Konten dari Pengguna

Kind vs Nice Leadership: Ketika Pemimpin Terlalu Baik Menurunkan Standar Tim

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hayari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pemimpin Perempuan. Foto: Bangkok Click Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pemimpin Perempuan. Foto: Bangkok Click Studio/Shutterstock

Pemimpin yang Disukai Belum Tentu Membuat Tim Bertumbuh

Ada fenomena yang cukup menarik di banyak tempat kerja. Ketika atasan sedang cuti atau tidak berada di kantor, sebagian orang tiba-tiba datang sedikit lebih siang. Tenggat yang biasanya dikejar mulai terasa lebih longgar. Rapat yang dijadwalkan pukul sembilan baru benar-benar dimulai beberapa menit kemudian.

Bukan berarti semua orang mendadak kehilangan etos kerja. Situasi itu menunjukkan satu hal: perilaku manusia sering kali dipengaruhi oleh batas yang jelas.

Pengalaman-pengalaman kecil seperti ini membuat saya bertanya: apa yang sebenarnya membuat sebuah tim tetap disiplin? Apakah karena mereka bekerja dengan penuh kesadaran, atau karena mereka tahu ada seseorang yang akan menegakkan standar ketika mulai bergeser?

Pertanyaan itu membawa saya pada satu perbedaan yang sering luput dibahas: perbedaan antara nice leadership dan kind leadership.

Ketika Standar Mulai Mengendur

Banyak orang menganggap keduanya sama. Padahal, ketika diuji dalam situasi yang sulit, hasilnya bisa sangat berbeda. Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Atasan saya sebenarnya baik banget."

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Setelah memperhatikan cara timnya bekerja, muncul gambaran yang berbeda. Tenggat waktu sering mundur. Evaluasi jarang dilakukan. Orang yang bekerja keras mendapat perlakuan yang hampir sama dengan mereka yang terus mengulang kesalahan.

Saat itulah saya menyadari bahwa menjadi pemimpin yang disukai belum tentu membuat sebuah tim berkembang. Masalahnya bukan karena pemimpin tersebut tidak peduli. Justru sebaliknya. Ia terlalu ingin menjaga hubungan tetap baik.

Banyak pemimpin memilih diam karena tidak ingin membuat bawahannya kecewa. Ada yang khawatir dianggap terlalu keras. Ada pula yang merasa bahwa menegur seseorang akan merusak suasana kerja yang selama ini terasa nyaman.

Tidak ada yang salah dengan niatnya. Persoalannya, niat baik saja tidak selalu cukup untuk membangun tim yang sehat. Ambil contoh yang sederhana. Ada seorang anggota tim yang beberapa kali terlambat mengirim pekerjaannya.

Awalnya hanya terlambat satu jam. Minggu berikutnya menjadi satu hari. Lama-kelamaan, kalimat seperti "Masih saya kerjakan, nanti akan dikirim," terdengar semakin biasa. Respons yang muncul pun sering kali terdengar menenangkan. "Tidak apa-apa. Minggu depan kita coba lebih baik."

Empati tentu penting. Setiap orang bisa mengalami hari yang buruk. Ketika respons yang sama terus diulang tanpa pernah ada pembicaraan mengenai tanggung jawab, toleransi perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Yang paling menarik justru bukan perilaku orang yang terlambat. Perubahan pertama biasanya terjadi pada orang-orang yang selama ini paling disiplin. Mereka berhenti mengingatkan rekan kerja yang terlambat. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena merasa teguran mereka tidak akan mengubah apa pun selama pemimpinnya sendiri tidak bertindak.

Di titik inilah standar sebuah tim mulai turun, bukan karena kemampuan anggotanya berkurang, melainkan karena batas antara perilaku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima semakin kabur.

Berbeda dengan itu, seorang pemimpin yang mengedepankan kind leadership tidak selalu memilih jalan yang paling nyaman. Ia mungkin berkata, "Saya menghargai usahamu. Tapi keterlambatan ini sudah berdampak pada pekerjaan tim lain. Menurutmu, apa yang menjadi hambatannya? Mari kita cari solusi supaya hal ini tidak terus berulang."

