Konten dari Pengguna

Berpindah ke Dunia Maya: Wajah Baru Interaksi Sosial Kita

Helga Eugenia

Helga Eugenia

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helga Eugenia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari kita selalu memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kita berkomunikasi, bekerja sama, membangun hubungan, dan berdebat. Namun tahukah Anda pengertian dari interaksi tersebut? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, interaksi adalah hal saling melakukan aksi, berhubungan, memengaruhi, atau antarhubungan.

Ilustrasi Perubahan Interaksi Sosial, Foto: Dok. Pribadi (Canva)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perubahan Interaksi Sosial, Foto: Dok. Pribadi (Canva)

Dari kebutuhan untuk berinteraksi tersebut, muncul interaksi sosial yang merupakan bagian dari interaksi secara spesifik. Interaksi sosial mengatur masyarakat dalam berperilaku dan berinteraksi antarmanusia (Nasdian, 2015). Interaksi sosial juga diartikan sebagai hubungan yang menyangkut perorangan, kelompok dan kelompok, atau perorangan dan kelompok (Setiadi & Kolip, 2011). Dalam berinteraksi, masyarakat menggunakan norma atau aturan yang ada sebagai pedoman atau panduan dalam berperilaku. Cara seseorang berinteraksi didorong oleh situasi yang sedang dialami atau dihadapi. Dalam konteks sosial, manusia berinteraksi dengan menyesuaikan hubungan lawan bicaranya atau peran dari lawan bicaranya, misalnya perbedaan cara berbicara dengan teman dan atasan. Kemudian dalam konteks budaya, nilai atau latar belakang budaya akan memengaruhi seseorang dalam berinteraksi. Sedangkan dalam konteks fisik, seseorang akan menyesuaikan tempat dan suasana yang memengaruhi seseorang dalam berinteraksi. Misalnya tempat yang ramai seperti pesta atau tenang seperti perpustakaan.

Interaksi Sosial Telah Sangat Berubah. Benarkah Demikian?

Dahulu, interaksi sosial dilakukan secara langsung dengan cara berbincang dan bertatap muka sehingga bahasa dan gestur yang digunakan sangat penting dalam menafsirkan tindakan atau tujuan. Namun, saat ini era digital telah memunculkan beberapa bentuk interaksi baru. Internet telah mengubah cara seseorang berinteraksi serta memunculkan norma norma atau aturan baru di dalam masyarakat. Media sosial yang digunakan oleh khalayak umum menjadi faktor pendorong perubahan interaksi sosial yang mendalam. Seseorang yang awalnya berinteraksi secara langsung dan bertatap muka, kini bisa dilakukan dalam jarak jauh. Akan tetapi, hubungan yang terbangun dari interaksi sosial yang telah berubah ini, dinilai lebih singkat dan kurang bermakna.

Mendekatkan yang Jauh

Internet serta platform-platform komunikasi sangat mempermudah seseorang untuk terhubung dan memperluas jaringan sosial seseorang. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang dalam berinteraksi. Seseorang tidak perlu lagi untuk menulis surat atau menyisihkan uang untuk membeli tiket transportasi dalam jangka waktu yang lama agar bisa bertemu dan berbincang. Kini semuanya telah ada dalam genggaman tangan. Pesan yang ingin disampaikan dapat terkirim dalam hitungan detik, bahkan kini seseorang dapat bertatap muka hanya melalui layar gawai. Sesuatu yang dahulu terasa sangat berharga, sekarang menjadi sesuatu yang sepele dan mudah didapatkan. Dalam hal ini, internet telah benar benar mendekatkan yang jauh.

Menjauhkan yang Dekat

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, internet membawa pengaruh buruk yang harus selalu diwaspadai oleh penggunanya. Pengaruh buruk yang muncul dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang terlalu fokus pada gawai atau media sosial yang dimilikinya biasanya akan cenderung untuk mengabaikan orang orang di sekitarnya. Misalnya saat berkumpul keluarga yang seharusnya digunakan untuk berbagi kehangatan dan cerita, tetapi malah digunakan untuk sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk dengan gawainya sendiri, sampai memilih berkomunikasi dengan orang lain melalui media sosial dibanding keluarga yang berada di dekatnya. Sama halnya ketika berkumpul dengan teman atau rekan kerja, bukan lagi berusaha untuk mempererat hubungan tetapi hanya fokus ke layar ponsel masing-masing. Lama kelamaan, seseorang akan lupa dan canggung untuk berinteraksi, bahkan hanya untuk menyapa atau melambaikan tangan saja. Akibatnya, seseorang akan menghindar dari orang lain dan takut untuk berinteraksi. Hal-hal tersebut akhirnya akan menjauhkan yang dekat.

Pengaruh Media Sosial

Selain itu, media sosial juga memengaruhi interaksi sosial dalam hal cara manusia memandang diri sendiri (fragmentasi identitas), peran sosial (dediferensiasi peran sosial), serta memahami realitas (hiperrealitas). Pertama, Fragmentasi Identitas yakni ketika seseorang seringkali mengubah identitasnya untuk menyesuaikan dengan media sosial. Suatu identitas yang seharusnya utuh dan konsisten menjadi berubah-ubah akibat berusaha untuk memenuhi audiens media sosial. Kedua adalah Dediferensiasi Peran Sosial yakni ketika peran kehidupan pribadi dan profesional tidak lagi memiliki Batasan di dunia maya. Interaksi pribadi dan profesional dapat terjadi di satu waktu yang sama atau tempat yang sama. Terakhir adalah Hiperrealitas yakni ketika internet akhirnya menciptakan sebuah “realitas” baru yang lebih menarik dibandingkan dunia nyata. Akibatnya seseorang dapat melupakan realitas yang sesungguhnya (Borgmann, 2000).

Kontrol Diri adalah Solusi

Internet dan media sosial sebenarnya merupakan dua hal yang sangat memudahkan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, alih-alih ditinggalkan karena takut akan dampak negatifnya, penting bagi kita untuk bisa mengontrol diri dalam memanfaatkan internet dan media sosial. Batasan dalam penggunaan media sosial harus jelas karena tanpa batasan tersebut penggunaan media sosial akan berujung pada hilangnya jati diri dan berkurangnya kemampuan bersosialisasi secara nyata. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memulai interaksi dengan orang orang terdekat secara langsung. Mulai dari berbincang, saling mendengarkan, dan hadir secara penuh bagi orang-orang di sekitar. Internet dan media sosial seharusnya menjadi “jembatan” untuk memperluas jangkauan dan mempererat hubungan, bukan menjauhkan hubungan yang telah terjalin. Maka dari itu, mari memulai untuk menyeimbangkan penggunaannya agar tidak kehilangan makna dari interaksi sosial.

Daftar Pustaka

Borgmann, A. (2000). Society in the postmodern era. Washington Quarterly, 23(1), 187-200.

Fahri, L. M., & Qusyairi, L. A. H. (2019). Interaksi sosial dalam proses pembelajaran. Palapa, 7(1), 149-166.

Fredian Tonny Nasdian,‟Sosiologi Umum’(Jakarta:buku obor,2015), h.39

Setiadi, E. M., & Kolip, U. (2011). Pengantar Sosiologi (1st ed., Vol.2). Prenada Media Grup