Siswa Tidak Hanya Mendengar Nasihat, Mereka Mengamati Perilaku Gurunya

mahasiwa magister pendidikan agama islam UIN Jurai Siwo Lampung
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hasna Almasah02 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang guru dapat berbicara panjang lebar tentang pentingnya kejujuran, kedisiplinan, dan sikap saling menghargai. Namun, apa yang terjadi ketika peserta didik justru menyaksikan perilaku yang bertentangan dengan nasihat tersebut? Misalnya, guru mengajarkan pentingnya menghargai orang lain, tetapi masih mempermalukan siswa ketika melakukan kesalahan.
Situasi sederhana ini menyimpan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan: apakah nilai-nilai karakter cukup ditanamkan melalui penjelasan, atau justru lebih kuat dipelajari melalui perilaku yang dilihat setiap hari?
Pertanyaan tersebut sangat relevan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), mengingat tujuan pendidikan agama tidak terbatas pada penguasaan materi, tetapi juga mencakup pembentukan sikap dan akhlak peserta didik.
Dalam praktiknya, siswa tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan guru di depan kelas. Mereka juga memperhatikan bagaimana guru berbicara, menanggapi perbedaan pendapat, menghadapi masalah, dan memperlakukan orang lain.
Perilaku yang terlihat berulang kali dapat menjadi sumber pembelajaran, bahkan ketika tidak secara langsung dimaksudkan sebagai bagian dari materi pelajaran.
Fenomena ini berkaitan dengan teori pembelajaran sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Teori tersebut menekankan bahwa manusia dapat mempelajari perilaku melalui proses pengamatan terhadap orang lain atau observational learning.
Dalam proses tersebut, individu memperhatikan perilaku model, menyimpan informasi yang diamati, dan pada kondisi tertentu mencoba menerapkannya dalam tindakan sendiri.
Bagi peserta didik, guru merupakan salah satu figur yang memiliki pengaruh penting karena berinteraksi dengan mereka secara berulang dalam lingkungan pendidikan. Oleh sebab itu, perilaku guru dapat menjadi contoh yang memperkuat ataupun melemahkan pesan moral yang diajarkan.
Ketika guru PAI mengajarkan kesabaran dan menunjukkan sikap tenang saat menghadapi siswa yang mengalami kesulitan, terdapat kesesuaian antara materi pembelajaran dan pengalaman nyata yang disaksikan peserta didik.
Sebaliknya, apabila guru meminta siswa bersikap santun tetapi menggunakan kata-kata yang merendahkan, ketidaksesuaian tersebut berpotensi menimbulkan kebingungan mengenai nilai yang sebenarnya ingin ditanamkan.
Di sinilah keteladanan menjadi salah satu unsur penting dalam pendidikan karakter.
Dalam tradisi pendidikan Islam, keteladanan atau uswah hasanah memiliki kedudukan yang sangat penting. Nilai-nilai akhlak bukan hanya untuk dipahami sebagai konsep, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan yang dapat diamati dan diterapkan dalam kehidupan.
Al-Qur'an dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 menempatkan Rasulullah saw. sebagai teladan yang baik. Prinsip keteladanan ini memberikan landasan penting bagi pendidikan Islam dalam membangun hubungan antara ajaran dan pengamalan.
Akan tetapi, keteladanan dalam pendidikan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai tuntutan agar guru selalu tampil sempurna.
Guru tetap manusia yang dapat melakukan kesalahan. Justru ketika guru mampu mengakui kekeliruan, meminta maaf, dan memperbaiki tindakan, peserta didik memperoleh contoh nyata mengenai tanggung jawab dan kerendahan hati.
Sikap semacam ini dapat memberikan pengalaman moral yang lebih bermakna dibandingkan dengan nasihat yang tidak diikuti tindakan.
Persoalan keteladanan juga berkaitan dengan upaya internalisasi nilai-nilai akhlak. Internalisasi merupakan proses ketika suatu nilai tidak lagi hanya diketahui, tetapi mulai dipahami, diterima, dan dijadikan bagian dari pedoman perilaku.
Penelitian Muzaki dan rekan-rekannya (2026) mengenai pendidikan moral Islam menekankan pentingnya keteladanan pendidik, pembelajaran reflektif, dan kerja sama lingkungan dalam memperkuat internalisasi nilai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui penyampaian materi keagamaan.
Dalam konteks pembelajaran PAI, guru dapat mengintegrasikan keteladanan dengan kegiatan yang melibatkan pengalaman nyata peserta didik.
Ketika mengajarkan kejujuran, misalnya, guru dapat membangun budaya kelas yang memberikan penghargaan terhadap keberanian mengakui kesalahan. Siswa yang menyampaikan bahwa dirinya belum mengerjakan tugas perlu dibimbing untuk bertanggung jawab, bukan langsung dipermalukan di hadapan teman-temannya.
Begitu pula ketika membahas sikap toleransi dan menghargai perbedaan. Guru dapat menunjukkan keteladanan melalui kesediaan mendengarkan pendapat siswa, mengelola perbedaan secara santun, dan memberikan kesempatan berbicara secara adil.
Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh definisi tentang akhlak yang baik, tetapi juga menyaksikan penerapannya dalam hubungan sosial yang nyata.
Pendekatan ini memiliki kaitan erat dengan kondisi psikologis siswa. Lingkungan pembelajaran yang menghargai martabat peserta didik dapat membantu membangun rasa aman, kepercayaan, dan keterbukaan selama proses belajar.
Sebaliknya, suasana pendidikan yang dipenuhi penghinaan atau ketakutan berisiko membuat peserta didik lebih berfokus pada upaya menghindari hukuman daripada memahami makna perilaku yang diajarkan.
Oleh karena itu, ketegasan guru perlu berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap peserta didik. Menegur kesalahan tetap diperlukan, tetapi dilakukan dengan cara yang mendidik dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Keteladanan juga tidak dapat dibebankan hanya kepada guru PAI. Kepala sekolah, guru mata pelajaran lain, tenaga kependidikan, dan keluarga turut membentuk lingkungan yang diamati peserta didik setiap hari.
Apabila nilai-nilai yang diajarkan di kelas didukung oleh perilaku orang dewasa di sekitarnya, peserta didik memperoleh pengalaman yang lebih konsisten mengenai penerapan akhlak dalam kehidupan.
Namun, apabila terdapat perbedaan yang mencolok antara nasihat dan kenyataan, proses pembentukan karakter dapat menghadapi hambatan.
Karena itulah, pendidikan karakter membutuhkan keselarasan antara perkataan, tindakan, dan budaya lingkungan pendidikan.
Pada akhirnya, keberhasilan guru PAI tidak cukup diukur dari kemampuan peserta didik menghafal dalil, menyebutkan macam-macam akhlak terpuji, atau menjawab soal ujian dengan benar.
Pendidikan agama juga perlu memperhatikan bagaimana pemahaman tersebut diwujudkan dalam sikap menghargai sesama, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian sosial.
Sebab, nasihat dapat memberikan pengetahuan tentang kebaikan, tetapi keteladanan membantu peserta didik menyaksikan bagaimana kebaikan itu diwujudkan.
Seorang guru mungkin tidak selalu mengingat setiap kalimat yang pernah disampaikannya. Namun, cara ia memperlakukan peserta didik dapat meninggalkan pengalaman yang terus diingat setelah masa sekolah berakhir.
Maka, sebelum meminta siswa menjadi pribadi yang berakhlak mulia, dunia pendidikan perlu terlebih dahulu memastikan bahwa nilai-nilai tersebut hadir dalam perilaku orang-orang yang mendidiknya.
Karena dalam pendidikan, terkadang pelajaran yang paling membekas bukanlah yang tertulis di papan tulis, melainkan yang tercermin dari tindakan seorang guru.
