Konten dari Pengguna

Kisah Kedai Kopi

Hasmawati

Hasmawati

Pembelajar sepanjang hayat, pengamat manusia.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hasmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lelaki Melayu dan kedai kopi. Topik ini pernah disinggung oleh Andrea Hirata dalam bukunya "Cinta di Dalam Gelas". Mendayu-dayu penjelasannya, namun tetap saja ketika aku ditanyai oleh seorang teman "Ada apa dengan kedai kopi ?" gelagapan juga aku menjawabnya.

Doc. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Doc. Pribadi

Perempuan dalam masyarakat Melayu memang tak akrab dengan topik ini. Budaya Melayu yang kental dengan napas Islam menempatkan perempuan tak berbaur bebas dengan lelaki.

Topik ini pun ku angkat ketika bertukar kabar dengan seorang abang yang bijak bestari. Sang abang yang memiliki silsilah asal Daik Lingga, Bunda Tanah Melayu, di lingkungan Kepulauan Riau, ku anggap tepat untuk memberikan pandangan dari sisi lelaki Melayu Kepri. Ditambah dengan kedekatannya dengan seorang sejarawan terkenal Bumi Segantang Lada, serta menimbang akan kecintaannya menjelaskan segala sesuatu, aku yakin penjelasannya juga tak semata opininya sendirinya saja.

Kopi, menurut sejarahnya dalam budaya Melayu, bukanlah minuman asli yang ditanam di daerah Kepulauan Riau. Kemungkinan terbesar minuman ini dibawa oleh pedagang Arab pada zaman dahulu. Menurut sejarah, wilayah Kepulauan Riau tidak mengalami pendudukan kolonial Britania Raya, sehingga tidak mengenal budaya tea-time. Sebagai gantinya, masyarakat Melayu mengenal kopi untuk dikonsumsi karena memiliki efek memberikan semangat kerja yang disebabkan kafein di dalamnya. Kopi juga menjadi pelengkap cakap karena mudah disajikan, cukup diseduh air panas dan kawin serasi dengan berbagai penganan. Perilaku sosial lelaki Melayu yang gemar duduk berkumpul sembari menunggu waktu melaut memberi celah usaha bagi pedagang, para Tionghoa, yang semenjak dulu memang hidup berdampingan dengan Melayu Kepulauan Riau. Sehingga dari yang semula hanya kumpulan orang di pinggir laut, bermunculanlah kedai kopi tiam.

"nak kemane tu ? Sinilah ngopi dulu kite siket !" ajakan mengundang semacam ini menjadi pembuka kata di kalangan lelaki Melayu Kepri. Menurut si abang ini juga, fungsi kedai kopi tiam mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan zaman. Dulu yang semula hanya menjadi tempat mengaso, kini sudah menjadi tempat segala rupa, mulai dari bersahabat sampai untuk bersubahat. Meskipun menurutnya juga, seringnya yang duduk di kedai kopi biasanya para lelaki suntuk. Menunggu istri belanja, kabur dari ocehan orang rumah, atau sekedar menghabiskan waktu semata. Tapi kedai kopi memang menduduki posisi primadona dalam lingkungan pergaulan lelaki Melayu Kepri.

Konsensus demikian juga terbentuk dengan sendirinya. Meskipun penerjemahannya tak diterima sama oleh pribadi masing-masing. Kini, duduk di kedai kopi tak lagi semata saling bercerita berbagi kisah atau sekadar menumpahkan kekesalan hidup. Kedai kopi jadi latar belakang tempat membangga-banggakan diri. Penyakit harus menjadi yang terunggul, yang terdepan makin menjadi-jadi. Pengakuan dari orang lain menjadi candu yang dikejar-kejar. Seolah-olah langit akan runtuh bila ia tak diakui orang lain.

"Lucu ya, Wati ?" disela kekehan tawanya si Abang bertanya. Hidup malah sibuk memikirkan pandangan orang, padahal dalam Islam kita telah diingatkan. Demi Masa, Sesungguhnya Manusia Dalam Kerugian. Waktu berjalan singkat tanpa disadari, dan kesibukan kita akan dunia tak pernah kita sendiri yang mencukupkan. Kedai kopi yang dulunya menjadi oase kini telah berubah wajah karena perilaku manusia yang duduk di dalamnya. Namun demikianlah adanya, sudah menjadi ketetapan semesta bahwa perubahan adalah satu-satunya hal yang abadi di dunia.

Aku tercenung sesaat, kalau diteruskan si abang tak akan berhenti mengulas dari kacamata sosial dan agama saja, sebentar lagi dia akan merambah ke politik, budaya, hingga hukum. Segera kubelokkan cakap bertanya di mana keberadaannya. Dia pun menjawab "Kat mane lagi ? kedai kopi lah..."

Suasana bar kopi, Mikkro Espresso Jakarta Foto: Azalia Amadea/Kumparan