Konten dari Pengguna

Otoritas 'Keberagamaan' Artificial Intelligence

Hasan Shahab

Hasan Shahab

Technopreneur. Co founder perusahaan konsultan, training dan sertifikasi data science dan AI. Ketua Asosiasi Data Science dan Artificial Intelligence (ASDASI)

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hasan Shahab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok: AI
zoom-in-whitePerbesar
Dok: AI

Sejarawan Yuval Noah Harari, ketika berbicara pada forum World Economic Forum (WEF) 2026, memprediksi bahwa segala sesuatu yang sebagian besar terdiri dari kata-kata, seperti sistem hukum, buku, dan bahkan agama, akan diambil alih oleh Kecerdasan Buatan tau Artificial Intelligence (AI).

Ia secara khusus menyoroti bagaimana AI dapat menjadi otoritas tertinggi dalam "agama-agama kitab suci" seperti Yudaisme, Kristen dan Islam. Dalam berbagai kesempatan, ia menggambarkan agama seolah-olah hanya seperangkat narasi atau cerita yang tertulis dalam kitab suci.

Bagi Harari, agama adalah konstruksi linguistik yang dapat dianalisis, dibongkar, dan bahkan digantikan oleh narasi-narasi baru, termasuk yang diciptakan oleh AI. Pemikiran ini berakar pada apa yang oleh Muhammad U. Faruque, Associate Professor University of Cincinnati, disebut sebagai "dataisme", sebuah ideologi yang mereduksi realitas menjadi pemrosesan data dan algoritma.

Pandangan Harari ini mengandung kelemahan mendasar yaitu mengabaikan bahwa agama adalah pengalaman hidup, bukan sekadar teks. Jika kita melihat tradisi Islam, misalnya, kita menemukan kekayaan luar biasa dalam tasawuf (mistisisme Islam) dan pendekatan rasional-filosofis yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim sepanjang sejarah. Dalam tradisi ini, teks kitab suci bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Teks memerlukan pembaca, penafsir, dan yang terpenting adalah pengalaman spiritual yang menghidupinya.

Agama hidup dalam ritual yang dijalani, dalam doa yang diucapkan dengan khusyuk, dalam pencarian makna di tengah penderitaan, dalam pengalaman transendensi yang tak bisa sepenuhnya ditangkap oleh kata-kata. Keagamaan melalui tradisi oral yang diwariskan dari guru kepada murid, dari orang tua kepada anak, membangun komunitas yang saling menguatkan dalam iman.

Semua dimensi ini—pengalaman, praksis, tradisi hidup—luput dari radar Harari yang terlalu fokus pada aspek tekstual dan naratif agama.

Paradoks di Era Digital

Namun, ada ironi yang perlu kita hadapi dengan jujur. Meskipun secara esensial agama adalah pengalaman dan bukan sekadar teks, ketika agama dimasyarakatkan dan dipraktikkan oleh jutaan orang awam, ia sering tereduksi menjadi pertanyaan tentang otoritas interpretasi.

Di sinilah paradoks dimulai. Kebanyakan orang tidak memiliki waktu, kapasitas, atau minat untuk mendalami dimensi spiritual dan intelektual agama. Mereka mencari jawaban cepat: "Apakah ini halal atau haram?" "Bagaimana cara salat yang benar?" "Apa hukum Islam tentang ini?" Dalam kehidupan modern yang serba cepat, pertanyaan-pertanyaan ini menuntut jawaban yang instan dan pasti. Dan di sinilah AI menemukan peluang emasnya.

Seorang Muslim muda, misalnya, ketika menghadapi dilema etis. Alih-alih pergi ke ulama atau membaca kitab-kitab fikih yang tebal, ia membuka ChatGPT atau AI chatbot keagamaan khusus. Dalam hitungan detik, ia mendapat jawaban yang terstruktur rapi, lengkap dengan dalil dan penjelasan.

Jawaban AI terdengar otoritatif. Ia mengutip ayat-ayat Al-Quran, hadits, bahkan pendapat ulama klasik. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami. Tidak ada judgment, tidak ada tatapan menghakimi, tidak ada rasa canggung seperti ketika bertanya pada tokoh agama.

Lama-kelamaan, orang tersebut—dan jutaan orang lainnya—mulai lebih percaya pada AI daripada pada otoritas keagamaan tradisional. AI tidak pernah lelah, tidak pernah tidak tersedia, tidak pernah bias (setidaknya begitu persepsinya), dan yang paling penting: AI memberikan ilusi objektivitas.

Inilah yang kita sebut sebagai AI authority—ketika kecerdasan buatan mulai mengambil alih peran tradisional para ulama, pendeta, rabi, atau pemuka agama lainnya sebagai sumber otoritas keagamaan.

Ancaman ini berbahaya bukan karena AI memberikan jawaban yang salah (meskipun itu juga risiko nyata), tetapi karena ia melewatkan dimensi pengalaman yang justru merupakan jantung agama. Ketika seseorang bertanya kepada seorang guru agama, yang terjadi mestinya bukan hanya transfer informasi.

Ada transmisi kebijaksanaan, ada pembacaan konteks kehidupan si penanya, ada empati, ada bimbingan personal yang disesuaikan dengan kondisi spiritual individu tersebut. Seorang mursyid (guru spiritual) dalam tasawuf tidak hanya menjawab pertanyaan; ia membimbing murid melalui perjalanan spiritual yang unik.

AI tidak dapat—dan tidak akan pernah bisa—menggantikan dimensi relasional dan eksperiensial ini. AI dapat memproses teks dengan sempurna, tetapi ia tidak pernah mengalami rindu kepada Tuhan, tidak pernah merasakan kehadiran-Nya dalam sujud yang panjang, tidak pernah bergumul dengan pertanyaan eksistensial di tengah malam yang sunyi.

Lebih jauh lagi, AI dilatih dengan data yang ada—termasuk bias, interpretasi dominan, dan kadang bahkan informasi yang keliru. Ketika AI menjadi otoritas, kita berisiko mengalami homogenisasi pemahaman agama, hilangnya keragaman interpretasi yang kaya, dan terputusnya rantai transmisi pengetahuan spiritual yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Ini yang dikhawatirkan Navneet Alang, jurnalis teknologi dari Kanada, bahwa bahaya terbesar AI bukanlah mesin yang tiba-tiba menjadi super cerdas dan menguasai dunia, melainkan keyakinan buta kita sendiri pada narasi bahwa AI adalah solusi pamungkas atau semacam "dewa" yang akan menjawab semua masalah manusia. Kini AI sering dilihat sebagai "jalan pintas" menuju kebenaran objektif atau makna tertinggi. Padahal obsesi pada efisiensi dan hasil instan ini justru bisa berakibat fatal dan menghilangkan esensi dari pencarian itu sendiri.

Meski belum ada riset khusus di Indonesia yang menjadikan AI sebagai otoritas keagamaan utama, tapi ada berbagai indikator yang bisa berpotensi mengarah ke sana. Survei Lembaga Survei Indonesia (2022) menunjukkan 64% pengguna internet mengakses konten keagamaan via media sosial. Riset PPIM UIN Jakarta (2021) - "Beragama ala Anak Muda" menunjukkan 64,66% Gen Z menjadikan media sosial sebagai sumber pengetahuan agama.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Ancaman ini bukan berarti kita harus menolak teknologi atau melarang penggunaan AI dalam konteks keagamaan. Sebaliknya, kita perlu mengembangkan literasi kritis tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh AI.

Pertama, kita harus terus menekankan bahwa agama adalah pengalaman hidup, bukan sekadar informasi. Pengetahuan tentang agama berbeda dari pemahaman agama, dan pemahaman berbeda dari penghayatan.

Kedua, kita perlu mendidik masyarakat untuk memahami keterbatasan AI. AI dapat membantu sebagai alat bantu awal, tetapi tidak dapat menggantikan bimbingan spiritual yang otentik.

Ketiga, para pemuka agama dan institusi keagamaan perlu beradaptasi dengan era digital tanpa kehilangan esensi. Mereka harus lebih mudah diakses, lebih relevan, dan lebih mampu berkomunikasi dengan generasi digital—tanpa mengorbankan kedalaman spiritual.

Keempat, kita harus waspada terhadap komersialisasi AI yang membawa serta ideologi Dataisme.

Di era AI ini, penting peran pemuka dan institusi agama menjadi pembimbing spiritual masyarakat melalui pengalaman dan teladan (menjadi role model) untuk menjadi manusia sejati. AI mengancam untuk mengambil alih otoritas keberagamaan jika agama hanya disajikan literal tanpa kedalaman makna dan dakwah khotbah penuh kata minim hikmah.