Konten dari Pengguna

Realitas Membunuh Idealisme: Menjadi Manusia Merdeka Tak Se-Laku Buruh Korporat

Hazel Venansius Kemal

Hazel Venansius Kemal

Mahasiswa S1 Manajemen Bisnis Universitas Dinamika Surabaya. Menaruh perhatian atas isu-isu Pendidikan, Politik, dan Ekonomi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hazel Venansius Kemal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang sedang merenungkan atau memimpikan berbagai aspirasi hidup dan tujuan masa depan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang sedang merenungkan atau memimpikan berbagai aspirasi hidup dan tujuan masa depan. Foto: Pixabay

S1 Manajemen Bisnis, bagi banyak orang, ini adalah 'jurusan sejuta umat'—sebuah pelarian bagi mereka yang bimbang. Namun bagi saya di semester kedua ini, bangku perkuliahan ini adalah monumen kekalahan. Di sini, saya bukan sedang mengejar mimpi, melainkan sedang belajar cara memangkas idealisme demi menyenangkan ekspektasi orang tua dan tuntutan realitas. Saya mulai menyadari bahwa menjadi manusia merdeka ternyata tidak memiliki nilai tukar yang cukup tinggi di mata dunia, jika dibandingkan dengan mencetak diri menjadi buruh korporat yang patuh dan 'laku' di pasar tenaga kerja.

Mimpi Menjadi Filsuf yang Kandas oleh Realitas

Jujur saja, kalau boleh memilih dan tidak memikirkan omongan tetangga atau ketakutan akan ancaman dicoret dari Kartu Keluarga, Manajemen Bisnis adalah hal yang tidak saya minati sama sekali. Minat saya sebenarnya merentang jauh di ranah humaniora dan ilmu sosial. Saya selalu membayangkan diri saya masuk jurusan Filsafat, membedah pemikiran eksistensialisme. Atau Ilmu Pemerintahan, Ilmu Politik dan Hukum Tata Negara, berdebat soal kebijakan publik dan konstitusi yang sering diobok-obok. Kalaupun melenceng sedikit, saya ingin masuk Psikologi, membedah kerumitan kognitif dan perilaku manusia.

Tapi apa daya, mari kita bicara soal realitas. Di Indonesia, idealisme semacam itu sering kali harus mati muda di tangan pertanyaan standar perayaan Lebaran: "Nanti lulus mau makan apa? Mau kerja di mana?" Demand untuk pemikir dan kritikus di negeri ini seolah nyaris nol koma sekian persen. Lowongan kerja di platform pencari kerja jarang sekali mencari seorang "Filsuf Muda" atau "Analis Negara Tingkat Entry". Ujung-ujungnya, demi urusan dapur di masa depan dan ketenangan batin orang tua, saya mengalah. Realistis saja, begitulah kata orang-orang.

Kampus yang Menjelma Pabrik Mini

Penderitaan "salah jurusan" ini makin sempurna dengan kondisi kampus tempat saya bernaung. Jangan bayangkan kampus saya seperti universitas negeri raksasa yang punya pohon rindang dan belasan fakultas. Kampus saya ini sangat pragmatis. Di sini cuma ada tiga fakultas: Fakultas Teknologi dan Informatika (FTI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), dan Fakultas Desain dan Industri Kreatif (FDIK). Sudah. Titik. Tidak ada yang namanya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), apalagi Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Di ekosistem kampus saya, Anda seolah hanya dididik untuk tiga peran utama dalam mesin industri: membuat sistem teknologi (FTI), memutar roda bisnis dari sistem itu (FEB), atau mempercantik tampilan visualnya (FDIK). Tidak ada ruang yang didedikasikan secara khusus untuk mempertanyakan mengapa sistem itu harus ada sejak awal.

Dan di sinilah saya sekarang, terjebak di FEB. Di semester dua ini, saya harus berhadapan dengan mata kuliah yang sukses membuat saya ingin membenturkan kepala ke tembok kelas: Praktikum Akuntansi dan Kewirausahaan. Saya sama sekali tidak punya minat ke sana, belum lagi ada beberapa dosen mata kuliah lain yang tidak saya suka model pembelajarannya. Mari kita kembali ke mata kuliah yang tidak saya sukai—di kelas Praktikum Akuntansi, saya dituntut untuk menyeimbangkan neraca, menghitung debet dan kredit, mencatat di buku besar dan memastikan aset sama dengan liabilitas plus ekuitas. Sementara di kelas Kewirausahaan, saya dicekoki narasi bahwa mindset paling mulia saat ini adalah membuat startup, memikirkan business plan, dan menghitung margin keuntungan. Di tengah kejemuan luar biasa menatap barisan angka di Jurnal Umum Akuntansi, saya membaca sebuah buku yang sedikit menyelamatkan kewarasan saya, sekaligus membuat saya makin sinis melihat dunia pendidikan kita: "Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed)" karya tokoh pendidik asal Brasil, Paulo Freire.

Bagi kalian yang belum familier, dalam bukunya Freire mengkritik tajam sistem pendidikan mapan yang ia sebut sebagai "pendidikan gaya bank" (banking concept of education). Dalam konsep ini, realitas pendidikan direduksi menjadi ajang transfer ilmu secara mekanis. Murid dianggap sebagai celengan (rekening) kosong, dan dosen adalah nasabah yang terus-menerus "menabung" atau mendepositokan informasi ke dalam kepala murid.

