa berpikir. Ada yang menggunakannya untuk mencari informasi, berkomunikasi, belajar, hingga sekadar mencari hiburan.
Namun, pernahkah kita bertanya mengapa terkadang sulit berhenti menggunakan media sosial meskipun sebenarnya masih memiliki tugas atau kegiatan lain?
Persoalannya mungkin bukan hanya terletak pada media sosial. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana seseorang mengelola dirinya ketika menggunakan media sosial.
Kemampuan tersebut berkaitan dengan manajemen diri. Seseorang perlu mengetahui apa yang menjadi prioritas, mengatur waktu, serta membangun kebiasaan agar penggunaan media sosial tidak mengambil alih aktivitas yang lebih penting.
Kebiasaan Kecil yang Sering Tidak Disadari
Kebiasaan menggunakan media sosial sering dimulai dari hal sederhana.
Membuka ponsel saat baru bangun tidur. Melihat notifikasi ketika sedang belajar. Membuka media sosial sebentar ketika merasa bosan. Atau mengecek satu aplikasi sebelum tidur.
Tidak semua kebiasaan tersebut merupakan sesuatu yang buruk. Persoalannya muncul ketika aktivitas yang awalnya dilakukan sebentar menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan.
Misalnya, seseorang sedang mengerjakan tugas kemudian merasa bosan. Ia membuka media sosial dengan niat mencari hiburan sebentar. Setelah beberapa konten, muncul konten lain yang menarik perhatian. Akhirnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan tugas justru terpakai untuk aktivitas lain.
Hal seperti ini menunjukkan bahwa mengatur penggunaan media sosial bukan hanya soal mengetahui berapa lama kita menggunakannya. Kita juga perlu memahami kapan dan mengapa kita membukanya.
Manajemen Diri Dimulai dari Kesadaran
Manajemen diri dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mengatur pikiran, waktu, perilaku, dan tindakannya agar dapat mencapai tujuan yang dimiliki.
Dalam kehidupan siswa, kemampuan tersebut dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Menentukan jadwal belajar, menyelesaikan tugas sesuai prioritas, mengatur waktu istirahat, dan memberikan batas pada aktivitas yang dapat mengganggu fokus.
Media sosial kemudian menjadi salah satu bagian yang perlu dikelola.
Ketika seseorang menyadari bahwa media sosial sering membuatnya kehilangan fokus, ia dapat mulai mencari cara untuk mengatasinya. Misalnya dengan menentukan waktu penggunaan, mengurangi kebiasaan membuka aplikasi tanpa tujuan, atau menyelesaikan pekerjaan utama sebelum menggunakan media sosial untuk hiburan.
Kesadaran menjadi langkah awal karena seseorang tidak dapat mengubah kebiasaan yang bahkan tidak disadarinya.
Bukan Sekadar Mengatur Waktu
Ketika mendengar istilah manajemen diri, hal pertama yang sering terpikir adalah mengatur waktu. Padahal, manajemen diri tidak sesederhana membuat jadwal.
Ada juga kemampuan untuk menentukan prioritas.
Seseorang bisa saja memiliki jadwal yang sangat rapi, tetapi tetap kesulitan menjadi produktif apabila tidak mampu menentukan kegiatan mana yang harus didahulukan.
Contohnya, seorang siswa memiliki waktu dua jam untuk mengerjakan tugas. Dalam waktu tersebut, ia juga mendapatkan beberapa notifikasi media sosial. Jika setiap notifikasi langsung diperiksa, waktu yang tersedia tetap dua jam, tetapi perhatian tidak lagi sepenuhnya digunakan untuk menyelesaikan tugas.
Karena itu, manajemen diri juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan perhatian.
Waktu yang dimiliki setiap orang memang terbatas, tetapi perhatian juga memiliki batas. Ketika perhatian terus berpindah dari tugas ke media sosial dan kembali lagi ke tugas, seseorang membutuhkan usaha lebih besar untuk mempertahankan fokus.
Membentuk Kebiasaan yang Lebih Produktif
Kebiasaan tidak berubah hanya karena seseorang mengetahui bahwa kebiasaan tersebut kurang baik. Diperlukan tindakan yang dilakukan secara berulang.
Hal sederhana dapat dimulai dengan membuat aturan untuk diri sendiri.
Misalnya, menentukan waktu khusus untuk mengerjakan tugas tanpa membuka media sosial. Setelah tugas selesai, barulah menyediakan waktu untuk hiburan. Atau ketika membuka media sosial untuk mencari informasi, tetap berpegang pada tujuan awal agar tidak terlalu mudah berpindah ke konten lain
Cara setiap orang tentu dapat berbeda..
Yang terpenting bukan membuat aturan yang terlalu sulit untuk dilakukan, melainkan membangun kebiasaan yang realistis dan dapat dipertahankan.
Sebab, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat lebih berarti daripada rencana besar yang hanya dilakukan sesekali.
Produktif Tidak Harus Berarti Selalu Belajar
Ada satu hal yang juga perlu diluruskan ketika berbicara mengenai produktivitas siswa.
Produktif bukan berarti harus mengisi setiap waktu dengan belajar atau mengerjakan tugas.
Siswa tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat, bersosialisasi, dan menikmati hiburan. Media sosial pun dapat menjadi bagian dari kehidupan tersebut.
Yang menjadi persoalan adalah ketika hiburan mengambil alih waktu yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain.
Karena itu, manajemen diri bukan tentang melarang seseorang menikmati media sosial. Justru, kemampuan mengatur diri memungkinkan seseorang menikmati hiburan tanpa mengabaikan tanggung jawab.
Ada waktunya belajar. Ada waktunya beristirahat. Ada waktunya menggunakan media sosial.
Ketika seseorang mampu membedakan dan mengatur waktu tersebut, penggunaan media sosial dapat menjadi bagian dari kehidupan yang lebih seimbang.
Dari Mengikuti Kebiasaan Menjadi Mengatur Kebiasaan
Media sosial akan terus berubah. Platform baru dapat muncul, tren baru akan datang, dan jenis konten yang dikonsumsi juga akan terus berkembang.
Karena itu, membangun kebiasaan yang baik tidak cukup hanya dengan mengikuti aturan penggunaan satu aplikasi tertentu.
Yang lebih penting adalah membangun kemampuan dari dalam diri.
Siswa perlu belajar mengenali kebiasaannya sendiri, menentukan prioritas, mengatur waktu, dan memahami kapan sebuah aktivitas mulai mengganggu kegiatan lain.
Inilah yang menjadi dasar gagasan dalam perancangan kegiatan pengabdian yang berfokus pada pembangunan kebiasaan bermedia sosial yang produktif melalui manajemen diri yang terencana.
Tujuannya bukan menjadikan siswa sebagai orang yang sama sekali tidak menggunakan media sosial. Justru sebaliknya, siswa diharapkan dapat menjadi pengguna yang lebih sadar terhadap kebiasaan mereka sendiri.
Karena pada akhirnya, teknologi mungkin menyediakan banyak pilihan untuk kita gunakan, tetapi kitalah yang perlu menentukan pilihan mana yang sesuai dengan tujuan kita.
Media sosial tidak selalu harus dijauhi. Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk mengelolanya.
Dan kemampuan tersebut dimulai dari satu hal sederhana: mampu mengatur diri sendiri.

