Scroll Terus, Tapi Sulit Fokus: Fenomena Brain Rot di Era Digital
Tulisan dari Mohamad Hasan Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membuka media sosial kini telah menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang memulai pagi dengan melihat TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts sebelum benar-benar memulai aktivitas. Di sela waktu belajar, bekerja, bahkan sebelum tidur, jari seolah bergerak otomatis menggulir layar demi menemukan video berikutnya. Aktivitas yang awalnya hanya berlangsung beberapa menit sering kali berubah menjadi puluhan menit tanpa disadari.
Popularitas konten berdurasi pendek memang bukan tanpa alasan. Video singkat menawarkan hiburan yang cepat, informasi yang padat, serta algoritma yang mampu menampilkan konten sesuai minat pengguna. Setiap video memberikan pengalaman baru sehingga pengguna terdorong untuk terus menggulir layar. Tanpa terasa, waktu yang dihabiskan di media sosial semakin panjang dari hari ke hari.
Di balik kemudahan tersebut, muncul istilah yang belakangan ramai diperbincangkan, yaitu brain rot. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengkonsumsi konten digital berkualitas rendah atau sangat cepat sehingga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir mendalam, dan mempertahankan perhatian dalam waktu yang lama. Meskipun bukan diagnosis medis, istilah ini menjadi refleksi atas kebiasaan digital yang semakin umum terjadi.
Mengapa Konten Pendek Sangat Sulit Ditinggalkan?
Setiap kali pengguna menggulir layar, selalu ada kemungkinan menemukan video yang lucu, mengejutkan, atau memberikan informasi baru. Rasa penasaran terhadap konten berikutnya membuat aktivitas scrolling terasa tidak ada habisnya. Algoritma media sosial juga dirancang untuk mempelajari kebiasaan pengguna sehingga konten yang muncul semakin sesuai dengan minat masing-masing.
Akibatnya, banyak orang mulai terbiasa menerima informasi dalam durasi yang sangat singkat. Ketika dihadapkan pada buku, artikel panjang, atau materi perkuliahan yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, sebagian orang merasa lebih cepat bosan atau kehilangan fokus. Padahal, kemampuan memahami suatu persoalan secara mendalam membutuhkan waktu, perhatian, dan proses berpikir yang tidak dapat digantikan oleh potongan-potongan informasi berdurasi beberapa detik.
Fenomena ini bukan berarti konten pendek selalu berdampak buruk. Banyak kreator memanfaatkan format tersebut untuk menyampaikan edukasi, berbagi pengetahuan, hingga meningkatkan literasi masyarakat. Namun, ketika seluruh waktu luang hanya diisi dengan konsumsi konten tanpa jeda, kemampuan otak untuk memproses informasi secara mendalam dapat berkurang.
Dampaknya Tidak Hanya pada Fokus
Kebiasaan mengkonsumsi konten pendek secara berlebihan tidak hanya memengaruhi kemampuan berkonsentrasi. Banyak orang mulai merasa gelisah ketika tidak memegang ponsel, sulit menikmati aktivitas tanpa membuka media sosial, bahkan merasa waktu berjalan sangat lambat ketika tidak ada hiburan digital. Kondisi ini membuat perhatian menjadi mudah terpecah dan produktivitas menurun.
Dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan, kemampuan untuk fokus dalam waktu yang cukup lama masih menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan. Membaca laporan, menyusun strategi, menganalisis data, atau menyelesaikan tugas kompleks memerlukan konsentrasi yang tidak dapat dibangun hanya dengan mengkonsumsi video singkat. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara hiburan digital dan aktivitas yang melatih fokus menjadi semakin penting.
Membangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Teknologi
Perkembangan teknologi tidak mungkin dihentikan, begitu pula dengan hadirnya berbagai platform media sosial. Yang dapat dikendalikan adalah cara kita menggunakannya. Menentukan batas waktu penggunaan media sosial, meluangkan waktu untuk membaca buku atau artikel panjang, serta membiasakan diri melakukan aktivitas tanpa gangguan gawai dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kualitas perhatian.
Selain itu, pengguna juga perlu lebih selektif dalam memilih konten yang dikonsumsi. Media sosial dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat apabila digunakan untuk mengikuti akun-akun edukatif, memperoleh informasi yang kredibel, atau mengembangkan keterampilan baru. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga alat untuk memperkaya pengetahuan.
Fokus Adalah Keterampilan yang Harus Dijaga
Fenomena brain rot bukan berarti media sosial adalah musuh yang harus dijauhi. Kehadiran teknologi telah membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kemudahan memperoleh hiburan secara instan tidak boleh membuat kita kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mendalam, berkonsentrasi, dan menikmati proses belajar.
Di era ketika perhatian menjadi komoditas yang diperebutkan oleh berbagai platform digital, kemampuan untuk tetap fokus justru menjadi salah satu keterampilan yang paling berharga. Karena itu, tantangan terbesar bukanlah menghentikan kebiasaan scrolling, melainkan memastikan bahwa kita tetap menjadi pihak yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.

