Konten dari Pengguna

Gen Z, Menikah Bukan Hanya Soal Cinta: KDRT Bukan Masalah Sepele

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helga Aullia Maren tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menikah bukan sekedar menyatukan cinta

Menikah sering sekali dianggap bahwa seseorang sudah menemukan pasangannya yang tepat. Namun, apakah mencintai seseorang saja sudah cukup untuk membangun rumah tangga?

Bagi saya, belum tentu. Karena, pernikahan harus mempunyai persiapan yang lebih matang dalam mengahadapi perbedaan, mengendalikan emosi, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah tanpa adanya kekerasan.

Hal ini sangat penting untuk dipahami oleh setiap orang, terutama generasi Z yang sudah memasuki usia dewasa dan sebagian orang sudah memikirkan kapan waktunya menikah. Namun, jangan sampai pernikahan hanya dianggap tujuan akhir dalam sebuah hubungan, tanpa memikirkan bagaimana kehidupan selanjutnya setelah menikah.

Ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI

KDRT Bukan Pertengkaran Sepele Dalam Rumah Tangga

Kekerasan demi kekerasan, hal ini tidak lagi dianggap sepele. Kekerasan juga tidak hanya tindakan memukul dan melukai fisik pada pasangan.

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), mayoritas korban KDRT adalah perempuan. Namun, KDRT bisa menimpa siapa saja, termasuk anak, suami, hingga orang tua yang berada dalam lingkup keluarga.

Kekerasan dalam rumah tangga juga meninggalkan trauma psikis yang panjang. Banyak sekali korban KDRT yang mengalami gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, PTSD (post-traumatic stress disorder), gangguan tidur, hingga penurunan harga diri yang drastis.

Ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI

Menikah Perlu Kesiapan Emosi?

Saya yakin, banyak orang yang membayangkan betapa bahagianya kehidupan setelah menikah bersama pasangan yang dicintai.

Namun, persiapan emosi, pikiran, mental juga sangat penting untuk membangun rumah tangga. Mungkin setiap orang sudah merasa siap secara usia atau finansial. Tetapi, bagaimana jika seseorang belum mampu mengendalikan emosi dalam memperbaiki masalah rumah tangganya?

Maka dari itu, kita perlu belajar berkomunikasi dalam menyelesaikan masalah dengan emosi yang sehat. Ketika seseorang menyelesaikan masalah dengan membentak, mengancam, dan menggunakan kekerasan, justru pernikahan itu dapat menjadi hubungan yang tidak sehat.

Tak Perlu Terburu-buru Untuk Menikah

Menikah bukan Perlombaan. Namun, seseorang sering terlalu terburu-buru untuk menikah setelah menemukan pasangannya. Padahal, sangat penting bagi siapapun untuk memahami jika terburu-buru menikah bisa berdampak negatif padanya pun pasangan. Tanpa memikirkan lebih matang.

Pada akhirnya, menikah bukan hanya tentang seseorang menemukan orang yang dicintai, tetapi juga menjadi seseorang yang mampu mencintai dan membangun sebuah hubungan dengan cara yang sehat.

Sebab, rumah memang seharusnya menjadi tempat untuk merasa aman, bukan tempat seseorang harus takut kepada orang yang dicintainya.

Ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI