Konten dari Pengguna

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi : Apa yang Sebenarnya Terjadi ?

Hasbi ash siddiqi

Hasbi ash siddiqi

Mahasiswa fakultas dirosat islamiyyah Uin jakarta

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hasbi ash siddiqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi erupsi gunung anak Krakatau. foto: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi erupsi gunung anak Krakatau. foto: pixabay.com

Pada 4 September 2026 mulai pukul 11.00 malam WIB, kita dikejutkan dengan sebuah kejadian alam. Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi besar yang kemudian berlangsung secara terus-menerus selama kurang lebih 25 jam setelahnya.

Peristiwa ini juga mengakibatkan terlontarnya abu vulkanik dalam jumlah besar. Abu vulkanik tersebut bahkan sampai mengganggu penerbangan dan aktivitas warga.

Karena abunya sendiri menyebar ke wilayah yang cukup jauh. Mulai dari Lampung, Jawa Barat, Jakarta, bahkan sampai ke Jawa Tengah meskipun jumlahnya relatif sedikit.

pada pembahasan kali ini kita akan merangkum informasi mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau. Sumber utamanya berasal dari sumber-sumber primer, terutama dari Badan Geologi, lebih tepatnya PVMBG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian ESDM.

Kita juga akan membahas beberapa hal penting. Mulai dari bagaimana sebenarnya kronologi erupsinya, kenapa Gunung Anak Krakatau bisa kembali aktif, potensi erupsi lanjutan, potensi tsunami, sampai dampak abu vulkanik dan gas yang dilepaskan selama erupsi.

Sebenarnya, Badan Geologi sudah meningkatkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level 3 atau Siaga sejak 2 Juli 2026, Hal ini karena memang sudah mulai muncul aktivitas erupsi secara berkala.

Adapun aktivitas yang cukup besar mulai terjadi pada 4 September 2026 pukul 11.00 malam WIB dan terus berlangsung hingga 6 September 2026. Setelah itu aktivitasnya mulai mengalami penurunan, meskipun Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas.

Kalau kita melihat aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau dalam 90 hari terakhir, kita juga bisa melihat bahwa aktivitasnya memang cenderung meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Kemudian kalau kita melihat citra satelitnya, perubahannya bahkan terlihat lebih jelas. Pada 4 September sekitar pukul 11.00 malam, mulai terlihat lontaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. Dan proses ini kemudian terus berlanjut. Untuk pergerakan abu vulkaniknya sendiri, sebagian besar bergerak ke arah samudra, Bukan menuju ke arah permukiman.

Meskipun begitu, dalam prosesnya tetap ada sebagian abu vulkanik, terutama yang berada di ketinggian relatif rendah, yang kemudian menyebar ke wilayah sekitar. Pada 5 September, aktivitas ini masih terus berlangsung. Abu vulkanik masih dikeluarkan dari gunung.

Kemudian pada 6 September, aktivitas keluarnya abu vulkanik sempat mengalami penurunan. Namun sampai sekarang aktivitasnya masih ada dan penyebarannya terlihat cenderung semakin luas. Inilah yang kemudian menyebabkan abu vulkanik menyebar dan mengganggu penerbangan serta aktivitas warga.

Kenapa Gunung Anak Krakatau tiba-tiba aktif sekarang?

Nah, sebenarnya Gunung Anak Krakatau tidak benar-benar tiba-tiba aktif, Teman-teman.

Kembali lagi, kita harus ingat bahwa Indonesia berada di wilayah Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Ini merupakan wilayah yang berada di sekitar pertemuan lempeng-lempeng tektonik bumi sehingga Indonesia memiliki banyak gunung api.

Untuk Krakatau sendiri, gunung ini berada di wilayah pertemuan lempeng yang aktif. Aktivitas tektonik tersebut berkaitan dengan proses terbentuknya magma di dalam bumi, dan magma inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor yang membuat gunung api tetap aktif.

