Konten dari Pengguna

Fenomena Soft Life: Mengapa Banyak Anak Muda Tidak Lagi Mengejar Hustle Culture?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hayari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang teman pernah bercerita bahwa setiap pukul tujuh malam ia selalu mematikan notifikasi Slack. Anehnya, laptopnya tetap ia bawa ke meja makan. Baru setelah beberapa lama saya memahami alasannya. Bukan karena masih ada pekerjaan, melainkan karena ia takut sewaktu-waktu atasannya menghubungi.

Ilustrasi perempuan duduk didepan laptop pada malam hari (Foto: A. C. via unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan duduk didepan laptop pada malam hari (Foto: A. C. via unsplash)

Dari Hustle ke Soft Life

Ada masa ketika sibuk adalah simbol prestise. Semakin sering seseorang berkata, "Saya lagi banyak kerjaan", semakin ia dianggap produktif. Pulang larut, membalas pesan kantor di akhir pekan, hingga menyelesaikan pekerjaan sambil berlibur pernah dipandang sebagai bukti dedikasi. Istirahat justru terasa seperti kemewahan yang harus ditebus dengan rasa bersalah.

Namun, beberapa tahun terakhir, pemandangannya mulai berubah. Media sosial dipenuhi video orang-orang yang menikmati pagi tanpa terburu-buru, berjalan kaki setelah pulang kerja, membaca buku di sudut kafe, atau sekadar memasak makan malam untuk dirinya sendiri. Konten-konten seperti itu tidak lagi dianggap membosankan. Sebaliknya, banyak orang merasa iri melihat hidup yang tampak lebih tenang.

Fenomena ini dikenal sebagai soft life. Sayangnya, istilah tersebut sering disalahpahami. Ini bukan ajakan untuk bermalas-malasan ataupun menolak bekerja keras. Soft life merupakan cara pandang yang mempertanyakan satu hal sederhana: mengapa kesuksesan harus selalu dibayar dengan kelelahan?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan karena generasi muda hidup di masa yang penuh paradoks.

Teknologi membuat pekerjaan lebih mudah diselesaikan, tetapi juga membuat pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Ponsel yang seharusnya memudahkan komunikasi justru membuat kantor seolah ikut pulang ke rumah. Notifikasi datang tanpa mengenal jam kerja.

Di sinilah perubahan terbesar dunia kerja terjadi. Dulu pekerjaan menghabiskan waktu kita. Hari ini, pekerjaan juga menghabiskan ruang di kepala kita. Bahkan ketika tidak sedang bekerja, kita tetap merasa harus siap bekerja. Kelelahan tidak lagi datang karena banyaknya tugas, tetapi karena otak tidak pernah benar-benar mendapatkan izin untuk beristirahat.

Akhir pekan tidak lagi benar-benar menjadi akhir pekan. Ironisnya, generasi yang paling sering berbicara tentang work-life balance justru tumbuh di zaman ketika batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Karena itu, banyak orang merasa tetap bekerja meski laptop sudah ditutup. Yang selesai hanyalah jam kantor. Pikirannya belum.

Mengapa Generasi Muda Berubah?

Fenomena ini juga tercermin dalam berbagai survei global. Deloitte dalam Gen Z and Millennial Survey 2026 menemukan bahwa hanya 25% Gen Z yang masih menginginkan percepatan karier dengan promosi yang sangat cepat. Sebaliknya, sebagian besar lebih memilih pertumbuhan yang bertahap dan berkelanjutan. Alasan utamanya bukan karena kehilangan ambisi, melainkan karena mereka tidak ingin mengorbankan kesehatan mental dan keseimbangan hidup demi mengejar jabatan.

Belum lagi tekanan yang datang dari media sosial. Setiap hari kita disuguhi cerita tentang orang yang berhasil membeli rumah di usia muda, membangun bisnis dengan omzet miliaran, atau memperoleh promosi jabatan sebelum usia 30 tahun. Kita melihat pencapaiannya, tetapi jarang melihat kegagalan, utang, atau kelelahan yang mungkin mereka alami di balik layar. Lama-kelamaan, kesuksesan berubah menjadi perlombaan yang bahkan garis finisnya tidak pernah jelas.

Ada ironi lain yang jarang disadari. Dahulu, orang bekerja keras agar suatu hari bisa menikmati hidup. Kini, sebagian orang justru merasa harus menikmati hidup agar kontennya tetap menarik, lalu bekerja lebih keras lagi untuk membiayai gaya hidup tersebut. Batas antara kehidupan nyata dan citra yang ingin ditampilkan di media sosial perlahan menjadi kabur.

Tren ini begitu mudah diterima oleh banyak anak muda. Mereka tidak sedang mencari hidup yang lebih mudah. Mereka sedang mencari hidup yang terasa benar-benar milik mereka sendiri, bukan hidup yang terus-menerus dipertontonkan atau dibandingkan dengan kehidupan orang lain.

Soft life sering dianggap sebagai kemewahan. Padahal, bagi banyak orang, justru itulah bentuk bertahan hidup. Di tengah situasi itu, tidak mengherankan jika banyak anak muda mulai bertanya kepada diri mereka sendiri: apakah aku benar-benar mengejar impianku, atau hanya berusaha mengejar standar hidup yang diciptakan orang lain?

Pertanyaan seperti inilah yang perlahan melahirkan fenomena soft life. Pergeseran cara pandang itu sebenarnya sudah terlihat dalam preferensi mereka saat memilih pekerjaan.

Deloitte menemukan bahwa setengah dari Gen Z memandang stres, burnout, dan kekhawatiran terhadap keseimbangan hidup sebagai hambatan utama untuk mengejar posisi kepemimpinan. Angka itu menunjukkan bahwa persoalannya bukan kurangnya ambisi, melainkan berubahnya prioritas.

Artinya, mereka tidak menolak tanggung jawab, tetapi mulai mempertanyakan harga yang harus dibayar untuk mencapainya. Namun, perubahan ini bukan berarti generasi muda kehilangan ambisi. Justru sebaliknya. Mereka tetap ingin memiliki karier yang baik, penghasilan yang layak, dan masa depan yang lebih aman.

Bedanya, mereka mulai mempertanyakan cara mencapainya. Jika dulu bekerja hingga larut malam dianggap sebagai bukti keseriusan, kini semakin banyak orang percaya bahwa produktivitas juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Yang Berubah Bukan Ambisi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui burnout sebagai sindrom yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Kesadaran mengenai isu ini juga semakin terlihat pada generasi muda.

Mungkin yang sedang ditinggalkan bukanlah kerja keras, melainkan glorifikasi terhadap kelelahan. Selama bertahun-tahun, kita terbiasa memuji orang yang terus bekerja tanpa henti. Padahal, jarang ada yang bertanya apakah semua itu benar-benar membuat mereka bahagia.

Ilustrasi kelelahan bekerja atau burnout (Foto: Nubelson Fernandes via unsplash)

Inilah perubahan terbesar yang sedang terjadi. Definisi sukses tidak lagi hanya soal jabatan, gaji, atau seberapa padatnya jadwal dalam satu hari. Sukses mulai diartikan sebagai kemampuan untuk membangun hidup yang tetap produktif tanpa kehilangan waktu bersama keluarga, kesehatan, hubungan dengan orang-orang terdekat, atau ruang untuk menikmati hidup.

Pergeseran ini bukan berarti hidup menjadi lebih mudah. Justru sebaliknya. Semakin banyak aplikasi yang diciptakan untuk menghemat waktu, semakin banyak orang merasa tidak pernah memiliki cukup waktu. Kita bisa bekerja dari mana saja, tetapi pekerjaan juga mengikuti ke mana pun kita pergi.

Tren ini lahir bukan karena manusia modern menjadi lebih manja, melainkan karena mereka mulai menyadari bahwa hidup yang terus-menerus dipenuhi produktivitas perlahan mengikis kemampuan untuk benar-benar menikmati kehidupan.

Mencari Kendali atas Hidup

Kita sering mengira setiap kesempatan harus diambil. Setiap promosi harus diterima. Setiap target harus dicapai secepat mungkin. Padahal yang paling melelahkan bukan pekerjaannya, melainkan keyakinan bahwa kita tidak pernah boleh berhenti.

Ukuran kedewasaan bukan lagi seberapa banyak kita sanggup memikul beban, melainkan seberapa bijak kita memilih beban mana yang memang pantas dipikul. Hidup yang baik bukan hanya soal seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja, tetapi juga apakah ketika duduk di meja makan, pikiran kita benar-benar sudah pulang.

Bekerja bukan hanya soal mencari penghasilan. Ia juga tentang bagaimana seseorang tetap memiliki ruang untuk menentukan ritme hidupnya, tanpa merasa terus-menerus dikejar. Itulah yang sedang dicari banyak anak muda hari ini: bukan hidup yang lebih mudah, melainkan hidup yang masih terasa milik mereka sendiri.