Konten dari Pengguna

Terbelenggu Adat, Terbunuh Cinta: Resensi Novel Azab dan Sengsara

Haura Zahra

Haura Zahra

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Haura Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Cinta dan Sengsara. Sumber: https://pixabay.com/id/photos/rakyat-tangan-jarak-mencapai-jauh-2577986/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Cinta dan Sengsara. Sumber: https://pixabay.com/id/photos/rakyat-tangan-jarak-mencapai-jauh-2577986/

Identitas Buku

Judul: Azab dan Sengsara

Penulis: Merari Siregar

Penerbit: PT. Balai Pustaka (Persero)

Tahun Terbit: 1936

Jumlah Halaman: 202

ISBN: 979-407-169-4

Sinopsis

"Azab dan Sengsara" karya Merari Siregar adalah novel yang secara mendalam mengisahkan perjalanan hidup seorang gadis bernama Mariamin dalam lingkungan masyarakat Batak pada masa kolonial. Sebagai seorang perempuan yang sederhana namun penuh impian, Mariamin harus berhadapan dengan kerasnya realitas hidup di tengah-tengah masyarakat yang diatur oleh adat ketat dan nilai-nilai tradisional yang sangat mengikat. Melalui cerita ini, Merari Siregar dengan tajam memaparkan perjuangan Mariamin, serta ironi dan kegetiran yang dihadapi perempuan kala itu.

Kisah bermula dengan kisah cinta tulus antara Mariamin dan Amir, seorang pemuda yang berasal dari keluarga terpandang. Mariamin dan Amir saling mencintai dengan hati yang murni, tanpa memperhitungkan perbedaan status ekonomi di antara mereka. Namun, cinta mereka harus berhadapan dengan berbagai rintangan. Amir, yang terlahir dari keluarga berada, memahami sepenuhnya bahwa masyarakat, terutama keluarganya, tidak akan menyetujui hubungannya dengan Mariamin, seorang gadis dari kalangan yang lebih rendah secara ekonomi. Walaupun demikian, Amir berjanji akan memperjuangkan cintanya dan bertekad menikahi Mariamin. Ia yakin bahwa cinta sejati mereka dapat mengatasi segala perbedaan, meskipun realitas adat dan tekanan sosial mulai menghantui langkah mereka.

Perlahan, keadaan mulai berubah. Orang tua Amir, yang sangat mementingkan status sosial dan kedudukan ekonomi, mengatur pernikahan Amir dengan seorang gadis dari keluarga terpandang dan kaya raya. Meskipun Amir dan Mariamin tetap berusaha mempertahankan cinta mereka, keduanya menyadari bahwa mereka akan sulit melawan arus besar adat yang mengekang kebebasan pribadi. Pada akhirnya, mereka menyerah kepada kenyataan pahit bahwa cinta mereka harus diputuskan demi menjaga kehormatan keluarga dan memenuhi tuntutan adat. Mariamin harus rela merelakan Amir, orang yang dicintainya, kepada takdir yang diatur oleh keluarganya. Pengkhianatan ini menjadi luka yang dalam bagi Mariamin, terlebih ketika ia mengetahui bahwa Amir benar-benar menikah dengan gadis lain, meninggalkannya dalam kesendirian dan kehancuran hati.

Kisah getir ini berlanjut ketika Mariamin, yang telah kehilangan harapan untuk bisa bersama Amir, terpaksa menikah dengan seorang pria yang tidak dicintainya. Pernikahan ini, bukannya menjadi pelipur lara, justru membawa penderitaan baru bagi Mariamin. Pria yang menjadi suaminya memperlakukannya dengan kejam, penuh dengan kekerasan dan penghinaan. Kehidupan pernikahan yang penuh derita ini semakin menekan Mariamin, baik secara fisik maupun mental. Perlahan-lahan, tubuhnya melemah akibat derita yang tak berkesudahan, hingga akhirnya Mariamin jatuh sakit. Di tengah penderitaannya, Mariamin harus menerima kenyataan bahwa hidupnya telah terperangkap dalam lingkaran kesengsaraan yang tak kunjung berakhir.

Novel ini mencapai klimaks yang pilu dan memilukan ketika Mariamin meninggal dunia setelah hidup dalam penindasan, kehilangan, dan penderitaan. Lewat akhir cerita yang tragis ini, "Azab dan Sengsara" menjadi sebuah simbol kuat dari perlawanan terhadap ketidakadilan yang kerap diterima perempuan dalam masyarakat adat yang patriarkal. Merari Siregar dengan cerdas menggambarkan bagaimana perempuan sering kali dikorbankan atas nama kehormatan keluarga dan adat, tanpa memedulikan perasaan dan kehidupan pribadi mereka. Melalui sosok Mariamin, novel ini mengajak pembaca untuk merenungkan betapa adat yang diterapkan secara kaku bisa menyisakan luka yang dalam bagi mereka yang terperangkap di dalamnya.

Kelebihan:

  1. Kritik Sosial yang Berani: Novel ini berani menggugat adat yang kaku dan merugikan, terutama terhadap perempuan. Dalam salah satu pernyataannya, Merari Siregar menuliskan, "Adat kami yang keras itu, yang memandang hina pada orang yang mempergunakan hati sendiri, tidaklah akan memaafkan perbuatan orang yang mengikuti kehendak sendiri." (kutipan ini menggambarkan bagaimana adat yang ketat sering kali menghalangi kebebasan individu dan memaksa seseorang untuk tunduk pada nilai kolektif yang kadang merugikan). Kritik ini memperlihatkan bagaimana adat yang kuat bisa menjadi penjara bagi perasaan dan kebebasan pribadi, terutama bagi Mariamin yang terus menderita karena harus tunduk pada aturan masyarakat.

  2. Penggambaran Karakter yang Mengena: Karakter Mariamin digambarkan dengan sangat hidup dan mendalam, sebagai sosok perempuan yang meski penuh rasa cinta, tidak mampu melawan kenyataan yang menjeratnya. Salah satu contohnya, ketika Mariamin berkata, "Apalah dayaku melawan kehendak orang tua, jika Tuhan pun menghendaki begitu...", menunjukkan ketidakberdayaan dan keterpaksaannya menjalani hidup yang jauh dari keinginan dan kebahagiaannya sendiri. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana karakterisasi Mariamin mengundang empati dan menekankan ketegaran di tengah penderitaan.

  3. Bahasa yang Klasik dan Kaya Makna: Gaya bahasa Melayu klasik dalam novel ini memberikan nuansa elegan dan kaya makna. Misalnya, Siregar menulis, "Hidup kita ibarat buluh yang melentur dihembus angin, patuh pada arusnya". Gaya bahasa ini tidak hanya menyampaikan emosi yang mendalam, tetapi juga menghidupkan suasana adat dengan keindahan yang khas. Bahasa yang digunakan Merari Siregar membuat pembaca seakan masuk ke dalam suasana masa lalu yang terbalut adat istiadat.

Kekurangan:

  1. Alur yang Lambat dan Deskriptif: Banyaknya deskripsi mengenai adat, latar, dan lingkungan sosial kadang memperlambat jalan cerita, sehingga beberapa bagian terasa terlalu panjang dan berlarut-larut. Misalnya, ketika Siregar menggambarkan adat pernikahan secara detail, "Di desa kami, setiap calon pengantin harus menjalani prosesi panjang yang melibatkan hampir seluruh tetua kampung dan sanak saudara, tak peduli berapa banyak waktu yang tersita". Hal ini bisa membuat pembaca merasa kurang fokus pada inti konflik antara Mariamin dan Amir, terutama bagi yang berharap pada perkembangan cerita yang lebih cepat.

  2. Ending yang Suram: Akhir cerita yang tragis mungkin meninggalkan rasa pesimis pada pembaca, yang seolah memberi pesan bahwa harapan akan kebahagiaan mudah terhalang oleh adat. Dalam novel, diungkapkan, _"Mariamin pun menyerah pada nasib, merelakan seluruh cita-citanya terkubur bersama cinta yang tak pernah terlaksana,"_ yang menciptakan kesan bahwa perjuangan melawan adat tidak akan membuahkan hasil, mungkin membuat pembaca merasa lelah dengan kisah yang terlalu pahit dan tanpa pelajaran hidup yang positif atau penyelesaian.

  3. Terbatasnya Alternatif Pandangan Terhadap Adat: Novel ini menekankan pandangan bahwa adat tidak dapat diganggu gugat dan bahwa kehormatan keluarga selalu diutamakan, tanpa menunjukkan adanya pemikiran atau pandangan yang lebih fleksibel atau reformis. "Kita tidak boleh berkhianat pada adat kita, biarpun harus mengorbankan jiwa sendiri", menunjukkan bahwa sudut pandang dalam novel ini terfokus pada pandangan konservatif, yang mungkin terasa kurang relevan bagi pembaca modern yang mengharapkan pilihan yang lebih progresif.