Dan kalau kita kembali melihat sejarahnya, jauh sebelum ada Gunung Anak Krakatau, sebenarnya sudah ada induknya, yaitu Gunung Krakatau.

Gunung Krakatau mengalami letusan yang sangat dahsyat pada tahun 1883. Letusan tersebut bahkan dikenal sebagai salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah dan menghasilkan suara yang terdengar hingga wilayah yang sangat jauh.

Setelah letusan besar tersebut, bagian tubuh Gunung Krakatau runtuh. Kemudian pada awal 1900-an mulai muncul gunung baru dari kawasan tersebut yang kemudian kita kenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Karena aktivitas magmanya masih berlangsung di bawah sana, Gunung Anak Krakatau pun tetap menjadi gunung api yang aktif. Jadi, kalau dilihat dari sistem vulkaniknya, sebenarnya Krakatau dan Anak Krakatau masih berada dalam satu sistem vulkanik. Bedanya terutama ada pada bentuk fisiknya.

Dengan kata lain, Anak Krakatau ini bukan gunung yang benar-benar muncul tanpa hubungan dengan Krakatau sebelumnya. Ia merupakan bagian dari sistem vulkanik Krakatau yang masih aktif. Kemudian setelah letusan besar Krakatau pada 1883, salah satu peristiwa besar berikutnya terjadi pada tahun 2018.

Saat itu Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dan sebagian tubuh gunungnya longsor ke laut. Longsoran tersebut kemudian memicu tsunami yang menyebabkan ratusan orang meninggal dunia.

Apakah erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini juga berpotensi menyebabkan tsunami ?

Berdasarkan laporan Badan Geologi, untuk aktivitas Gunung Anak Krakatau kali ini tidak ada ancaman tsunami yang teridentifikasi dan kemungkinan terjadinya tsunami dinilai kecil.

Analisis dari Jepang, melalui JMA, juga menyampaikan hal yang serupa.

Jadi, aktivitas erupsi kali ini sebenarnya masih berada dalam konteks aktivitas Gunung Anak Krakatau yang memang merupakan gunung api aktif dan memiliki frekuensi erupsi yang cukup tinggi.

Status bahayanya sendiri saat ini berada di Level 3 atau Siaga, Dan sebenarnya, selain Gunung Anak Krakatau, saat ini juga ada beberapa gunung api lain yang berada pada Level 3 atau Siaga. Salah satunya adalah Gunung Semeru.

Level 3 ini merupakan satu tingkat di bawah Level 4 atau Awas. Artinya, tidak perlu panik, Namun bukan berarti kita boleh mengabaikannya.

Dalam kondisi Level 3, terdapat wilayah yang harus dihindari dari aktivitas masyarakat. Untuk Gunung Anak Krakatau sendiri, Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat, pengunjung, maupun wisatawan tidak mendekati kawasan gunung dan tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif

di tinjau daru kondisi erupsi dan potensi tsunaminya, sejauh ini tidak ada indikasi ancaman tsunami dari aktivitas yang sedang berlangsung.

Tapi ada satu hal lain yang juga sangat penting untuk kita perhatikan, yaitu abu vulkanik. Mungkin sebagian orang mengira abu vulkanik itu hanya seperti debu biasa. Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu.

ilustrasi abu vulkanik yang menyebar ke pemukiman warga. foto: pixabay.com

Kalau abu vulkanik dilihat menggunakan mikroskop, kita bisa melihat bahwa material ini terdiri dari pecahan kaca vulkanik, batuan, dan mineral yang bentuknya tajam.

Itulah sebabnya ketika terhirup, abu vulkanik bisa terasa tidak nyaman dan menyebabkan iritasi. Jika paparannya cukup banyak, abu vulkanik juga dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan.

Maka dari itu untuk masyarakat yang wilayahnya terdampak abu vulkanik, sangat disarankan untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Setidaknya masker dapat membantu mengurangi jumlah partikel abu yang masuk ke saluran pernapasan. Dan ternyata, persoalan abu vulkanik bukan hanya soal kesehatan manusia.

ilustrasi penerbangan pesawat yang terganggu abu vulkanik. foto: pixabay.com

Abu vulkanik juga bisa menjadi masalah yang sangat serius bagi penerbangan. Inilah salah satu alasan mengapa ketika abu vulkanik berada di jalur penerbangan, pesawat bisa dilarang terbang atau penerbangan harus dibatalkan.

Dalam erupsi Anak Krakatau kali ini, ketinggian abu vulkaniknya disebut dapat mencapai sekitar 15 kilometer.

15 kilometer itu tinggi sekali, Ketinggian tersebut sudah berada pada wilayah yang dapat bersinggungan dengan jalur terbang pesawat. Masalahnya, abu vulkanik bukan hanya sekadar debu yang beterbangan.

Ketika partikel abu vulkanik masuk ke dalam mesin jet pesawat, suhu mesin yang sangat tinggi dapat membuat material tersebut meleleh. Setelah bergerak menuju bagian turbin yang lebih dingin, material tersebut kemudian dapat membeku kembali dan menempel pada komponen mesin.

Hal ini dapat mengganggu kerja mesin dan menyebabkan daya dorong pesawat menurun. Dalam kondisi yang lebih parah, mesin bahkan bisa kehilangan tenaga atau mati.

Salah satu kasus terkenal terjadi pada pesawat KLM 867 pada tahun 1989. Saat itu pesawat terbang menembus awan abu vulkanik dan keempat mesin jetnya mengalami kegagalan di udara. Untungnya, pesawat tersebut akhirnya berhasil melakukan pendaratan darurat.

Itulah sebabnya ketika abu vulkanik berada dalam jumlah besar, apalagi sampai berada pada ketinggian jelajah pesawat, penerbangan harus benar-benar memperhatikan kondisi tersebut.

Jadi, kalau kita melihat ada penerbangan yang dibatalkan akibat abu vulkanik, sebenarnya itu bukan keputusan yang berlebihan. Ada alasan keselamatan yang sangat serius di baliknya.

Selain abu vulkanik, ada satu hal lagi yang juga perlu kita perhatikan dari sebuah erupsi, yaitu gas vulkanik.

Dalam proses erupsi, gunung api biasanya juga melepaskan berbagai jenis gas, salah satunya adalah SO₂ atau sulfur dioksida. Gampangnya, kita bisa menyebutnya sebagai gas yang berkaitan dengan belerang.

Dalam erupsi Gunung Anak Krakatau, gas SO₂ juga dilepaskan dalam jumlah yang cukup besar. Dampak SO₂ ini secara umum bisa kita lihat dari dua sisi.

Pertama, dampaknya terhadap iklim.

Ketika berada di atmosfer, SO₂ dapat mengalami reaksi dan menghasilkan aerosol sulfat, termasuk aerosol asam sulfat. Partikel-partikel tersebut dapat memantulkan sebagian cahaya matahari sehingga jumlah radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi bisa berkurang.

Dalam jumlah yang sangat besar, proses seperti ini dapat memengaruhi suhu dan sistem iklim. Selain itu, proses kimia di atmosfer juga dapat berkontribusi terhadap terbentuknya hujan yang lebih asam.

Tapi untuk erupsi Anak Krakatau kali ini, jumlah SO₂ yang dilepaskan masih berada di bawah ambang yang diperlukan untuk memberikan pengaruh signifikan terhadap iklim global.

Jadi, tidak berarti erupsi kali ini akan mengubah iklim bumi. Namun, bukan berarti gas tersebut sama sekali tidak perlu diperhatikan. Dampak pada kondisi atmosfer lokal tetap mungkin terjadi.

Kemudian yang kedua adalah dampaknya terhadap manusia.

Gas SO₂ dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan membuat seseorang mengalami rasa tidak nyaman.