Menyusuri Perjalanan Penuh Melodi Sekaligus Bernostalgia di Museum Lokananta

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Haya Anika Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Solo terkenal dengan kota yang beragam akan destinasi wisatanya. Mulai dari wisata kuliner, museum, dan kampung batik yang semuanya menarik untuk dikunjungi. Salah satu wisata yang belakangan ini kembali hype di kalangan anak muda adalah Lokananta Bloc. Lokananta adalah museum perekaman dan pabrik piringan hitam milik Negara Indonesia. Lokananta berlokasi di Kerten, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Ciri khas bangunan Lokananta adalah bangunan yang unik dengan mempertahankan bangunan tuanya. Hal itu membuat saya tertarik untuk berkunjung pada hari Minggu, 26 Oktober 2025. Alasan saya memilih Lokananta ini karena saya penasaran dan merasa terdorong untuk merasakan sensasi bernostalgia tentang perekaman di Indonesia.
Sejarah Lokananta
Dulunya, Lokananta didirikan dengan tujuan untuk menyuplai konten siaran dari RRI (Radio Republik Indonesia) dan untuk mendukung industri musik nasional.
“Tujuannya dulu untuk menyuplai konten-konten siaran RRI. Jadi, biar RRI lebih banyak mendukung dan muterin lagu-lagu Indonesia, sekaligus Lokananta ini juga bisa mendukung industri musik nasional”, ucap Taufiq (29) sebagai tour guide Museum Lokananta.
Taufiq (29) juga mengatakan bahwa nama Lokananta sendiri diambil dari kisah pewayangan, yakni nama gamelan yang bisa berbunyi sendiri untuk menghibur para dewa di kahyangan.
Fakta menarik dari Museum Lokananta yaitu banyak tokoh terdahulu yang ternyata merupakan keluarga dari artis Indonesia. Misalnya, Vidi Aldiano yang merupakan cucu dari tokoh keroncong S. Darsih Kissowo.
Museum yang dipenuhi ruang-ruang unik dan menarik
Ketika menginjakkan kaki pertama kali di Lokananta, saya merasa kebingungan karena tidak tahu dimana letak museumnya. Akhirnya, saya iseng untuk mengikuti pengunjung di depan saya. Berharap menuju di tempat yang benar, ternyata pengunjung itu memiliki acara lain di Lokananta. Saya merasa malu karena percaya diri ketika mengikutinya. Kemudian, saya memutuskan untuk bertanya kepada petugas di sekitar saja.
Begitu menemukan museumnya, saya dibuat takjub. Masuk di ruang pertama, saya seperti diajak kembali ke masa lalu tentang sejarah awal mula berdirinya Lokananta. Selanjutnya, saya pergi ke ruangan yang penuh akan gamelan. Di dalamnya, terdapat lantunan musik gamelan yang diputar dalam ruangan. Tenang, syahdu, dan damai, itu yang bisa saya rasakan ketika masuk dalam ruangan itu. Perasaan itu membuat saya seperti tidak ingin berpindah dari tempat itu.
Selanjutnya, saya diajak untuk “ikut” dalam perjalanan bagaimana sebuah piringan hitam atau kaset dibuat. Di ruangan ini kita bisa melihat prosesnya secara jelas. Uniknya, ruangan ini juga memutar lagu berjudul Bengawan Solo karya Gesang yang menambah perasaan takjub ketika berada di dalamnya. Kemudian, saya diajak ke ruangan yang penuh akan koleksi piringan hitam dari tahun ke tahun. Ruangan ini tidak terlalu besar dan memiliki rak yang mengelilingi ruangannya. Di dalam rak terdapat piringan hitam beserta sorot lampu kuning di dalamnya. Hal itu menambah kesan hangat dan aesthethic. Tempat ini juga dikenal sebagai spot foto yang terkenal di Lokananta.
Setelah diajak memasuki ruangan yang cantik, kini saya diajak ke ruangan yang sangat gelap. Terdapat kain putih sebanyak empat helai yang menjuntai dari atas. Proyektor memantulkan gambar-gambar tepat di keempat kain putih tersebut. Saya dibuat sedikit merinding ketika ruangan ini menyajikan rekaman suara proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diucapkan oleh Ir. Soekarno. Rekaman yang sering kita dengar. Menariknya, saya mendapatkan insight pengetahuan baru di sini. Ternyata, suara proklamasi tersebut bukan suara asli yang direkam pada saat hari kemerdekaan. Melainkan, suara yang direkam ulang oleh Ir. Soekarno atas desakan dari Jusuf Ronodipuro.
Museum Lokananta ini memiliki banyak sekali ruangan. Setiap ruangan di dalamnya memiliki ciri khas dan suasana yang berbeda. Melalui perjalanan yang dipenuhi melodi-melodi musik jaman dulu membuat saya merasa ikut bernostalgia di sini. Lokananta berhasil membuat saya merinding dan terkagum-kagum.
Bukan hanya sekadar tempat bersejarah
Lokananta yang sekarang merupakan hasil revitalisasi. Semenjak dilakukan revitalisasi, Lokananta kini bukan hanya sekedar museum saja. Namun, juga dijadikan sebagai tempat creative hub yang bisa digunakan oleh siapa saja. Oleh karena itu, banyak kegiatan yang dilakukan di Lokananta, seperti konser musik, festival, atau kegiatan perkumpulan lain. Banyak pengunjung yang datang ke Lokananta untuk bersantai atau untuk menambah pengetahuan lewat museum seperti yang saya lakukan.
“Kebetulan saya orangnya suka seni musik ya, jadi saya tertarik untuk datang ke Museum Lokananta hari ini”, ucap Nida (19) sebagai pengunjung Museum Lokananta.
Cara mengunjungi Lokananta
Tiket masuk Museum Lokananta sendiri berkisar Rp25.000 hingga Rp35.000 untuk wisata lokal dan Rp50.000 hinga Rp70.000 untuk wisata asing. Saya sarankan jika kalian ingin berkunjung ke Museum Lokananta ini, kalian bisa melakukan pemesanan tiket secara online melalui Instagram Lokananta. Namun, jika kalian hanya ingin menikmati waktu bersantai bersama teman atau keluarga di Lokananta, kalian bisa masuk di area tamannya secara gratis. Di sana juga tersedia berbagai macam toko yang menjual makanan dan aksesoris yang lucu.
Lokananta bukan sekadar tempat untuk menambah pengetahuan kita tentang perekaman musik di Indonesia, tetapi juga tempat untuk kita mulai menemukan kehangatan secara syahdu bersama dengan orang terdekat.