Membaca Freire membuat saya sadar: astaga, ini relate sekali dengan kehidupan perkuliahan saya! Di kelas Akuntansi yang sangat prosedural, apakah saya diajak berpikir kritis tentang mengapa sebuah sistem ekonomi menuntut perusahaan untuk terus mengakumulasi modal? Tidak. Saya cuma disuruh menghafal tata cara menghitung penyusutan aset. Di kelas Kewirausahaan, apakah dosen mengajak kami mengkritisi eksploitasi sumber daya demi menekan Harga Pokok Penjualan (HPP)? Tentu tidak. Kami hanya diajari cara agar produk laku keras di pasaran dengan modal yang ditekan seminimal mungkin.

Dalam kacamata Freire, pendidikan gaya bank semacam ini tidak bertujuan untuk membebaskan manusia, melainkan sekadar alat untuk "domestikasi" atau menjinakkan mereka. Mahasiswa dididik bukan untuk menjadi manusia yang sadar akan realitas sosialnya apalagi mengubahnya, melainkan dicetak dengan cetakan yang sama agar pas menjadi sekrup-sekrup penurut dalam mesin raksasa industri.

Bisa dibilang, secara struktural kita ini adalah kaum tertindas di bangku kuliah. Kita ditindas oleh sistem yang menuntut penyeragaman pikiran, dan lucunya, penindasan itu dibungkus dengan sangat rapi melalui silabus, sistem SKS, tekanan IPK, dan janji-janji manis kebebasan finansial setelah wisuda.

Orang tua saya, dengan segala niat baik dan kasih sayang mereka, tanpa sadar juga menjadi korban sekaligus agen dari sistem yang pragmatis ini. Mereka memaksa saya masuk jurusan Manajemen Bisnis karena itulah yang didiktekan oleh "pasar". Pasar selalu berteriak butuh akuntan, pasar butuh manajer, pasar butuh pemasar. Pasar tidak butuh filsuf yang banyak tanya soal makna eksistensi. Pasar tidak peduli dengan ahli hukum tata negara yang mengkritisi kejanggalan undang-undang yang pro-investor. Pasar maunya tenaga kerja yang efisien, bisa disuruh-suruh, dan tidak banyak protes.

Belajar Memahami Musuh dari Dalam

Freire mengajarkan bahwa pendidikan sejati harusnya bersifat dialogis, memanusiakan manusia, dan membebaskan. Pendidikan ideal seharusnya mengarahkan mahasiswa pada "konsientisasi", yaitu tercapainya kesadaran kritis terhadap realitas yang menindas, untuk kemudian mendorong kita bertindak mengubah realitas tersebut. Tapi pertanyaannya, bagaimana saya bisa mengubah realitas kalau ekosistem pendidikan saya sehari-hari saja hanya berputar di FTI, FEB, dan FDIK? Tiga pilar utama penopang industri murni.

Tentu saja saya tidak menyalahkan teman-teman sebaya yang memang passion-nya berada di jurusan Manajemen Bisnis. Sungguh, saya justru agak iri dan menghargai mereka yang bisa dengan mata berbinar membahas strategi pemasaran atau sibuk menganalisis grafik saham. Tapi bagi mahasiswa "kesasar" seperti saya, yang jiwanya secara diam-diam tertinggal di halaman-halaman buku sosiologi, psikologi, dan hukum, rutinitas perkuliahan hari ini terasa seperti ironi komedi yang cukup getir.

Sebagai mahasiswa semester dua, saya sadar perjalanan masih sangat panjang. Berontak secara frontal dengan melempar buku Akuntansi ke muka dosen atau memutuskan drop out demi mengejar jurusan yang saya minati jelas bukan pilihan yang masuk akal hari ini. Kebutuhan realistis tetap harus dipenuhi, dan mengubah sistem pendidikan di Indonesia agar sepenuhnya humanis seperti impian Freire juga bukan urusan semalam suntuk.

Jadi, apa solusi sementaranya? Saya akan tetap duduk di kelas Manajemen Bisnis. Saya akan tetap mengerjakan tugas neraca lajur di kelas Akuntansi, dan mencoba setengah mati untuk terlihat tertarik saat mendiskusikan kanvas model bisnis di kelas Kewirausahaan. Tapi, di dalam kepala saya, saya menolak takluk untuk sekadar menjadi celengan kosong yang diisi dogma-dogma pasar.

Saya akan terus menyelipkan buku-buku kiri, filsafat, atau psikologi di sela-sela buku diktat ekonomi yang tebal itu. Saya akan berusaha menjadikan ilmu Manajemen Bisnis yang memuakkan ini bukan semata-mata sebagai pedoman hidup, tapi sebagai kacamata untuk memahami anatomi mesin kapitalisme itu sendiri. Mempelajari musuh dari dalam, katanya.

Sambil menunggu momentum kebebasan intelektual itu benar-benar tiba, ya... mari kita kembali menyelesaikan tugas input buku besar dan membuat proposal bisnis agar IPK tidak hancur lebur sejak semester dua. Sambat dan berfilsafat itu memang perlu sebagai katarsis jiwa, tapi bisa lulus tepat waktu dan tidak dimarahi orang tua rupanya tetap menjadi realitas nomor satu yang harus diamini.