Hukum Keluarga di Rumah Kita: Urusan Belanja hingga Tanda Tangan Rapor

Saya Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hashinatul Aulia Hilma Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hukum sering kali dibayangkan sebagai urusan pengadilan yang rumit. Padahal, hukum khususnya hukum keluarga hadir setiap hari di dalam rumah kita. Aturan ini mengikat kita sejak membuka mata hingga mengatur masa depan seluruh anggota keluarga.
Berikut adalah contoh nyata bagaimana hukum keluarga bekerja dalam kehidupan kita sehari-hari:
1. Urusan Belanja dan Harta Bersama
Saat suami atau istri membeli barang seperti kendaraan atau rumah dari uang gaji, aset tersebut otomatis menjadi Harta Bersama menurut undang-undang perkawinan. Konsekuensi hukumnya, barang tersebut tidak bisa dijual secara sepihak. Menjual atau menggadaikan aset ini wajib mendapatkan persetujuan tertulis dari pasangan agar transaksi sah di mata hukum.
2. Menandatangani Rapor Anak
Aktivitas sederhana seperti mengantar anak ke sekolah atau menandatangani rapor adalah wujud pelaksanaan hukum. Negara melalui undang-undang mewajibkan orang tua untuk mengasuh, mendidik, dan melindungi anak mereka. Mengabaikan tanggung jawab ini bisa dikategorikan sebagai tindakan penelantaran anak yang memiliki sanksi hukum yang serius.
3. Kehadiran Dokumen Resmi
Mengurus Akta Kelahiran anak atau Kartu Keluarga (KK) adalah bagian penting dari hukum keluarga. Dokumen-dokumen ini bukan sekadar kertas administrasi biasa. Dokumen resmi tersebut merupakan bukti legalitas hubungan orang tua dan anak agar hak anak, seperti jaminan kesehatan, pendidikan, dan hak waris, diakui dan dilindungi oleh negara.
4. Pembagian Warisan yang Adil
Urusan warisan sering kali menjadi topik sensitif dan memicu konflik. Hukum keluarga hadir untuk mengatur porsi pembagian harta secara adil, baik melalui jalur hukum agama (seperti KHI bagi Muslim) maupun hukum perdata barat (KUHPerdata). Aturan ini memastikan tidak ada ahli waris yang dirugikan atau kehilangan haknya secara sepihak.
Kesimpulan
Hukum keluarga sebenarnya bukan dibuat untuk mengekang kebebasan kita, melainkan hadir sebagai jaring pengaman. Memahami dasar-dasar hukum keluarga akan membantu kita melindungi hak pasangan maupun anak, sehingga keharmonisan rumah tangga tetap berjalan di atas landasan hukum yang aman.
