Berani di Balik Layar: Kenapa Haters Berani Mengomentari Artis di Media Sosial

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Helga Aullia Maren tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Memahami keberanian seseorang memberikan komentar negatif di media sosial
Media sosial saat ini sudah menjadi tempat siapa saja untuk membagikan kehidupan, termasuk para artis dan figur publik. Mereka dapat mengunggah foto, video, maupun aktivitas sehari-hari kepada jutaan pengikutnya. Namun, di balik banyaknya komentar positif, sering sekali muncul komentar yang berisi hinaan, ejekan, bahkan komentar yang menyerang fisik seseorang.

Hal yang sangat menarik itu mengapa seseorang bisa begitu berani menuliskan komentar negatif kepada artis yang bahkan tidak mereka kenal secara langsung?
Menurut saya, salah satu alasannya adalah karena adanya jarak antara orang yang memberikan komentar dengan orang yang menjadi sasaran komentar. Jadi, ketika berkomunikasi melalui layar, seseorang tidak berhadapan langsung dengan ekspresi atau reaksi dari orang yang menerima komentarnya.
Dalam psikologi, fenomena tersebut berkaitan dengan konsep online disinhibition, yaitu keadaan ketika seseorang menjadi lebih bebas dalam mengekspresikan pikiran atau perilakunya ketika berada di lingkungan online. Penelitian Lapidot-Lefler dan Barak (2012) juga menemukan bahwa tidak adanya kontak mata dapat berkaitan dengan munculnya perilaku negatif seperti flaming atau komunikasi yang bermusuhan.
Terkadang, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kenapa kolom komentar terasa seperti tempat seseorang merasakan bebas untuk mengatakan apa saja. Seseorang mungkin tidak akan mengatakan, “Kamu jelek,” ketika berdiri berhadapan di depan orang yang menerima perkataan itu. Namun, saat kalimat tersebut hanya perlu diketik melalui layar, hambatan untuk mengatakan secara langsung akan menjadi lebih kecil.
Artis memang seorang figur publik yang mendapatkan perhatian masyarakat. Mereka juga dapat menerima kritik ketika melakukan kesalahan. Tetapi, sebagai figur publik juga bukan berarti mereka kehilangan hak untuk diperlakukan dengan baik sebagai manusia.
Pada akhirnya, media sosial memang memberikan ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan tersebut tetap membutuhkan tanggung jawab.
Jadi, sebelum menekan tombol “kirim”, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri "jika orang yang menerima komentar tersebut berada tepat di depan kita, apakah kita masih berani mengatakan hal yang sama?," pertanyaan sederhana tersebut mungkin akan dapat membuat kita berpikir kembali tentang cara menggunakan media sosial.
