Konten dari Pengguna

TEP IPB University Dampingi Panen Padi dengan Mekanisasi di Merauke

hauraalsys31

hauraalsys31

Anggota Tim 1 Ekspedisi Patriot

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari hauraalsys31 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aktivitas panen padi menggunakan mesin combine harvester di lahan pertanian Kampung Candra Jaya, Merauke. Foto: M. Zulham Azhar Maghfirah. H
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas panen padi menggunakan mesin combine harvester di lahan pertanian Kampung Candra Jaya, Merauke. Foto: M. Zulham Azhar Maghfirah. H

Transformasi pertanian melalui penerapan mekanisasi terus didorong di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Salah satu implementasinya terlihat dalam kegiatan pendampingan panen padi menggunakan mesin combine harvester pada lahan kelompok tani di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, yang dilaksanakan pada 24 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi, IPB University sebagai bagian dari upaya mendorong modernisasi pertanian, peningkatan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta penguatan kapasitas petani di kawasan transmigrasi. Pendampingan dipimpin oleh Ketua Tim TEP, Lilis Sucahyo, S.TP., M.Si., bersama anggota tim yang terdiri atas Thoriq Aziz Al Madani, S.T.; Hafiz Damarjati, S.T.; Novia Miftakhul Qisthi, S.Tr.Bns.; Haura Alisya Sari, S.Tr.P.; dan Hedera Muammad Thoriq, S.P. Kegiatan tersebut juga dihadiri dan didampingi oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Bapak Rizal, S.Pt., bersama anggota PPL, Ibu Umi.

Dalam kegiatan tersebut, kelompok tani telah menerapkan pendekatan PM-AAS (Pertanian Modern–Advanced Agriculture System), yaitu model intensifikasi pertanian yang dikembangkan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penggAktivitas panen padi menggunakan mesin combine harvester di lahan pertanian Kampung Candra Jaya, Merauke. Foto: M. Zulham Azhar Maghfirah. Hunaan input dan biaya produksi. Kementerian Pertanian menyatakan bahwa penerapan PM-AAS pada kondisi tertentu berpotensi meningkatkan produktivitas secara signifikan. Di Kampung Candra Jaya, potensi produksi yang diperoleh petani saat ini berada pada kisaran 5,5–8 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare. Capaian tersebut menunjukkan adanya potensi produktivitas yang cukup baik, sekaligus membuka ruang untuk peningkatan melalui penguatan teknologi budidaya, kualitas benih, pemupukan berimbang, pengelolaan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, ketepatan waktu tanam dan panen, serta peningkatan efisiensi mekanisasi.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB University, Lilis Sucahyo, S.TP., M.Si., mengapresiasi capaian petani di Kampung Candra Jaya. Menurutnya, penggunaan mekanisasi pada tahap panen merupakan langkah penting karena kecepatan waktu pemanenan dan pengurangan kehilangan hasil (lossess) yang memiliki pengaruh langsung terhadap jumlah gabah yang benar-benar dapat diperoleh petani. “Capaian hasil panen ini menunjukkan potensi yang baik. Ke depan masih terdapat ruang untuk meningkatkan produktivitas melalui perbaikan budidaya dari hulu hingga hilir, terutama kualitas benih, populasi tanaman, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian hama dan penyakit. Mekanisasi harus menjadi bagian dari sistem produksi yang terintegrasi, bukan berdiri sendiri,” ujarnya.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB University bersama petani dan penyuluh pertanian usai kegiatan panen padi di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke. Foto: Haura Alisya Sari.

Koordinator PPL, Rizal, S.Pt., menyampaikan bahwa penerapan teknologi pertanian modern membutuhkan proses pembelajaran yang berkelanjutan. Menurutnya, petani perlu mendapatkan edukasi dan pendampingan secara intensif agar penerapan PM-AAS dapat dilakukan secara tepat dan konsisten. Pendampingan tidak cukup hanya dilakukan pada saat tanam maupun panen, tetapi perlu mencakup keseluruhan siklus produksi, mulai dari perencanaan musim tanam, pemilihan varietas dan benih, persiapan lahan, pengaturan populasi tanaman, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian hama dan penyakit, pemantauan pertumbuhan tanaman, penentuan waktu panen, mekanisasi, hingga pengelolaan pascapanen dan pemasaran.

Pengembangan pertanian di Merauke juga sejalan dengan arah baru kebijakan Kementerian Transmigrasi. Paradigma transmigrasi saat ini mengalami perubahan dari pendekatan yang semata-mata berorientasi pada pemindahan dan penempatan penduduk menuju pengembangan kawasan berbasis potensi ekonomi, sumber daya lokal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, industrialisasi, hilirisasi dan penciptaan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kementerian Transmigrasi dalam visi 2025–2029 menempatkan transformasi transmigrasi sebagai instrumen untuk mendorong pemerataan dan pertumbuhan ekonomi baru melalui Kawasan Ekonomi Transmigrasi Terintegrasi yang didukung sumber daya manusia unggul. Misinya mencakup optimalisasi lahan, pengembangan berbasis sumber daya lokal, pembangunan pusat pertumbuhan melalui industrialisasi dan hilirisasi, serta penguatan sinergi dan kolaborasi multisektor.

Kementerian Transmigrasi juga secara khusus mendorong kawasan transmigrasi sebagai basis produksi pangan nasional. Pada 2026, pemerintah menegaskan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi tidak lagi hanya berorientasi pada padi, tetapi juga mencakup perikanan dan berbagai komoditas lokal lainnya. Arah tersebut terlihat dalam pengembangan Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke, yang mulai diarahkan menjadi kawasan ekonomi produktif berbasis riset, teknologi, sarana produksi, sumber daya manusia dan penguatan rantai nilai. Bahkan, pemerintah tengah mendorong kerja sama pengembangan riset dan teknologi pertanian di kawasan tersebut.

Pengembangan pertanian Merauke ke depan membutuhkan kolaborasi yang lebih luas dan tidak dapat hanya mengandalkan satu sektor. Pendekatan lintas bidang menjadi penting karena persoalan produktivitas pertanian bukan semata-mata persoalan teknologi produksi. Keberhasilan transformasi pertanian juga ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur, kualitas SDM, kelembagaan petani, akses pembiayaan, kepastian pasar, kebijakan, pengelolaan sumber daya alam, serta kemampuan mengintegrasikan teknologi dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat. Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh, pelaku usaha, kelompok tani dan masyarakat, Merauke memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu lokomotif pertanian modern di kawasan timur Indonesia sekaligus berkontribusi terhadap penguatan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.