Kelebihan Media Sosial Timbulkan Ancaman bagi Kehidupan Sosial Manusia

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Haya Anika Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Munculnya teknologi komunikasi dan informasi digital yang semakin berkembang memberikan kemudahan dalam kehidupan di masyarakat. Melalui teknologi tersebut, masyarakat dapat saling bertukar informasi, menyebarkan berita, dan berinteraksi secara bebas (freedom) tanpa adanya batas geografis yang menghalanginya. Teknologi tersebut seolah membentuk suatu jaringan yang membuat orang-orang di dalamnya dapat saling terhubung satu sama lain, sehingga memunculkan pengaruh yang memengaruhi kehidupan masyarakat itu sendiri.
Pada era modern, masyarakat kini lebih sering menggunakan media sosial sebagai tempat untuk berkomunikasi. Selain itu, mereka juga menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten dan memperoleh informasi secara cepat. Tidak berhenti sampai di situ, kelebihan tersebut bisa menjadi suatu ancaman yang perlu untuk kita waspadai. Ancaman tersebut antara lain berbentuk maraknya penyebaran berita-berita palsu (hoax), konten yang tidak sesuai norma sosial, hilangnya identitas diri, dsb. yang dapat berdampak pada kehidupan sosial masyarakat itu sendiri.
Ancaman tersebut menjadi bukti bahwa adanya media sosial memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Hal itu akan menjadi masalah yang besar jika masyarakat terus bersikap tidak peduli tentang bahaya yang ditimbulkan dari penggunaan media sosial.
Efek tanpa batas media
Seperti yang disebutkan sebelumnya, media sosial mampu memberikan efek tanpa batas dalam menyebarkan berbagai macam informasi. Banyaknya informasi yang tersebar, menimbulkan rasa ketergantungan dalam diri manusia. Ketergantungan tersebut akan membuat mereka terus menerus menggunakan media sosial sebagai rutinitas dalam kesehariannya. Hal itu dibuktikan pada era sekarang banyak masyarakat yang terbiasa untuk lebih fokus terhadap telepon gengamnya (handphone) dibandingkan lingkungan nyata di sekitarnya.
Paparan media merubah persepsi masyarakat (Teori Kultivasi)
Melalui kebiasaan tersebut membuat masyarakat akan lebih banyak terpapar informasi-informasi yang ada di dalam media sosial. Semakin sering mereka terpapar informasi yang beragam, semakin besar kemungkinan mereka akan mudah terpengaruh pola pemikirannya terhadap lingkungan nyata tempat mereka tinggal seharusnya, bukan di dunia digital. Hal itu sesuai dengan Teori Kultivasi oleh George Gerbner (1969) yang menjelaskan bahwa adanya media massa (khususnya, televisi) dapat mempengaruhi persepsi masyarakat secara bertahap yang berujung merubah persepsi mereka terhadap realitas di lingkungan nyata.
Dalam teorinya, Gerbner menjelaskan bahwa seseorang yang terpapar konten media dalam jangka waktu yang panjang, contohnya kejahatan, akan lebih mudah merasa ketakutan ketika berada di luar lingkungannya. Hal itu disebabkan, bahwa seseorang akan menerima pesan dari media massa menjadi sesuatu yang sesuai dengan yang ada dalam realitas nyata (terkultivasi).
Berdasarkan penjelasan dari teori tersebut, membuktikan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan akan merubah persepsi masyarakat dalam kehidupannya. Masyarakat akan menjadi individu yang bisa dibilang “lemah”. Mereka akan menjadi mudah panik, takut, cemas atau gelisah. Sikap tersebut dapat muncul karena masyarakat menelan mentah-mentah informasi yang ada dalam media sosial. Masyarakat tidak menyadari bahwa informasi yang ada dalam media sosial belum tentu merupakan sesuatu hal yang benar. Dengan begitu, ancaman penggunaan media sosial benar-benar sudah berubah menjadi fenomena yang berdampak negatif ke masyarakat.
Bagaimana cara menggunakan media sosial secara bijak?
Tak bisa dipungkiri, media sosial memang memiliki kelebihan dalam mempermudah memperoleh informasi secara cepat dan luas. Dari penjelasan di atas, kelebihan media sosial pun dapat menjadi suatu ancaman jika masyarakat tidak secara bijak dalam menggunakannya. Oleh karena itu, masyarakat sebagai pengguna harus memiliki tameng untuk mencegah ancaman-ancaman tersebut terjadi. Hal itu dapat dilakukan dengan cara, antara lain:
Kesadaran untuk selalu berhati-hati dalam menggunakan media sosial
Melakukan verifikasi atau pengecekan validitas terhadap segala informasi yang diterima melalui media sosial
Meningkatkan literasi digital
Menyebarkan konten-konten yang sesuai dengan norma sosial dan informasi yang faktual.
Dengan melakukan hal tersebut, diharapkan masyarakat dapat menjadi pengguna media sosial yang dapat menikmati kelebihan media sosial dengan cara yang sebenarnya dan ancaman yang akan muncul bisa dicegah dengan baik.
Referensi:
Firmansyah, A. H. R., Dewi, C. N., Najmiah, N., Chairunnisa, S. K., Fuadin, A., & Putri, V. I. (2024). Krisis Pemahaman Moral dan Etika dalam Penggunaan Media Sosial. Artikulasi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(1), 34-40.
Rahman, A., & Hilmiyah, M. (2024). Media Sosial dan Masyarakat: Ditinjau Dari Analisis Kultivasi Media. KOMUNIDA, 79-97.
