Ketika Saintek Diunggulkan, Apakah Soshum Dipinggirkan?
Tulisan dari Hasna Rachman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda merasa bahwa jurusan dari rumpun Sains dan Teknologi (Saintek) kerap diposisikan sebagai puncak prestise dalam dunia pendidikan? Sebaliknya, jurusan Sosial dan Humaniora (Soshum) sering kali dianggap sebagai pilihan kedua, bahkan tidak jarang dilekatkan dengan stigma sebagai “opsi cadangan”. Narasi seperti, “anak Saintek pasti bisa mengerjakan tugas Soshum, tetapi anak Soshum akan kesulitan jika dihadapkan pada Saintek”, masih sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari.
Pengalaman serupa juga terlihat dalam fleksibilitas lintas jurusan: mahasiswa dari rumpun Saintek relatif lebih mudah memasuki bidang Soshum, sementara sebaliknya dianggap sulit. Hal ini memperkuat asumsi bahwa ilmu-ilmu eksakta bersifat pasti, objektif, dan lebih “tinggi”, sedangkan ilmu sosial dianggap abstrak dan kurang memberikan kepastian. Namun, benarkah demikian?
Faktanya ...
Dalam beberapa tahun terakhir, arah kebijakan pendidikan dan pasar kerja memang menunjukkan kecenderungan yang lebih besar pada bidang sains dan teknologi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lulusan dari bidang teknik dan teknologi memiliki tingkat serapan kerja yang relatif lebih cepat dibandingkan beberapa bidang sosial. Selain itu, laporan World Economic Forum (2023) juga menempatkan keterampilan berbasis teknologi, seperti data analysis, artificial intelligence, dan literasi digital, sebagai kompetensi yang paling dibutuhkan di masa depan.
Namun demikian, sejumlah akademisi dari bidang Saintek yang juga mengkaji perilaku manusia justru menunjukkan pandangan yang lebih reflektif. Mereka melihat bahwa setiap disiplin ilmu memiliki kompleksitas dan tantangannya masing-masing. Tidak ada ilmu yang benar-benar lebih tinggi, karena setiap fenomena dapat dipahami melalui beragam perspektif.
Di sisi lain, bidang Soshum melatih kemampuan yang sering kali tidak kasat mata, seperti berpikir kritis, membaca realitas sosial, serta keterampilan komunikasi. Kemampuan-kemampuan ini mungkin tidak selalu terlihat secara instan, tetapi memiliki dampak yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mungkinkah stigma terhadap Soshum tidak hanya lahir dari persepsi masyarakat, tetapi juga dipengaruhi oleh cara sistem pendidikan membentuk cara pandang kita terhadap ilmu pengetahuan?
Fenomena tersebut tidak hadir secara tiba-tiba. Dalam kajian sosiologi kurikulum, apa yang kita anggap sebagai “ilmu bergengsi” sebenarnya merupakan hasil dari konstruksi sosial yang berlangsung secara terus-menerus. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang reproduksi nilai dan hierarki tertentu, termasuk dalam memandang jenis ilmu.
Melalui konsep hidden curriculum, sekolah secara tidak langsung mengajarkan kepada peserta didik bahwa ilmu-ilmu eksakta lebih rasional, lebih pasti, dan lebih menjanjikan masa depan yang stabil. Sebaliknya, ilmu sosial dan humaniora kerap diposisikan sebagai sesuatu yang “lunak”, subjektif, dan kurang memiliki kepastian. Pesan ini tidak selalu tertulis dalam buku pelajaran, tetapi hadir dalam praktik sehari-hari—mulai dari cara guru memberi apresiasi, narasi orang tua tentang kesuksesan, hingga kebijakan pendidikan yang lebih menonjolkan capaian di bidang sains dan teknologi.
Salah satu tokoh sosiologi, Pierre Bourdieu, menjelaskan bahwa pendidikan berperan dalam mereproduksi struktur sosial yang sudah ada. Dalam konteks ini, hierarki antara Saintek dan Soshum bukan sekadar perbedaan disiplin ilmu, melainkan juga terkait dengan nilai ekonomi dan simbolik yang dilekatkan pada masing-masing bidang.
Profesi yang lahir dari rumpun Saintek kerap dianggap lebih “produktif” secara ekonomi, sehingga memperoleh legitimasi sosial yang lebih tinggi. Namun, cara pandang ini menjadi problematis ketika kompleksitas ilmu pengetahuan disederhanakan hanya berdasarkan aspek utilitas ekonomi.
Padahal, laporan UNESCO (2021) menegaskan bahwa pendidikan abad ke-21 tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis, tetapi juga pada penguatan nilai kemanusiaan, empati, dan kesadaran sosial. Dalam hal ini, ilmu sosial dan humaniora memiliki peran krusial dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, memahami realitas sosial, serta membangun kepekaan terhadap isu-isu kemanusiaan. Kemampuan-kemampuan tersebut sering kali bersifat “invisible”—tidak langsung terlihat hasilnya—namun justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat yang demokratis.
Pengalaman personal penulis menjadi refleksi kecil dari realitas tersebut. Ketika jurusan Soshum dipandang sebelah mata, justru dalam praktik tertentu, seperti kemampuan komunikasi, public speaking, dan analisis sosial, mahasiswa dari rumpun ini menunjukkan keunggulan yang tidak selalu dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan pendekatan teknis. Hal ini menunjukkan bahwa setiap disiplin ilmu memiliki kekuatan dan kontribusinya masing-masing, yang tidak dapat dibandingkan secara hierarkis.
Oleh karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “mana yang lebih unggul antara Saintek dan Soshum?”, melainkan “mengapa kita terbiasa menilai keunggulan ilmu secara sempit?”. Jika pendidikan terus mereproduksi cara pandang yang demikian, maka kita berisiko kehilangan keseimbangan antara kemampuan teknis dan kepekaan sosial. Padahal, keduanya sama-sama dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga adil dan reflektif secara sosial.

