Konten dari Pengguna

Rajin Beribadah, tetapi Sudahkah Memahami Maknanya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hasna Almasah02 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembelajaran agama yang bermakna membutuhkan dialog, pembiasaan, dan kesempatan bagi siswa untuk memahami nilai yang diajarkan.(Foto: Max Fischer/Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Pembelajaran agama yang bermakna membutuhkan dialog, pembiasaan, dan kesempatan bagi siswa untuk memahami nilai yang diajarkan.(Foto: Max Fischer/Pexels)

Setiap pagi, sejumlah sekolah membiasakan peserta didiknya membaca Al-Qur'an, melaksanakan salat berjamaah, atau memanjatkan doa sebelum memulai pembelajaran. Pemandangan tersebut tentu menggambarkan upaya pendidikan dalam membangun kehidupan beragama sejak dini. Namun, di balik berbagai kegiatan religius itu, terdapat satu pertanyaan yang patut direnungkan: apakah peserta didik menjalankan ibadah karena kesadaran, atau sekadar mengikuti aturan yang berlaku?

Pertanyaan ini menjadi penting karena keberhasilan pendidikan agama tidak seharusnya hanya dilihat dari banyaknya aktivitas keagamaan yang dilakukan. Lebih dari itu, pendidikan agama perlu menyentuh kesadaran, pemahaman, dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang siswa mungkin terbiasa melaksanakan salat berjamaah di sekolah karena diwajibkan oleh guru. Akan tetapi, ketika tidak lagi berada dalam pengawasan, belum tentu kebiasaan tersebut tetap dilaksanakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap aturan belum selalu mencerminkan kesadaran beragama yang terbentuk secara mendalam.

Dalam psikologi pendidikan, fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori self-determination yang dikembangkan oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan. Teori ini menjelaskan bahwa kualitas motivasi seseorang dipengaruhi oleh sejauh mana ia merasakan adanya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dengan lingkungan sosial.

Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), teori tersebut membantu menjelaskan perbedaan antara perilaku keagamaan yang semata-mata dilakukan karena tekanan dari luar dan perilaku yang tumbuh dari pemahaman serta penerimaan nilai secara pribadi.

Peserta didik yang menjalankan kegiatan keagamaan hanya karena takut memperoleh hukuman mungkin menunjukkan kepatuhan selama pengawasan berlangsung. Sebaliknya, ketika mereka memahami alasan, tujuan, dan nilai yang terkandung dalam suatu ibadah, terdapat peluang lebih besar bagi nilai tersebut untuk diterima sebagai bagian dari tanggung jawab pribadinya.

Meski demikian, motivasi yang tumbuh dari kesadaran tidak berarti menghilangkan pentingnya pembiasaan. Dalam pendidikan Islam, pembiasaan merupakan salah satu pendekatan yang dapat membantu peserta didik mengenal dan melaksanakan ajaran agama secara konsisten.

Persoalannya muncul ketika pembiasaan hanya diarahkan pada pengulangan kegiatan tanpa disertai penjelasan dan refleksi mengenai makna yang terkandung di dalamnya.

Penelitian Muzaki dan rekan-rekannya (2026) mengenai internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam menunjukkan pentingnya pembelajaran reflektif, keteladanan pendidik, serta keterlibatan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pelaksanaan aktivitas religius perlu diikuti dengan proses pemaknaan agar nilai agama tidak berhenti pada perilaku yang tampak.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru PAI. Selama ini, kegiatan keagamaan di sekolah terkadang lebih mudah dievaluasi melalui kehadiran dan keterlibatan peserta didik. Padahal, aspek kesadaran, keikhlasan, serta penerapan nilai agama di luar lingkungan sekolah membutuhkan pendekatan penilaian yang lebih mendalam dan tidak dapat disimpulkan hanya dari satu kegiatan.

Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami hubungan antara ibadah dan kehidupan nyata.

Ketika mengajarkan salat, misalnya, pembelajaran tidak cukup berhenti pada hafalan bacaan dan ketepatan gerakan. Peserta didik juga dapat diajak mendiskusikan bagaimana salat berkaitan dengan kedisiplinan, tanggung jawab, dan upaya menjaga perilaku sehari-hari.

Begitu pula dalam pembelajaran tentang kejujuran. Guru tidak hanya menyampaikan dalil mengenai kewajiban berkata benar, tetapi juga mengajak siswa merefleksikan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti menyontek saat ujian, mengakui kesalahan, atau menyampaikan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Melalui pendekatan tersebut, pendidikan agama tidak hanya menyampaikan pengetahuan tentang sesuatu yang baik, tetapi membantu peserta didik memahami alasan mengapa kebaikan tersebut perlu diwujudkan.

Aspek emosional juga tidak boleh diabaikan. Suasana pembelajaran yang terlalu menekankan ancaman atau hukuman berisiko membuat sebagian siswa memandang kegiatan keagamaan sebagai kewajiban yang menekan, bukan sebagai pengalaman belajar yang bermakna.

Karena itu, guru PAI perlu memadukan ketegasan dalam menanamkan kedisiplinan dengan pendekatan yang menghargai kondisi psikologis peserta didik.

Memberikan kesempatan bertanya, mendengarkan keraguan siswa dengan bijaksana, serta menjelaskan hikmah suatu ajaran tanpa mempermalukan mereka merupakan langkah penting dalam membangun hubungan pendidikan yang positif.

Lingkungan keluarga juga memiliki pengaruh besar. Kebiasaan keagamaan yang dilakukan di sekolah akan lebih mudah mendapatkan penguatan ketika peserta didik menyaksikan nilai serupa diterapkan secara konsisten di rumah.

Pada akhirnya, pembelajaran PAI perlu bergerak melampaui pertanyaan tentang seberapa sering peserta didik melakukan aktivitas keagamaan menuju pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana mereka memahami dan menjadikan nilai agama sebagai pedoman perilaku?

Sebab, tujuan pendidikan agama bukan hanya membentuk peserta didik yang terbiasa menjalankan ibadah di hadapan orang lain, melainkan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga nilai-nilai agama sekalipun tidak ada yang mengawasi.

Pembiasaan tetap penting, tetapi pemahamanlah yang membantu memberikan arah dan makna pada kebiasaan tersebut.

Barangkali keberhasilan pendidikan agama yang paling berharga bukanlah ketika siswa beribadah karena takut ditegur guru, melainkan ketika ia tetap memilih melakukan kebaikan karena memahami nilai dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya.