Penerapan Zero Waste Fashion dalam Industri Busana

Hasna Apriyanti
Mahasiswa Teknik Industri, Institute Teknologi Telkom Purwokerto
Konten dari Pengguna
15 Mei 2024 15:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Hasna Apriyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Industri Busana (Sumber : https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Industri Busana (Sumber : https://pixabay.com/id/)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Perkembangan industri fashion atau busana saat ini mengalami peningkatan pesat bahkan Indonesia menempati peringkat ke-3 pada indikator model busana. Busana merupakan keseluruhan sesuatu yang dipakai dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan mempertimbangankan aspek kenyamanan serta keelokan bagi pemakainya.
ADVERTISEMENT
Busana juga berfungsi sebagai media yang mempresentasikan karakter, kepribadian serta status seseorang melalui cara berbusana, tetapi seringnya perubahan model busana dalam waktu yang berdekatan membuat masyarakat selalu ingin memperbaharui produk busana yang dikeluarkan dari edisi para perancang busana.
Pada umumnya, masyarakat menyukai produk busana baru untuk mengikuti trend mode atau trend fashion. Masyarakat membeli busana sesuai dengan apa yang diinginkan bukan yang dibutuhkan.
Atensi masyarakat terhadap busana kekinian pula bertambah akibat pertumbuhan kreativitas serta inovasi perancang dalam industri busana. Faktanya, daya beli perempuan untuk tampil lebih modis dengan gaya model terbaru semakin kuat akibat industri busana yang sudah mulai terbuka terhadap busana model terbaru.
Dari industri busana yang terlalu cepat dapat menyebabkan dampak negatif seperti gaya hidup konsumsif masyarakat bertambah dipicu oleh artis, selebritas atau public figure yang menjadi acuan berbusana dan meracuni masyarakat untuk selalu tampil kekinian dalam berbusana. Akibatnya, produksi busana akan terus meningkat begitu pula limbah yang dihasilkan dari proses produksi busana.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu, dampak perkembangan industri busana yang terlalu cepat dapat memberikan sumbangan limbah yang cukup besar. Menurut Rissanen (2013), limbah dari proses produksi busana yaitu sebesar 15% pemotongan kain yang tidak dipergunakan. Limbah tersebut memerlukan waktu dekomposisi yang cukup lama.
Hal ini disebabkan waktu dekomposisi akan memerlukan dalam kurun waktu 20-50 tahun. Walaupun limbah kain bukan termasuk limbah terbesar, tetapi jika limbah tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Berdasarkan permasalahan tersebut, limbah kain dapat diminimalisasi dengan mengimplementasi konsep zero waste fashion.
Zero Waste Fashion (ZWF) merupakan konsep proses produksi dengan meminimalisasi atau mengurangi limbah hasil produksi busana. Zero waste fashion ini bukanlah konsep baru, melainkan konsep lama atau tradisional. Tujuan dari zero waste fashion ini yaitu untuk mengurangi limbah hasil produksi busana sebesar 15% menjadi produksi busana tanpa limbah sama sekali yaitu 0%.
ADVERTISEMENT
Ada sejumlah teknik dalam konsep zero waste fashion yang dapat digunakan oleh para perancang busana yaitu, teknik drapping pattern, teknik flat pattern, teknik shibori, dan plotting pola kain. Biasanya potongan busana dengan konsep zero waste fashion berukuran all size, jarang memiliki pola lengkungan atau mengikuti lekuk tubuh dan tidak memiliki desain model yang aneh.
Salah satu hasil samping dari produksi busana yaitu limbah berupa atau kain sisa jahitan. Kain perca ataupun kain sisa jahitan memiliki potensi yang dapat diubah menjadi produk yang lebih bermanfaat seperti dijadikan masker kain, lap, kerajinan rumah, keset, saku baju atau celana, pakaian, dan selimut. Dengan memanfaatkan hal ini, kain yang sebelumnya hanya berupa potongan-potongan kecil apabila dimanfaatkan dapat menjadi sesuatu yang lebih bernilai.
ADVERTISEMENT
Penerapan konsep zero waste fashion bagi peramcang busana dapat dimulai dari meminimalisasi pemotongan bahan, menggunakan bahan yang ramah lingkungan, menerapkan prinsip 3R yaitu Reduse, Reuse, dan Recyle. Sehingga limbah yang tidak dipergunakan dapat dijadikan produk yang berguna dan limbah tersebut tidak menimbulkan masalah pencemaran lingkungan.
Banyak cara untuk masyarakat bisa meminimalisasi limbah baju atau kain. Pertama, perbaiki pakaian yang ada, bisa dengan menjahit bagian yang rusak atau menambahkan jaitan yang kretif. Kedua, membeli busana dilihat dari kualitas daripada kuantitas, busana yang ramah lingkungan biasanya harga relatif lebih mahal karena memperhatikan bahan yang digunakan dan upah penjahit yang adil.
Ketiga, donasi kepada yang membutuhkan, busana yang masih layak pakai dapat disumbangkan atau didonasikan kepada yang membutuhkan. Keempat =, rawat busana dengan baik, dengan merawat busana dapat mengurangi jumlah busana yang dibeli. Terakhir, membeli busana yang terbuat dari bahan yang ramah lingkungan, seperti bahan katun organik yang bersertifikat, bahan linen, rami organik dan bahan lainnya.
ADVERTISEMENT
Secara keseluruhan jelas bahwa konsep zero waste fashion ini adalah konsep efektif untuk meminimalisasi atau mengurangi limbah kain yang dihasilkan dari produksi busana. Namun, penerapan konsep zero waste fashion ini perlu ditingkatkan lagi.
Hal ini dikarenakan banyak para perancang busana yang belum mengerti dan kurang tertarik dengan konsep ini. Usaha penerapan zero waste fashion di bidang industri memang bukanlah hal mudah. Bukan hanya perancang busana saja, tetapi perlunya dukungan dari pemerintah dan masyarakat untuk terus mendorong konsep ini menuju industri busana yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Dengan menerapkan konsep tersebut diharapkan dapat menginspirasi bagi para perancang busana untuk menciptakan busana yang ramah lingkungan serta sesuai preferensi pembeli yang bukan hanya mementingkan penampilan dan model terkini saja, melainkan harus memberi perhatian terhadap lingkungan sekitar sehingga memberi dampak positif di kehidupan masa mendatang.
ADVERTISEMENT