Doom Spending: Ketika Belanja Menjadi Pelarian dari Kecemasan Masa Depan
Tulisan dari Mohamad Hasan Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belanja yang Tidak Selalu Berasal dari Kebutuhan
Berbelanja merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari. Mulai dari membeli kebutuhan pokok, pakaian, hingga barang yang diinginkan, setiap keputusan membeli umumnya didasarkan pada kebutuhan atau keinginan tertentu. Namun, dalam beberapa waktu terakhir muncul istilah baru yang mulai banyak diperbincangkan di berbagai media, yaitu doom spending.
Secara sederhana, doom spending adalah kecenderungan seseorang mengeluarkan uang sebagai respons terhadap rasa cemas, stres, atau ketidakpastian mengenai masa depan. Berbeda dengan belanja yang dilakukan karena benar-benar membutuhkan suatu barang, fenomena ini lebih didorong oleh kondisi emosional. Membeli sesuatu dianggap mampu memberikan rasa senang sesaat atau menjadi cara untuk mengalihkan pikiran dari berbagai kekhawatiran yang sedang dirasakan.
Fenomena ini menjadi semakin relevan di tengah situasi ekonomi yang dinamis, kenaikan biaya hidup, hingga derasnya arus informasi yang setiap hari memenuhi media sosial. Tanpa disadari, keputusan membeli terkadang bukan lagi tentang kebutuhan, melainkan tentang mencari rasa nyaman di tengah ketidakpastian.
Mengapa Doom Spending Bisa Terjadi?
Munculnya doom spending tidak dapat dilepaskan dari berbagai tekanan yang dihadapi masyarakat saat ini. Berita mengenai perlambatan ekonomi, meningkatnya biaya hidup, persaingan dunia kerja, hingga berbagai persoalan global dapat memunculkan rasa cemas yang berlangsung terus-menerus. Dalam kondisi seperti itu, sebagian orang mencari cara untuk mendapatkan perasaan yang lebih positif, salah satunya melalui aktivitas berbelanja.
Secara psikologis, membeli barang baru memang dapat memberikan kepuasan sementara. Ketika seseorang berhasil mendapatkan barang yang diinginkan, muncul perasaan senang yang dapat mengurangi stres untuk sesaat. Namun, efek tersebut sering kali tidak berlangsung lama. Setelah rasa senang menghilang, kecemasan yang sebelumnya dirasakan dapat kembali muncul sehingga mendorong keinginan untuk berbelanja lagi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat proses belanja menjadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel, seseorang dapat membeli berbagai produk tanpa harus keluar rumah. Kemudahan ini membuat keputusan membeli menjadi semakin spontan, terutama ketika dipadukan dengan promosi, potongan harga, atau layanan pembayaran yang praktis.
Peran Media Sosial dalam Mendorong Perilaku Konsumtif
Media sosial memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap fenomena doom spending. Setiap hari, pengguna disuguhkan berbagai konten mengenai gaya hidup, rekomendasi produk, hingga promosi yang dirancang untuk menarik perhatian. Tidak jarang, seseorang yang awalnya hanya ingin melihat media sosial justru berakhir membuka aplikasi belanja.
Selain itu, algoritma media sosial mampu menampilkan iklan yang sesuai dengan minat penggunanya. Ketika seseorang pernah mencari suatu produk, kemungkinan besar produk serupa akan terus muncul di berbagai platform. Paparan yang berulang ini dapat meningkatkan dorongan untuk membeli, meskipun barang tersebut sebenarnya belum menjadi kebutuhan.
Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu rasa khawatir tertinggal dari orang lain. Melihat teman atau kreator konten membeli barang tertentu dapat memunculkan keinginan untuk melakukan hal yang sama agar merasa tetap mengikuti tren. Akibatnya, keputusan membeli sering kali dipengaruhi oleh emosi dan tekanan sosial, bukan oleh pertimbangan kebutuhan yang sebenarnya.
Bukan Sekadar Boros, tetapi Cara Menghadapi Emosi
Banyak orang menganggap bahwa perilaku belanja berlebihan hanya berkaitan dengan kebiasaan konsumtif atau kurangnya kemampuan mengelola uang. Padahal, doom spending menunjukkan bahwa keputusan finansial juga sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis seseorang.
Hal ini bukan berarti setiap orang yang berbelanja ketika merasa stres pasti mengalami doom spending. Aktivitas membeli sesuatu yang memang telah direncanakan tetap merupakan bagian dari pengelolaan keuangan yang wajar. Yang menjadi perhatian adalah ketika belanja dilakukan berulang kali sebagai pelarian dari rasa cemas, sedih, atau tekanan hidup, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi finansial.
Karena itu, memahami alasan di balik keinginan untuk membeli menjadi langkah yang penting. Bertanya kepada diri sendiri, "Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau saya hanya sedang mencari hiburan sesaat?" dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih bijaksana.
Belajar Mengelola Keuangan di Tengah Ketidakpastian
Fenomena doom spending mengingatkan bahwa mengelola keuangan tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan mengendalikan emosi dalam mengambil keputusan. Menyusun anggaran, menetapkan prioritas kebutuhan, serta memberikan jeda sebelum melakukan pembelian dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi keputusan impulsif.
Di sisi lain, mencari cara lain untuk mengurangi stres, seperti berolahraga, membaca buku, berbincang dengan keluarga atau teman, maupun melakukan hobi, dapat menjadi alternatif yang lebih sehat dibandingkan menjadikan belanja sebagai pelarian.
Pada akhirnya, ketidakpastian merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Namun, bagaimana seseorang merespons ketidakpastian tersebut akan sangat memengaruhi kondisi finansialnya di masa depan. Doom spending bukan sekadar istilah baru dalam dunia keuangan, melainkan pengingat bahwa hubungan manusia dengan uang sering kali dipengaruhi oleh emosi. Dengan mengenali fenomena ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial, sehingga setiap pengeluaran benar-benar memberikan manfaat, bukan sekadar ketenangan yang hanya berlangsung sesaat.

