Bukan Sekadar Ikut Tren, Strategi UMKM Bertahan di Era AI
Tulisan dari Hasbi Azizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dibuat oleh: Dimas Prayoga, Diska Amalia Putri, Evania Anggraeni, dan Hasbi Azizi
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membuka cara baru bagi pelaku usaha dalam menjalankan bisnis. Teknologi ini dapat membantu mencari peluang pasar, membuat materi promosi, memahami kebutuhan konsumen, hingga meningkatkan efisiensi operasional. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perubahan tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin kompetitif.
Pada 15 Oktober 2026, Kementerian Perdagangan mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan AI dalam mengembangkan usaha. Pemanfaatannya mencakup pencarian pasar potensial, pembuatan konten promosi, penerjemahan deskripsi produk, dan komunikasi dengan calon pembeli. Dorongan tersebut disampaikan dalam forum bisnis “Go Global with AI: Unlocking New Markets with Meta Indonesia” di Kabupaten Tangerang, Banten.
Informasi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi bukan lagi sekadar pilihan tambahan bagi pelaku usaha. Teknologi dapat menjadi salah satu bagian penting dari strategi bisnis untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing.
Sumber: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, 15 Oktober 2026. [Baca siaran pers resmi](https://www.kemendag.go.id/berita/siaran-pers/mendag-busan-ajak-pelaku-umkm-manfaatkan-ai-untuk-kembangkan-usaha).
Persaingan Bisnis Kini Tidak Hanya Mengandalkan Harga
Perubahan perilaku konsumen membuat pelaku usaha harus lebih memahami cara pelanggan mencari informasi dan menentukan pilihan. Konsumen dapat membandingkan harga, kualitas, ulasan, dan pelayanan dari berbagai penjual hanya melalui telepon genggam.
Situasi ini membuat persaingan bisnis tidak cukup dimenangkan dengan menawarkan harga murah. Pelaku usaha juga perlu memiliki keunggulan yang membedakan produknya dari pesaing.
Sebagai contoh, usaha makanan rumahan dapat membangun keunggulan melalui kualitas rasa, kemasan yang menarik, pelayanan yang cepat, dan konsistensi produk. Sementara itu, bisnis pakaian dapat memperkuat daya saing melalui desain yang khas, informasi ukuran yang jelas, serta pelayanan yang membantu konsumen menentukan pilihan.
Di sinilah manajemen strategi memiliki peran penting. Pelaku usaha perlu memahami kondisi bisnisnya, mengenali kebutuhan konsumen, menganalisis pesaing, dan menentukan langkah yang paling sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.
AI Membuka Peluang, tetapi Strategi Tetap Menentukan
Salah satu tantangan UMKM adalah keterbatasan waktu, tenaga kerja, dan anggaran pemasaran. Dalam kondisi tersebut, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan secara lebih efisien.
Pelaku usaha, misalnya, dapat menggunakan AI untuk mencari ide konten promosi, menyusun deskripsi produk, mengidentifikasi karakteristik calon konsumen, dan merancang beberapa alternatif kampanye pemasaran. Hasilnya tetap perlu diperiksa agar sesuai dengan fakta, karakter merek, serta kebutuhan pelanggan.
Namun, menggunakan teknologi tanpa tujuan yang jelas tidak otomatis meningkatkan keuntungan. Konten promosi yang menarik belum tentu menghasilkan penjualan apabila produk tidak sesuai dengan kebutuhan pasar atau harga yang ditawarkan tidak kompetitif.
Karena itu, penerapan AI perlu dimulai dari masalah yang ingin diselesaikan. Jika kendala utama adalah promosi yang kurang efektif, teknologi dapat diarahkan untuk membantu pembuatan dan evaluasi konten. Jika masalahnya terletak pada pelayanan, pelaku usaha dapat mempertimbangkan penggunaan alat bantu untuk menyusun jawaban atas pertanyaan pelanggan.
Pendekatan ini membuat teknologi menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar mengikuti tren.
