Hoarding Disorder: Keinginan untuk Menimbun Barang Bekas

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari Hans Christian Coendana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Sayang sekali kalau barang ini dibuang mending aku simpan, siapa tahu akan berguna di masa depan.”
Perasaan ini seringkali muncul apabila kita memiliki berbagai barang seperti botol bekas, plastik bekas, atau kertas ujian bekas. Terkadang menurut kita barang-barang tersebut masih dapat digunakan di masa yang akan datang, tetapi apakah kamu pernah mendengar tentang salah satu perilaku gemar menimbun yang dikenal dengan sebutan Hoarding Disorder.

Hoarding Disorder dapat diartikan dengan seseorang yang memiliki barang-barang yang jumlahnya berlebihan dan juga memiliki kesulitan dalam membuang objek dan berakhir menimbun barang-barang ini, bahkan ketika secara objektif tidak bernilai. (Kring dkk., 2012). Tenang saja, seseorang yang memiliki hoarding disorder berbeda dengan orang-orang yang mengoleksi barang-barang antik atau barang-barang bersejarah.
Apa yang membedakan Hoarding Disorder dengan kolektor barang antik?
Seorang hoarder biasanya memiliki ciri-ciri berikut, suka mengumpulkan atau menyimpan banyak barang, terutama barang yang tampak tidak berguna atau tidak bernilai bagi kebanyakan orang, bahkan barang-barang tersebut sudah berdampak pada kepadatan, kebersihan dan kenyamanan tempat tinggal dari pengidap. Sedangkan kolektor barang antik merupakan seseorang yang menyimpan barang yang memiliki nilai-nilai tertentu, baik nilai sejarah atau nilai jual yang tinggi. Barang antik juga tidak memengaruhi tempat tinggal si kolektor, bahkan meningkatkan estetika tempat tinggal si kolektor.
Sebenarnya para peneliti tidak mengetahui persis apa yang menjadi penyebab dari Hoarding Disorder, tetapi ada beberapa faktor yang kemungkinan dapat menyebabkan Hoarding Disorder:
Trauma, karena pernah kehilangan harta benda akibat bencana alam
Barang-barang yang ditimbun memiliki kenangan tersendiri, misalnya pemberian dari orang tersayang
Memiliki anggota keluarga (biasanya orang tua) yang mempunyai kebiasaan menimbun barang
Dibesarkan dalam keluarga yang tidak mengajari cara memilah barang
Adanya penyakit gangguan mental, seperti obsessive compulsive disorder (OCD), depresi, dan skizofrenia
Bagaimana cara mengatasi Hoarding Disorder?
Psikoterapi
Psikoterapi yang diberikan oleh seorang psikolog atau psikiater biasanya dalam bentuk terapi perilaku kognitif. Biasanya psikolog akan melatih pasien dengan menahan keinginan menimbun barang serta belajar membuang barang yang menumpuk dan tidak berguna.
Mengonsumsi obat-obatan tertentu
Obat-obatan tertentu biasanya diresepkan oleh psikiater jika pasien menderita gangguan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan, obat yang diberikan biasanya berupa antidepresan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).
Membuat daftar barang
Buatlah daftar barang-barang di rumah dan memilah barang yang masih terpakai atau perlu dibuang, benda yang sudah tidak terpakai bisa disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.
Memotret kamar sebelum dan sesudah dibersihkan
Bandingkan foto sebelum dan sesudah kamar dibersihkan, sehingga dapat dijadikan tolok ukur apakah barang-barang yang sudah tidak terpakai sudah dibuang.
Manfaatkan teknologi
Teknologi yang sudah semakin berkembang juga dapat kamu manfaatkan untuk menyimpan foto atau berkas di ponsel daripada menyimpannya di tempat tinggal yang menyebabkan penumpukan.
Penumpukan barang-barang yang dilakukan oleh seorang hoarder akan menyebabkan gangguan dari berbagai aspek, mulai dari segi estetika yang akan mengganggu pemandangan sampai segi kebersihan yang akan mengganggu kesehatan, berikut dampak dan akibat dari Hoarding Disorder:
Mempersempit ruang gerak penghuni tempat tinggal
Ruangan dijadikan sebagai sarang hewan atau serangga, seperti tikus, kecoa, dan nyamuk
Menjadi sarang penyakit karena kurang higienis
Menimbulkan tumpukan debu yang memicu penyakit seperti asma atau alergi
Dijauhi oleh anggota keluarga karena merasa malu dan tidak nyaman
Produktivitas kerja menurun karena barang-barang yang berserakan
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Hoarding Disorder memiliki berbagai faktor penyebab, meskipun cara pencegahan Hoarding Disorder masih belum diketahui dengan pasti tetapi ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengobati kondisi ini. Namun jika seorang hoarder memiliki gangguan mental, maka gangguan mental tersebut harus diatasi secepatnya untuk mengurangi resiko terkena atau memperparah Hoarding Disorder.
Referensi:
- Adilla, Z. (2020). Perancangan Informasi Hoarding Disorder melalui Media Aplikasi Berbasis Windows. Tugas Akhir Semester II Universitas Komputer Indonesia.
- Dr. Pittara. (2021). Hoarding disorder. ALODOKTER
https://www.alodokter.com/hoarding-disorder
