Konten dari Pengguna

Dari Asap Relaksasi, Kita Peduli

khiaraatha

khiaraatha

Mahasiswi Universitas Islam Indonesia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari khiaraatha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cigarrete. Image by nensuria on Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Cigarrete. Image by nensuria on Freepik

Setiap tahunnya, jumlah perokok aktif di Indonesia terus meningkat, dan peningkatan yang paling mengkhawatirkan terjadi di kalangan anak-anak dan remaja. Survei Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa perokok aktif telah mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya berusia antara 10 hingga 18 tahun. Angka ini mencerminkan kenyataan pahit. Perilaku merokok yang merusak ini tidak hanya membahayakan kesehatan individu, tetapi juga merampas masa depan generasi muda kita.

Sementara semua orang sudah tahu betapa berbahayanya rokok, mengapa banyak yang tetap terjebak dalam kebiasaan ini?

Jawabannya tidak sederhana. Faktor penyebabnya seringkali merupakan kombinasi berbagai pengaruh, baik psikologis maupun sosial. Banyak remaja yang mulai merokok karena mereka terpengaruh oleh lingkungan sekitar, seperti teman, keluarga, atau orang terdekat yang tanpa sadar menjadi panutan.

Merokok sering dianggap sebagai alternatif untuk "healing" dari masalah yang dihadapi. Tekanan sosial dan kehidupan yang penuh tantangan membuat sebatang rokok terasa seperti solusi sementara untuk meredakan ketegangan. Sensasi yang ditawarkan sangat menenangkan. Termasuk kemampuan untuk menghembuskan asap dengan gaya tertentu, menambah daya tariknya.

Menyelami Kesadaran di Balik Kebiasaan

Namun, semakin banyak yang merokok, semakin banyak pula dalih yang mereka ciptakan untuk membenarkan kebiasaan ini. Banyak orang yang telah menjabarkan terkait risiko dan kematian akibat merokok. Akan tetapi jawaban mereka, “Sudahlah, terkait hidup dan mati, itu sudah diatur”.

Ketika ditanya tentang dampak bagi orang-orang disekitar, beberapa dari malah mengklaim justru merekalah yang berjasa memakmurkan negeri. Ironis, bukan? Memang kenyataanya masifnya penjualan rokok akan menambah pendapatan negara. Tak dipungkiri, mereka bisa berbangga dengan jasa tak langsung yang mereka hasilkan.

Mereka menganggap itu adalah hal yang positif, tanpa menyadari dampak kesehatan yang mengintai. Sikap ini menunjukkan kurangnya kesadaran akan dampak kesehatan, baik bagi diri sendiri maupun bagi perokok pasif di sekitar mereka.

Perilaku merokok tidak hanya berpengaruh pada diri perokok itu sendiri, tetapi juga memberikan dampak serius bagi orang lain. Lebih jauh lagi, beberapa oknum perokok tak punya rasa bersalah. Contohnya adalah dengan seenaknya merokok ditempat umum atau saat mengendarai kendaraan. Beberapa kali ditemui orang-orang yang merokok saat berhenti di lampu merah. Asap yang dikeluarkan membuat resah indra penglihatan dan penciuman.

Hal ini semakin menyedihkan ketika perokok tersebut adalah orang terdekat kita. Meski telah diingatkan berkali-kali, banyak dari mereka yang tetap bebal. Terkadang lingkungan sekitar malah mendorong mereka untuk terus merokok.

Pentingnya Edukasi dan Dukungan

Di sinilah dukungan kita menjadi sangat penting. Saran yang empatik dan dukungan dari orang-orang terdekat sangat diperlukan. Mengajak mereka berbicara tentang dampak merokok bukanlah tugas yang mudah. Namun, mendengarkan dan mencoba memahami perspektif mereka adalah langkah awal untuk mendukung mereka agar dapat mengambil langkah positif.

Jika nasihat sulit diterima, kita bisa mencoba untuk bertukar pendapat. Sebagai seseorang yang peduli dengan kesehatan kita dapat menawarkan dukungan melalui edukasi dan menjauhkan diri dari lingkungan para perokok. Dalam berdiskusi tekankan pula bahwa keputusan untuk berhenti merokok adalah langkah penting untuk kesehatan jangka panjang.

Mengatasi stres dengan merokok hanyalah solusi sementara. Sejatinya masalah itupun tak hilang, hanya dengan satu hisapan aja seakan-akan menghilang. Namun, saat hisapan itu berhenti ketegangan muncul kembali.

Dalam banyak kasus, perokok mencari rokok sebagai cara untuk meredakan stres dan kecemasan, padahal yang mereka butuhkan adalah ketenangan jiwa. Sejatinya hal itu bisa kita lakukan dengan memperbanyak beribadah, berdzikir, dan berdoa. Seperti pada Firman Allah dalam QS Ar-Ra'd ayat 28 menyatakan, “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”

Dengan beribadah, kita mengingat tujuan hidup dan menemukan makna di balik setiap tantangan yang kita hadapi. Ketika kita menghadapi masalah yang tampak besar, ingatlahkan bahwa Tuhan kita jauh lebih besar dari semua masalah yang ada.

Sehat itu Mahal

Nikmat sehat adalah anugrah terbesar dalam hidup. Salah satu cara mensyukurinya yaitu dengan menjaga tubuh yang telah Tuhan titipkan kepada kita. Menghentikan kebiasaan merokok juga merupakan cara kita mensyukuri nikmat ini.

Melihat di antara kita yang masih terjebak dalam kebiasaan merokok, mari kita bersama-sama menunjukkan kepedulian. Jika seseorang belum siap untuk berhenti merokok, kita perlu menghargai perjalanan mereka. Perjalanan untuk berhenti merokok bukanlah hal yang mudah, tetapi kita bisa menjadi pendorong perubahan bagi orang-orang terdekat di sekitar kita.

Bagi para perokok aktif, saatnya untuk kembali merenung. Dengan segenap kesadaran, mulailah berhenti secara perlahan. Jika masih terjebak dalam kebiasaan merokok, jangan ragu untuk meminta bantuan dan saran dari orang-orang terdekat.

Latihlah dengan mencari konsumsi atau kebiasaan positif lain. Setiap langkah yang kita ambil secara konsisten, perlahan akan mengubah diri kita. Serta kenali lebih jauh hakikat hidup kita. Dengan begitu kita dapat menemukan sumber ketenangan yang lebih dalam daripada hembusan asap relaksasi yang ditawarkan dari sebatang rokok.

Haura Khiara Athanasywa, Mahasiswi Fakultas Kedokteran UII