Manajemen Strategi Membantu UMKM Menentukan Arah
Dalam menghadapi perubahan pasar, manajemen strategi dapat membantu pelaku usaha menentukan prioritas dan menggunakan sumber daya secara lebih tepat. Prosesnya dapat dimulai dengan mengevaluasi kondisi internal, kemudian menganalisis peluang serta ancaman dari lingkungan eksternal.
UMKM perlu mengetahui produk yang paling diminati, biaya yang paling besar, karakteristik pelanggan, dan keunggulan yang dimiliki. Setelah itu, pemilik usaha dapat menetapkan sasaran yang realistis, seperti meningkatkan pembelian berulang, memperluas jangkauan pemasaran, atau mengurangi biaya promosi yang kurang efektif.
Strategi yang dipilih juga harus memiliki ukuran keberhasilan. Peningkatan jumlah pengikut di media sosial, misalnya, tidak selalu berarti bisnis mengalami pertumbuhan. Pelaku usaha perlu melihat apakah aktivitas digital tersebut benar-benar mendorong pertanyaan pelanggan, pesanan, keuntungan, dan loyalitas konsumen.
Dengan demikian, keputusan bisnis tidak hanya didasarkan pada perkiraan, tetapi juga pada hasil evaluasi yang terukur.
Jangan Sampai Teknologi Mengalahkan Kualitas Produk
Meskipun menawarkan berbagai kemudahan, AI tetap memiliki keterbatasan. Informasi yang dihasilkan dapat keliru, rekomendasi belum tentu sesuai dengan kondisi pasar, dan konten yang dibuat secara otomatis dapat terasa seragam jika tidak disesuaikan dengan identitas bisnis.
Pelaku usaha juga harus menjaga kepercayaan pelanggan dengan menggunakan informasi produk yang akurat dan melindungi data pribadi konsumen. Teknologi seharusnya mendukung kualitas pelayanan, bukan menggantikan tanggung jawab pemilik usaha dalam memastikan kepuasan pelanggan.
Oleh sebab itu, penggunaan AI perlu diimbangi dengan kreativitas, kemampuan analisis, pemahaman pasar, dan pengawasan manusia. Keunggulan bisnis tetap dibangun melalui kualitas produk, kepercayaan konsumen, serta kemampuan memberikan solusi yang relevan.
Evaluasi Menjadi Kunci agar Bisnis Terus Berkembang
Strategi bisnis tidak berhenti ketika rencana pemasaran dijalankan. Pelaku UMKM perlu memantau hasilnya secara berkala untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil benar-benar memberikan manfaat.
Evaluasi dapat dilakukan dengan membandingkan biaya promosi dan hasil penjualan, mengamati respons pelanggan, serta mencatat produk yang paling banyak diminati. Jika suatu strategi tidak memberikan hasil yang diharapkan, pelaku usaha perlu memperbaikinya atau mencoba pendekatan lain.
Langkah sederhana seperti pencatatan penjualan dan pengeluaran secara rutin dapat membantu pemilik usaha memahami kondisi keuangan. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan anggaran pemasaran, mengelola persediaan, dan merencanakan pengembangan produk.
Kebiasaan mengevaluasi keputusan membuat bisnis lebih adaptif terhadap perubahan. Dengan begitu, UMKM tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga dapat memanfaatkannya untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Kesimpulan: Bersaing dengan Strategi, Bukan Sekadar Teknologi
Perkembangan AI memberikan peluang bagi UMKM untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat pemasaran, dan menjangkau konsumen yang lebih luas. Namun, teknologi saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan sebuah usaha.
Manajemen strategi tetap dibutuhkan agar pemanfaatan teknologi memiliki arah, sasaran, dan ukuran keberhasilan yang jelas. Pelaku usaha harus mampu mengenali keunggulan bisnis, memahami kebutuhan pelanggan, mengelola keuangan, serta mengevaluasi hasil dari setiap keputusan.
Pada akhirnya, UMKM yang mampu bertahan dan berkembang bukan hanya usaha yang paling cepat mengikuti tren, melainkan usaha yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan kualitas dan kepercayaan pelanggan. Teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat bisnis, tetapi strategi yang tepatlah yang membantu menentukan arah perkembangannya.