Percakapan seperti itu memang tidak selalu menyenangkan. Kepedulian tidak selalu hadir dalam bentuk kalimat yang membuat orang merasa nyaman. Kadang, kepedulian justru muncul dalam bentuk keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang perlu didengar.

Fenomena serupa sebenarnya tidak hanya terjadi di kantor. Dalam kerja kelompok saat kuliah, hampir setiap orang pernah bertemu anggota yang jarang berkontribusi tetapi tetap memperoleh nilai yang sama. Di organisasi, keputusan yang kurang efektif terus dijalankan karena tidak ada yang ingin mengecewakan senior.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, banyak hubungan terlihat baik-baik saja hanya karena persoalan penting tidak pernah benar-benar dibicarakan. Harmoni memang terlihat terjaga. Sayangnya, persoalannya tidak pernah benar-benar selesai.

Ketegasan Tidak Sama dengan Kekerasan

Apa yang terjadi di banyak kantor ternyata sejalan dengan temuan Gallup. Temuan Gallup dalam State of the Global Workplace 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 23 persen pekerja di dunia yang merasa benar-benar engaged dengan pekerjaannya. Salah satu faktor yang paling konsisten memengaruhi keterikatan tersebut adalah kualitas hubungan dengan atasan, terutama kejelasan ekspektasi, umpan balik, dan dukungan untuk berkembang.

Data ini menarik karena menunjukkan bahwa orang tidak hanya membutuhkan apresiasi. Mereka juga membutuhkan arah. Mereka ingin mengetahui standar yang harus dicapai, apa yang masih perlu diperbaiki, dan bagaimana mereka bisa berkembang.

Tanpa kejelasan, rasa nyaman justru bisa berubah menjadi zona yang membuat semua orang berhenti bertumbuh. Di sisi lain, bekerja di bawah pemimpin yang sangat keras juga bukan jawaban.

Memang ada karyawan yang menjadi jauh lebih berhati-hati ketika dipimpin oleh atasan yang tegas. Mereka mengecek kembali pekerjaannya sebelum dikirim, lebih disiplin terhadap tenggat waktu, dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Ketika ketegasan berubah menjadi intimidasi, yang muncul bukan lagi rasa hormat, melainkan rasa takut. Akibatnya, orang menjadi enggan bertanya, memilih diam ketika melihat masalah, dan perlahan kehilangan keberanian untuk menawarkan ide-ide baru.

Kepatuhan memang meningkat. Sayangnya, kreativitas sering kali ikut menurun. Karena itu, persoalannya bukan memilih menjadi pemimpin yang terlalu baik atau terlalu galak. Yang dibutuhkan sebuah tim adalah pemimpin yang hangat dalam memperlakukan manusia, tetapi tegas dalam menjaga standar.

Ilustrasi leader dan manager. Foto: Shutterstock

Pemimpin tidak perlu memilih antara empati dan ketegasan. Keduanya justru saling melengkapi ketika diterapkan secara proporsional.

Ada satu hal lain yang menurut saya layak direnungkan. Kadang-kadang yang sebenarnya kita hindari bukan konflik itu sendiri. Yang kita hindari adalah rasa tidak nyaman ketika harus mengecewakan seseorang.

Padahal menjadi pemimpin memang sesekali menuntut keberanian untuk mengatakan hal-hal yang tidak populer. Menunda percakapan yang sulit mungkin membuat hari ini terasa lebih tenang, tetapi sering kali hanya memindahkan masalah ke hari esok.

Pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin mungkin tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang menyukainya. Ukuran yang lebih adil adalah seberapa banyak orang yang tumbuh setelah pernah bekerja bersamanya.

Pemimpin yang benar-benar peduli tidak hanya ingin timnya merasa nyaman hari ini. Ia ingin mereka menjadi lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Tidak semua kejujuran terasa menyenangkan saat pertama kali didengar. Namun, kejujuran itulah yang paling lama membawa manfaat.

Seseorang mungkin lupa seberapa ramah seorang pemimpin. Namun, mereka hampir selalu ingat apakah mereka bertumbuh atau justru berhenti berkembang saat bekerja bersama."

- Hayari Putri