Mengapa Kita Jarang Menyadari Bahwa Itu Adalah Pertemuan Terakhir?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita menjalani satu hari yang terasa sangat biasa?
Mengobrol seperti biasanya, tertawa bersama, lalu pulang tanpa memikirkan apa pun. Tidak ada yang terasa berbeda. Tidak ada firasat bahwa hari itu akan menjadi momen yang terakhir.
Baru setelah waktu berlalu, kita menyadari bahwa beberapa hal ternyata tidak pernah terulang lagi.
Saya mulai memahami bahwa hidup jarang memberi tahu kapan sesuatu terjadi untuk terakhir kalinya. Tidak ada tanda khusus, tidak ada pengumuman, dan tidak ada kesempatan untuk bersiap.
Mungkin karena itulah kita sering menganggap sebuah pertemuan akan selalu bisa diulang.
Padahal, hidup terus bergerak.
Teman-teman mulai memiliki kesibukannya masing-masing. Ada yang pindah kota, ada yang mengejar mimpi, dan ada yang perlahan hanya bisa ditemui melalui cerita atau kenangan.
Tanpa disadari, ada banyak “terakhir kali” yang datang dengan sangat sederhana.
Terakhir duduk di bangku sekolah.
Terakhir pulang bersama teman.
Terakhir berkumpul dengan kelompok yang lengkap.
Terakhir mengunjungi tempat yang dulu terasa begitu akrab.
Saat itu, semuanya terasa biasa saja.
Tidak ada yang berkata, “Nikmati momen ini, karena setelah hari ini semuanya akan berbeda.”
Barangkali memang seperti itulah hidup bekerja. Ia tidak memberi tahu mana yang terakhir agar kita menjalani setiap momen dengan apa adanya, bukan dengan rasa takut akan kehilangannya.
Justru karena kita tidak pernah tahu, setiap pertemuan menjadi berharga.
Setiap tawa, percakapan, dan kebersamaan memiliki kemungkinan untuk menjadi kenangan yang akan kita rindukan suatu hari nanti.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa banyak perpisahan tidak diawali dengan ucapan selamat tinggal. Mereka datang diam-diam, menyamar sebagai hari yang terasa biasa.
Dan mungkin, pelajaran yang bisa kita ambil bukanlah hidup dalam rasa cemas akan kehilangan, melainkan belajar lebih hadir dalam setiap pertemuan yang masih kita miliki hari ini.
