Sustainable Fashion: Ketika Sebuah Pakaian Menjadi Pilihan untuk Menjaga Bumi

Hayari is a Public Relations Strategist focused on strategic communication, brand reputation, and the evolution of narratives within the modern digital ecosystem.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Hayari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda membeli pakaian yang hanya dipakai sekali? Bukan karena rusak. Bukan karena ukurannya berubah. Bukan pula karena warnanya memudar. Alasannya sederhana: tren sudah berganti.

Pakaian itu masih tergantung rapi di lemari hingga hari ini. Sesekali kita melihatnya dan berpikir: berapa banyak orang yang memiliki cerita serupa? Lemari kita mungkin penuh, tetapi entah mengapa sering terasa kosong.
Fenomena tersebut semakin mudah ditemukan di era media sosial. Setiap hari kita disuguhi tren terbaru, rekomendasi outfit terbaru, hingga alasan baru untuk berbelanja.
Apa yang terlihat menarik hari ini bisa dianggap ketinggalan zaman beberapa bulan kemudian. Tanpa disadari, kita mulai membeli pakaian lebih cepat daripada benar-benar menggunakannya.
Padahal, di balik sehelai pakaian yang terlihat sederhana, ada proses panjang yang jarang kita pikirkan. Ada kapas yang ditanam, air yang digunakan, energi yang dikonsumsi, pekerja yang terlibat dalam proses produksi, hingga distribusi yang membawa produk tersebut sampai ke tangan konsumen.
Ketika pertama kali memahami hal itu, cara pandang kita terhadap pakaian perlahan berubah. Kita mulai menyadari bahwa keputusan membeli pakaian ternyata bukan hanya soal penampilan. Ada dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar apa yang terlihat di cermin.
Industri Fashion dan Jejak yang Sering Tidak Terlihat
Kesadaran terhadap sustainable fashion muncul bukan tanpa alasan. Data United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa industri tekstil termasuk sektor yang memberikan tekanan besar terhadap lingkungan, mulai dari penggunaan air hingga emisi gas rumah kaca.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Earth & Environment bahkan memperkirakan industri fesyen menghasilkan lebih dari 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Angka tersebut membuat kita sadar bahwa sehelai pakaian tidak hanya memiliki harga yang tertera pada labelnya, tetapi juga jejak lingkungan yang sering kali tidak terlihat oleh konsumen.
Hal tersebut menunjukkan bahwa industri fashion termasuk salah satu sektor yang memberikan tekanan besar terhadap lingkungan. Produksi tekstil membutuhkan sumber daya yang sangat besar, mulai dari air hingga energi. Jumlah pakaian yang dibuang setiap tahun juga terus meningkat seiring berkembangnya budaya Fast Fashion.
Ironisnya, sebagian besar dari kita tidak pernah benar-benar melihat dampak tersebut secara langsung. Yang kita lihat hanyalah etalase yang menarik, potongan harga, dan tren terbaru yang muncul hampir setiap minggu ketika kita berbelanja.
Fast Fashion membuat pakaian jadi semakin mudah diakses. Namun, kemudahan tersebut juga mendorong pola konsumsi yang sering kali berlebihan. Banyak barang dibeli hanya karena keinginan sesaat, bukan karena kebutuhan untuk jangka panjang.
Membeli pakaian baru bukanlah sesuatu yang salah. Kita pun masih membeli pakaian ketika diperlukan.
Perbedaannya, kita lebih sering bertanya pada diri sendiri satu hal sederhana sebelum berbelanja: apakah kita akan tetap memakai pakaian ini dua atau tiga tahun dari sekarang?
Sustainable Fashion Bukan Tentang Menjadi Sempurna Namun Nilai Didalamnya
Banyak orang menganggap sustainable fashion sebagai gaya hidup yang rumit dan mahal. Padahal, esensinya justru sangat sederhana. Sustainable fashion merupakan upaya untuk membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab dalam mengonsumsi produk fashion. Bukan tentang menjadi konsumen yang sempurna, melainkan menjadi konsumen yang lebih sadar akan gaya hidup keberlanjutan.
