Konten dari Pengguna

Kehidupan yang Tidak Pernah Terjadi

Helmi Shihab A

Helmi Shihab A

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang memegang burung origami, sementara satu burung lainnya terbang sebagai simbol kemungkinan hidup yang tidak pernah terjadi. (Foto: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang memegang burung origami, sementara satu burung lainnya terbang sebagai simbol kemungkinan hidup yang tidak pernah terjadi. (Foto: Ilustrasi AI)

Ada kalanya saya tidak sedang mengingat masa lalu.

Yang saya ingat justru sesuatu yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Mungkin terdengar aneh. Namun, saya yakin bukan hanya saya yang pernah mengalaminya. Pernah terlintas pikiran seperti, “Kalau waktu itu saya memilih jalan yang berbeda, bagaimana ya hidup saya sekarang?”

Padahal semua itu tidak pernah terjadi.

Namun entah mengapa, pikiran mampu menyusunnya menjadi sebuah cerita yang terasa begitu nyata.

Saya sering menyadari bahwa kata “seandainya” memiliki ruang yang cukup besar di dalam kepala. Satu kata sederhana itu bisa membawa kita membayangkan berbagai kemungkinan yang sebenarnya tidak pernah kita jalani.

Bukan karena kita tahu hasilnya akan lebih baik, tetapi karena kita penasaran dengan versi hidup yang tidak pernah sempat kita lihat.

Hal itu bisa muncul dari keputusan-keputusan kecil. Tidak jadi datang ke suatu acara, memilih satu kesempatan dibanding yang lain, mengurungkan niat mengirim pesan, atau sekadar memilih diam dalam sebuah percakapan.

Setelah semuanya berlalu, pikiran mulai bekerja.

“Bagaimana kalau waktu itu saya mengambil keputusan yang berbeda?”

Pertanyaan itu memang tidak pernah memiliki jawaban. Namun, bukan berarti kita berhenti memikirkannya.

Yang menarik, kita sering kali bukan hanya mengingat apa yang benar-benar terjadi. Kita juga membangun cerita tentang apa yang mungkin terjadi jika pilihan kita berbeda. Tanpa sadar, kita menciptakan versi kehidupan lain yang hanya ada di dalam imajinasi.

Saya rasa setiap orang pernah memiliki satu momen yang sesekali kembali dipikirkan. Bukan karena belum bisa menerima kenyataan, melainkan karena manusia memang memiliki rasa ingin tahu terhadap kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terwujud.

Namun, semakin sering saya memikirkannya, saya mulai sadar bahwa semua bayangan itu tidak pernah benar-benar bisa dibuktikan. Bisa saja hidup akan menjadi lebih baik. Bisa juga justru sebaliknya.

Tidak ada yang benar-benar tahu.

Mungkin itulah mengapa kita sering terjebak dalam kata “seandainya”. Kita hanya melihat kemungkinan terbaik yang dibayangkan oleh pikiran, bukan seluruh kenyataan yang mungkin terjadi jika pilihan itu benar-benar diambil.

Pada akhirnya, saya mulai belajar bahwa hidup memang selalu menyisakan jalan yang tidak kita pilih. Akan selalu ada kesempatan yang terlewat, keputusan yang tidak diambil, dan percakapan yang tidak pernah terjadi.

Namun, bukan berarti semua itu harus terus kita bawa ke mana-mana.

Karena hidup bukan tentang mengetahui bagaimana akhir dari semua kemungkinan. Hidup adalah tentang menjalani pilihan yang sudah kita ambil dan memberi makna pada jalan yang sedang kita tempuh.

Mungkin kita tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan jika dulu memilih arah yang berbeda. Tetapi satu hal yang pasti, masa depan tetap dibentuk oleh keputusan yang kita ambil hari ini, bukan oleh kemungkinan yang hanya hidup di dalam kepala.