Kampung dan Kota: Hidup adalah Pilihan

Dosen Tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Unggul Indonesia, Pekanbaru, Riau
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mara Ongku Hsb tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang yang sudah merantau sudah tinggal bertahun-tahun di kota bahkan sudah dapat segalanya, namun ia masih ada rasa takut entah apa yang mengganjal di hatinya, tapi tersurat ada keinginan balik kampung karena di kampung kehidupan jauh lebih damai dibanding kehidupan keriuhan kota menurut sebagian perantau.
Sebaliknya orang yang di kampung pun ada rasa gelisah juga tidak mau selamanya di desa takut dibilang tidak ada pengalaman sehingga rasa takut ini membuat seseorang ingin pergi merantau bahkan nekat merantau tanpa ada keluarga di kota pun memberanikan diri untuk mencari pengalaman hidup bahkan mencari kehidupan yang lebih layak dan mapan dari sebelumnya.
Pergualatan batin di atas dialami setiap orang karena dihadapkan dua pilihan, benar kata orang bahwa hidup ini memang pilihan tidak bisa kita genggam semuanya dari sini menunjukkan bahwa manusia itu memang lemah tidak bisa mengendalikan semuanya.
Terlepas dari pilihan hidup di atas, sebaiknya setiap orang bijak dan berpikir ulang dan matang pilihan mana yang ia ambil supaya tidak ada rasa menyesal di dalam hati sanubarinya. Jelas ada kelebihan dan kekurangannya kalau hidup merantau di antara kelebihannya dapat pengalaman hidup yang lebih luas mengerti tentang kemandirian, mengerti tata kota yang luas tersebut bertemu berbagai jenis suku karakter dan kepribadian manusia. Sedangkan kelemahannya saat ia kembali ke kampungnya seorang seperti antara ada dan tidak ada tidak dianggap.
Semua sadar bahwa kehidupan di kampung sangat kuat solidaritas dan tolong menolong dalam catatan sebagian di desa tersebut mereka mau habis-habisan membantu apabila yang dibantu ada feedback-nya artinya melakukan yang sama kepada setiap orang selalu ikut serta dalam kegiatan-kegiatan acara adat, agama, sosial di desa tersebut.
Apabila mulai menjauh dari kegiatan adat, sosial sebut saja misalnya orang yang hidupnya habis di kota akan sedikit yang membantu bila saatnya ia tiba melaksanakan acara-acara di desanya seperti pesta, syukuran dan lain sebagainya karena kehidupan adat di desa biasanya tidak mau habis-habisan membantu kalau mereka hanya dapat lelah saja sementara orang yang punya hajat selesai acaranya ia pun bertolak lagi ke kota. Orang-orang yang dahulu dimintainya bantuan tenaga di kampung, kini hanya dapat ia balas dengan ucapan terima kasih. Jarak yang begitu jauh membuatnya tak lagi mudah membalas kebaikan mereka dengan cara yang sama
Kelebihan kehidupan di desa tentu sangat banyak manfaatnya bagaimana pun seseorang hebatnya di kota ia berasal dari desa. Leluhur-leluhurnya berasal dari desa kehidupan di desa sangat menyenangkan bagi setiap orang, apalagi pecinta desa kalau ia menikmati tidak ada kehidupan yang lebih indah lagi baginya walaupun kehidupan kota menjulang tinggi bangungunannya sampai mencakar ke langit. Di desa ia cukup ke sawah, ke kebun, mencari ikan di sungai pulang sore bawa ikan ke rumah sudah sangat sempurna. Namun berbicara kota ia mungkin terlambat sedikit di belakang
Keadaan sekarang antara desa dan kota sudah hampir sama apa yang ada di kota sekarang ada di desa mungkin ini pengaruh perkembangan zaman, di desa juga sudah hampir semua serba beli sudah jarang yang tanam-tanam sendiri untuk makan di rumah.
Menanggapi dua pergulatan batin di atas ada juga sebagian merancang hidupnya kalau ia sudah pensiun kerja di kota akan kembali ke kampung dari sejak muda ia mulai menabung untuk membeli kebun di desanya sehingga suatu saat pulang kampung ia sudah sederajat dengan mereka di desa.
Ada pula sebagian badannya terbagi dua setengah di desa setengah di kota maksudnya ia bolak balik kampung ia bekerja di kota juga punya aset di desa, kehidupan sosial kemasyarakatan di desa akan terikuti dan ia akan diperhitungkan di kampung halamannya, orang seperti hal tersebut biasanya punya kecukupan harta yang mapan sehingga berani putar balik kota ke kampung setiap minggunya.
Siapa yang tidak mau seperti itu karena merasakan dua sekaligus rasa hidup di kota dan di desa kalau dapat pasti suatu nikmat yang luar biasa karena dapat ilmu dan pengalaman yang banyak. Siapa pun yang tidak bisa bolak balik kampung pada intinya tiba saatnya pulang kampung harus pulang seperti hari lebaran bagaimana pun kondisi ekonomi di kota diupayakan agar bisa pulang kampung di sana keluarga sangat menunggu setiap perantau.
Begitu juga kalau kehidupannya di desa belajarlah mencari pengalaman ke kota namun tidak melupakan desanya seperti kata pepatah gantungkan cita-citamu setinggi langit tapi kaki tetap berpijak di bumi, tidak boleh melupakan asal, dan tidak boleh bersifat sombong kalau sudah sukses di kota.[]