Kesadaran itu bisa dimulai dari hal-hal kecil. Menggunakan pakaian lebih lama. Membeli karena kebutuhan, bukan impuls. Memilih kualitas dibanding kuantitas. Memperbaiki pakaian yang rusak. Membeli produk preloved. Semua langkah tersebut merupakan bagian dari praktik fesyen berkelanjutan.
Sustainable fashion juga menjadi salah satu penerapan cara kita untuk berpartisipasi secara nyata dalam menjaga lingkungan melalui keputusan pilihan sehari-hari.
Sering kali kita membayangkan perubahan besar harus dimulai dari kebijakan pemerintah atau keputusan perusahaan raksasa. Padahal, satu keputusan sederhana yang kita ambil hari ini juga memiliki dampak jangka panjang bagi masa depan.
Satu pakaian yang digunakan selama bertahun-tahun tentu lebih baik daripada beberapa pakaian yang hanya dipakai sesaat sebelum berakhir menjadi limbah.
Ketika Value Sebuah Produk Tidak Lagi Hanya Ditentukan oleh Harga
Berbagai brand yang memiliki pendekatan berbeda terhadap industri fesyen dan menerapkan sustainable fashion di Indonesia, misalnya, ada Sejauh Mata Memandang dan SukkhaCitta yang dikenal mengangkat konsep keberlanjutan dalam proses produksinya.
Yang menarik, daya tarik produk-produk tersebut tidak hanya terletak pada desainnya. Ada cerita di balik setiap produk. Ada proses produksi yang lebih bertanggung jawab. Ada perhatian terhadap lingkungan. Ada upaya untuk memastikan bahwa pakaian dibuat dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan alam.
Produk sustainable biasanya memiliki kualitas yang cenderung lebih tahan lama. Harga yang lebih tinggi sering kali membuat orang ragu pada awalnya. Namun, setelah digunakan dalam jangka panjang, kita mulai memahami bahwa yang dibeli bukan sekadar pakaian. Yang dibeli adalah kualitas, daya tahan, serta nilai yang menyertainya.
Produk sustainable fashion juga memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan produk massal. Banyak di antaranya diproduksi dalam jumlah terbatas sehingga menghadirkan rasa eksklusif dan kedekatan personal bagi pemiliknya.
Ada kepuasan tersendiri ketika mengenakan sesuatu yang dibuat dengan proses yang penuh perhatian, bukan sekadar mengikuti tren yang akan berganti beberapa minggu kemudian.
Pelajaran yang Sebenarnya Sudah Diajarkan Orang Tua Kita
Menariknya, semakin banyak kita belajar tentang sustainable fashion, semakin kita menyadari bahwa konsep ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Orang tua kita sudah melakukannya jauh sebelum istilah tersebut menjadi populer.
Mereka terbiasa menggunakan pakaian hingga bertahun-tahun. Mereka memperbaiki barang yang rusak. Mereka membeli sesuatu karena memang diperlukan. Jaket yang digunakan selama sepuluh tahun tidak dianggap kuno, melainkan bukti bahwa barang tersebut memiliki kualitas yang baik.
Kebiasaan itu perlahan menghilang ketika budaya konsumsi semakin cepat. Namun hari ini, generasi yang tumbuh bersama tren dan media sosial justru mulai kembali mencari nilai yang sama: membeli lebih sedikit, tetapi menggunakan lebih lama.
Membeli Lebih Sedikit, Menghargai Lebih Banyak
Pada akhirnya, sustainable fashion bukan tentang siapa yang memiliki pakaian paling ramah lingkungan. Sustainable fashion mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: menghargai apa yang kita miliki.
Menghargai sumber daya yang digunakan untuk membuatnya. Menghargai manusia yang terlibat dalam proses produksinya. Menghargai bumi yang menyediakan semua bahan bakunya. Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk membeli lebih banyak, sustainable fashion menawarkan perspektif yang berbeda.
Bahwa terkadang kontribusi terbesar bukan berasal dari apa yang kita tambahkan ke dalam lemari, melainkan dari keputusan untuk menggunakan sesuatu lebih lama.
"Pada akhirnya, fashion tidak hanya tercermin dari apa yang kita kenakan. Fashion juga tercermin dari value yang kita pilih untuk hidup bersama setiap hari sebagai bentuk cinta dan dalam komitmen kita untuk menjaga Bumi tetap lestari.” - Hayari Putri
