Halte Alam Baka: Bertemunya Rindu dari Kehilangan yang Belum Usai

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Haya Anika Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel yang menggambarkan bahwa kehidupan akan selalu berpasangan dengan kematian yang merupakan suatu hal yang pasti terjadi. Mengajak pembaca untuk belajar tentang suatu proses penerimaan terhadap pencarian makna dalam sebuah kehilangan sebagai bentuk keikhlasan.
Sinopsis Halte Alam Baka
Novel ini bercerita tentang seorang jurnalis muda bernama Julian yang bekerja di Portal Berita Suara Kita. Julian bertanggung jawab dalam pembuatan rubrik “Kisah Pembaca”. Kisah Pembaca adalah rubrik yang menceritakan kumpulan cerita unik dari pandangan pembaca yang dikirim secara langsung oleh para pembaca juga. Cerita yang terpilih adalah cerita yang menarik dan cocok untuk dijadikan bahan diskusi antar pembaca. Saat hendak mengisi rubrik tersebut, Julian menerima beberapa e-mail yang menceritakan tentang sebuah halte misterius berwarna merah dengan seorang nenek yang hobi merajut di dekat halte. Cerita tersebut berhasil membuat Julian tertarik untuk menyelidikinya dan mengunggahnya sebagai liputan. Liputan tentang halte tersebut seketika menjadi viral. Orang-orang bahkan menjuluki halte tersebut sebagai “Halte Alam Baka” karena bisa mempertemukan dengan seseorang yang sudah mati. Dalam penyelidikannya pun, Julian tanpa sengaja bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan masa lalunya dan masa depannya.
Resensi
Novel berjudul Halte Alam Baka adalah sebuah novel yang bergenre slife of life dengan sisi magis dan fantasi di dalamnya. Novel ini menggunakan alur maju mundur dengan latar cerita waktu yang terjadi pada tahun 202X dan 199X. Meskipun begitu, penulis berhasil menyajikan alur maju mundur tersebut secara rapi sehingga tidak membingungkan para pembaca untuk memahami ceritanya.
Kai Elian berhasil menggambarkan tiap-tiap tokoh dalam novel ini dengan menarik. Tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan dengan karakter yang berbeda dan unik. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan penulis sangat mudah untuk dipahami. Ketika membaca novel ini, kita seperti diajak pulang dan pergi menggunakan mesin waktu untuk melihat runtutan peristiwa yang terjadi pada tahun 199X dan 202X.
Alur cerita dalam novel ini cenderung memberi kesan “heartwarming” bagi para pembacanya. Hal itu membuat pembaca bisa tersentuh ketika membaca kutipan-kutipan dalam novel ini. Salah satu bagian yang saya sukai adalah ketika tokoh Dira dan Inke bertemu dengan Ava, anaknya, dalam keadaan sehat. Kemudian, sang nenek berkata, “Apa kamu ingat permintaan terakhirmu?”. Lalu, Dira menjawab, “Tuhan tolong jaga anakku”. Menurut saya, percakapan itu berhasil membuat hati saya tersentuh.
Selain itu, penggambaran konflik dalam novel ini cukup kompleks. Keterkaitan konflik juga dapat dilihat secara jelas. Konflik pada tahun 199X memberikan pengaruh terhadap konflik di tahun 202X. Hal itu membuat para pembaca merasa dibuat penasaran dan ketagihan untuk terus membaca di setiap bab selanjutnya.
Meskipun menggunakan genre slice of life, Kai Elian tetap memberikan plot twist dalam ceritanya. Uniknya, penulis berhasil menyisipkan plot twist secara pelan namun mengena bagi para pembacanya. Cocok dengan plot twist yang ada dalam genre slice of life.
Meskipun begitu, adanya tokoh-tokoh di tahun 202X dan 199X ternyata saling memiliki keterkaitan yang penting dalam isi cerita. Keterkaitan tersebut membentuk suatu hubungan keluarga yang tidak dituliskan pada bagian awal cerita. Sehingga, membuat pembaca sedikit kebingungan dan perlu untuk memeriksa halaman awal untuk mengingatnya kembali. Selain itu, terdapat beberapa konflik atau hal menarik yang seharusnya bisa diceritakan secara lebih lengkap dalam novel ini. Namun, tidak dibahas dan hanya disebut secara singkat saja.
Rekomendasi
Novel Halte Alam Baka ini memiliki gaya cerita yang baru. Pemilihan “halte” sebagai tempat untuk bertemunya orang-orang yang hidup dan mati menjadi bagian yang menarik. Dalam novel juga disebutkan bahwa, Julian menganggap bahwa halte adalah tempat yang istimewa bagi para penumpang. Di halte, penumpang bisa terbantu untuk pergi ke “tempat yang menjadi tujuan perjalanan”. Saya bisa mengartikan sebagai tempat untuk pergi orang-orang yang sudah mati ke tujuan yang sebenarnya. Novel ini direkomendasikan untuk pembaca yang ingin membaca bacaan dengan tema yang ringan dan menyentuh hati. Meskipun ringan, novel ini juga memiliki konflik-konflik yang bisa membuat kita berkaca tentang makna kehilangan dan rasa keikhlasan. Saya memberi rating 4.5/5 untuk novel ini.
Kesimpulan
Novel Halte Alam Baka karya Kai Elian merupakan novel keempatnya yang berhasil menyajikan alur cerita yang fresh bagi para pembaca. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri. Novel ini bukan sekedar novel fiksi, namun novel yang mengajarkan nilai baik yang bisa membuka hati kita untuk belajar ikhlas dalam menerima kehilangan.
Identitas Buku
Judul : Halte Alam Baka
Penulis : Kai Elian
Editor : Karina Anjani
Penyunting Aksara : Novera Kresnawati
Ilustrasi Sampul : Muhammad Sabilihaq
Tahun Terbit : 2025
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 280 Halaman
ISBN : 978-602-06-8238-9 dan 978-602-06-8238-6 (EPUB)
