Kumparan Logo

Bukan Olahraga Murah: Cuan Besar di Balik Lari

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Marathon. Foto: lzf/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Marathon. Foto: lzf/Shutterstock

Ratih Siubelan (38) sudah berhenti menghitung race yang diikuti. Sekitar tahun 2022 sampai 2023, di awal-awal menggandrungi lari, ia bisa mengikuti 10-15 event lari dalam setahun, termasuk yang undangan buat dirinya sebagai ‘KOL’ (Key Opinion Leader alias influencer event lari).

Sekarang, Ratih mulai memilah race yang harus diikuti. Ia mulai berhitung sejauh mana sebuah event "worth it" atau laik dibayar dengan keuntungan yang didapat. Pertimbangan lainnya adalah cut off time (COT) alias batas waktu finis dan tingkat kepadatan peserta dalam sebuah race.

Ia mengaku pernah trauma pada suatu event lari lantaran karena terlalu banyak peserta yang ikut. Karenanya, belajar dari pengalaman itu, tahun selanjutnya ia tak ikut lagi event lari semacam itu.

“Kalau yang [race] bayar sendiri, aku paling setahun dua tiga kali lah,” tambahnya.

Ilustrasi lari. Foto: Real Sports Photos/Shutterstock

Meski tak seaktif dahulu mengikuti race, Ratih tak pernah ketinggalan informasi dunia lari di Indonesia. Ia memperhatikan bahwa, harga race lari setiap tahun mengalami kenaikan. Semakin tahun semakin mahal.

Pada 2022, Ratih masih bisa menemukan race seharga Rp 100–150 ribu. Bahkan ada fun run 5K ada yang hanya Rp 75 ribu—meski tanpa medali, hanya dapat refreshment dan jersei. Sekarang, kategori full marathon [FM] mencapai Rp 900 ribu hingga Rp 1 jutaan.

Ratih mengingat betul salah satu race yang ia ikuti tahun sebelumnya masih di harga Rp 850 ribu untuk kategori FM, tahun ini harganya naik sekitar Rp 100 ribu.

“Tiap tahun tuh hampir naik naik Rp 100 ribu. Dulu tuh 10K, bisa 300 ribu … sekarang tuh 10K bisa nyentuh Rp 500 ribu, ada yang Rp 600 ribu, ada yang Rp 800,” ungkap Ratih.

Ratih Siubelan (38), pelari asal Kota Bogor. Foto: Dok. Pribadi

Nuryaman Nurahman, seorang pelari yang telah mengikuti race di luar negeri mengamini. Yaman menjelaskan, untuk race dalam kota, Jabodetabek, memang hanya perlu membayar pendaftaran untuk mendapatkan slot race.

Tapi bila race-nya digelar luar kota, seperti Surabaya, Jogja, Malang atau Bali, barulah spending bertambah. Sebab, ia harus membayar transportasi dan akomodasi selama di sana.

Yaman menggambarkan dengan perhitungan kira-kira: bila seorang pelari mengikuti 10K dalam kota Jabodetabek, maka hanya perlu membayar registrasi sekitar Rp 500 ribu, belum termasuk perlengkapan lari.

Beda cerita kalau keluar kota, maka spending-nya bisa membengkak. Yaman mencontohkan, untuk ikut acara lari di Bandung saja ia harus merogoh duit 2 juta untuk biaya pendaftaran, kereta api antarkota, makan, dan hotel.

“Kalau luar kotanya [di] Bali, itu Rp 4-5 jutaan itu sudah pasti tuh [habis],” ujar Yaman.

Nuryaman Nurahman. Foto: Dok. Pribadi

Hitungan tersebut hanya untuk satu event lari. Bagaimana bila dalam sebulan seorang pelari mengikuti lebih dari satu race?

Yaman sendiri bisa mengikuti maksimal tiga race dalam satu bulan. Tiap bulan pun ia sudah menyiapkan dana khusus race sekitar Rp 5 juta.

Itu masih hitungan race dalam negeri, beda dengan luar negeri. Yaman mencontohkan, untuk ikut satu event lari di Australia atau Asia Timur kurang lebih Rp 30-50 juta. Angka tersebut untuk pengeluaran keseluruhan, termasuk registrasi lari, visa, transportasi, dan akomodasi.

“Kalau luar negeri, bayar ballot-nya saja kurang lebih Rp 3 jutaan, Rp 2-4 jutaan. Slotnya saja, belum hotel belum pesawat,” kata Yaman.

Biaya paling mahal ikut race di luar negeri, kata Yaman, adalah transportasi dan akomodasi. Misalnya, jika ke Australia atau Jepang, paling tidak ia harus menghabiskan Rp 30 juta.

Ilustrasi lari maraton. Foto: AFP/Angela Weis

Lari Bukan Lagi Olahraga Murah?

Selain biaya registrasi, transportasi, dan akomodasi, pos pengeluaran terbesar lain dalam olahraga lari adalah penampilan. Outfit atau barang yang menempel di tubuh saat lari, jadi salah satu ajang adu gengsi.

Sepatu, running belt, kaos kaki, baju, celana, topi—semua serasa wajib diperbarui setiap kali mau tampil di garis start. Penampilan, lanjut Yaman, semakin menjadi perhatian bila seorang pelari bergabung komunitas lari. Menurutnya, lari di komunitas lari sudah bak ajang fashion show.

“[Anggapan] olahraga lari adalah yang paling murah, bohong ternyata… Ada yang larinya kayak keong, tapi outfit-nya, jam tangannya, bisa seharga (motor) N-Max,” kata dia

Olahraga lari di Indonesia semakin digandrungi. Beberapa orang menjadikan lari sebagai habit sampai berubah menjadi fenomena. Kegemaran lari yang semakin meluas ini juga diikuti event lari yang dapat dijumpai setiap akhir pekan.

embed from external kumparan

Berdasarkan olah data kumparan yang dikumpulkan pada awal Agustus–melalui mesin pencari dan situs resmi/media sosial penyelenggara race–setidaknya ada sekitar 172 event lari untuk kalender tahun 2026 di wilayah Jabodetabek saja.

Artinya, rata-rata lebih dari tiga event digelar setiap pekan yang menunjukkan besarnya animo masyarakat terhadap olahraga lari. Kalender ini juga menggambarkan besarnya potensi uang yang berputar di baliknya.

embed from external kumparan

Beberapa event lari diadakan secara gratis oleh penyelenggara. Adapun harga tiket race terendah dari 172 event tersebut mulai dari Rp 15 ribu, sementara untuk harga tertinggi mencapai Rp 1,5 juta. Rata-rata, harga registrasi event lari Jabodetabek pada 2026 yakni Rp 266 ribu untuk seluruh kategori yang digelar.

Kategori yang paling banyak digelar adalah event lari 5K sebanyak 150 event disusul kategori 6-10K (76 event), <5K (25 event), Half Marathon atau 21K (19 event), Ultra Marathon >42K (5 event) dan Marathon 42K (3 event).

embed from external kumparan

Berdasarkan hitungan kumparan, salah satu event lari yang pesertanya mencapai 27 ribuan, berpotensi mendapatkan Rp 27-an miliar. Angka tersebut didapat dengan mengalikan jumlah peserta dan harga pendaftaran di tiap kategori, kemudian semuanya dijumlahkan.

Itu baru bicara uang registrasi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mencontohkan, event lari BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim) 2026 yang diikuti 45 ribu pelari diperkirakan menyumbang perputaran ekonomi di atas Rp 200 miliar–lebih tinggi dibandingkan perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp 125 miliar.