The Devil Wears Prada 2 dan Realitas Dunia Kerja Saat Ini

Hayari is a Public Relations Strategist focused on strategic communication, brand reputation, and the evolution of narratives within the modern digital ecosystem.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hayari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dua puluh tahun lalu, The Devil Wears Prada menjadi simbol dari satu pertanyaan besar yang akrab bagi banyak profesional muda: seberapa jauh seseorang bersedia berkorban demi karier?

Saat itu, kisah Andrea Sachs yang terjebak di bawah kepemimpinan Miranda Priestly terasa seperti gambaran dunia kerja yang keras, kompetitif, dan penuh kompromi. Kesuksesan tampak seperti sesuatu yang harus dibayar dengan waktu, energi, bahkan identitas diri.
Namun dunia telah berubah. Hari ini, tantangannya bukan hanya tentang bagaimana meraih kesuksesan. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana tetap relevan ketika teknologi, industri, dan cara kita bekerja berubah jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Di situlah The Devil Wears Prada 2 terasa menarik. Di balik dunia fashion yang glamor, film ini sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan profesional masa kini: ketakutan akan tertinggal.
Bukan tertinggal dari rekan kerja.
Bukan tertinggal dari kompetitor.
Tetapi tertinggal dari perubahan.
Dulu, sebuah majalah seperti Runway memiliki kekuatan besar untuk menentukan tren yang akan muncul. Hari ini, seorang kreator TikTok dengan kamera ponsel dan jutaan pengikut bisa memiliki pengaruh yang sama besar, bahkan lebih besar.
Perubahan semacam ini tidak hanya terjadi di industri fashion. Media, pemasaran, komunikasi, hingga dunia kreatif sedang mengalami transformasi yang sama.
Kini content creator mengubah cara orang membangun audiens. AI mengubah cara orang bekerja. Sementara itu media sosial membuat personal branding menjadi bagian dari strategi karier yang hampir tidak bisa dihindari.
Di tengah perubahan tersebut, setiap karakter dalam film ini terasa seperti representasi dari tipe profesional yang kita temui setiap hari.
Miranda Priestly
Miranda Priestly adalah mereka yang pernah berada di puncak dan kini harus menghadapi dunia yang tidak lagi bermain dengan aturan yang sama. Ia tetap cerdas, strategis, dan berpengaruh. Namun, bahkan orang sekuat Miranda pun tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa otoritas kini semakin tersebar. Pengaruh tidak lagi hanya dimiliki oleh institusi besar. Individu pun dapat membangun audiens, reputasi, dan kekuatannya sendiri.
Andy Sachs
Jika Miranda mewakili institusi, Andy mewakili profesional modern yang tumbuh di tengah ketidakpastian. Karier tidak lagi berjalan lurus seperti dulu. Banyak orang berpindah industri, mempelajari keterampilan baru, atau bahkan menciptakan jalur karier yang sebelumnya tidak pernah ada.
Generasi profesional saat ini tidak selalu bertanya, "Di mana aku akan bekerja lima belas tahun ke depan?" Mereka lebih sering bertanya, "Apakah keahlian yang kumiliki hari ini masih akan berguna lima tahun lagi?"
Kemampuan beradaptasi menjadi aset yang semakin berharga. Di era AI, pengetahuan dapat diakses siapa saja. Yang membedakan seseorang bukan lagi apa yang ia tahu, tetapi seberapa cepat ia mampu belajar hal baru.
Emily Charlton
Mungkin karakter inilah yang paling mencerminkan budaya kerja saat ini. Emily ambisius, kompetitif, dan memahami pentingnya reputasi. Jika karakter ini hidup di dunia nyata hari ini, kemungkinan besar ia memiliki profil LinkedIn yang aktif, jaringan profesional yang luas, dan personal branding yang sangat terkelola.
Tidak ada yang salah dengan itu. Faktanya, reputasi profesional memang semakin penting. Namun, ada sisi lain yang sering luput dibicarakan. Media sosial membuat kita terus-menerus melihat pencapaian orang lain. Promosi jabatan, penghargaan, bisnis baru, sertifikasi baru, hingga berbagai simbol kesuksesan muncul setiap hari di layar ponsel. Akibatnya, banyak orang merasa harus selalu bergerak. Selalu produktif. Selalu berkembang.
Budaya hustle yang dulu dianggap inspiratif perlahan mulai menunjukkan sisi gelapnya. Burnout menjadi semakin umum, terutama di kalangan profesional muda yang tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh produktivitas.
Emily mengingatkan bahwa ambisi memang dapat membawa seseorang jauh. Namun, tanpa batas yang sehat, ambisi juga dapat menjadi sumber kelelahan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Nigel Kipling
Di tengah semua itu, Nigel Kipling hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua hal harus bergerak secepat algoritma.
Ia mungkin bukan orang yang paling vokal. Ia bukan pula sosok yang sibuk membangun citra diri. Namun ia memiliki sesuatu yang semakin langka: keahlian yang mendalam.
Ketika AI mampu menghasilkan presentasi, menulis laporan, atau membuat konten dalam hitungan detik, nilai manusia justru semakin bergeser ke hal-hal yang lebih sulit direplikasi. Penilaian, kreativitas, intuisi, pengalaman, dan kemampuan melihat konteks menjadi semakin penting.
Nigel mengingatkan bahwa menjadi relevan tidak selalu berarti menjadi yang paling terlihat. Terkadang, menjadi relevan berarti memiliki kemampuan yang benar-benar dibutuhkan ketika tren datang dan pergi.
Mungkin itulah pelajaran terbesar yang bisa diambil dari The Devil Wears Prada 2. Film ini tidak lagi membicarakan tentang bagaimana mencapai puncak karier. Ia berbicara tentang bagaimana bertahan ketika puncak itu sendiri terus berubah bentuk.
Di dunia kerja hari ini, kesuksesan bukanlah garis akhir. Relevansi adalah tantangan yang harus diperjuangkan setiap hari. Karena pada akhirnya, masa depan kemungkinan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling sibuk atau paling keras bekerja.
Masa depan akan lebih berpihak kepada mereka yang mampu terus belajar, beradaptasi, dan menemukan cara baru untuk tetap bernilai ketika dunia berubah lebih cepat daripada yang mereka perkirakan.
