Percakapan yang Selalu Datang Sebelum Tidur

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu kebiasaan yang sampai sekarang masih sering saya alami.
Ketika semua aktivitas hari itu selesai, lampu kamar dimatikan, dan suasana mulai tenang, justru saat itulah sebuah percakapan kembali muncul di kepala.
Entah percakapan dengan teman, keluarga, rekan kerja, atau seseorang yang baru saya temui. Kalimat demi kalimat seperti diputar ulang, seolah-olah otak meminta saya untuk menontonnya sekali lagi.
Lucunya, saat percakapan itu benar-benar terjadi, saya tidak terlalu memikirkannya. Namun, beberapa jam kemudian, semuanya terasa berbeda.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri.
“Harusnya tadi saya menjawab seperti itu.”
“Kenapa saya memilih kata-kata itu, ya?”
“Kalau saja saya menjelaskan sedikit lebih baik, mungkin hasilnya akan berbeda.”
Padahal, orang yang saya ajak bicara mungkin sudah melanjutkan harinya. Bahkan bisa saja mereka sudah lupa dengan percakapan itu. Namun, di kepala saya, semuanya masih terasa begitu jelas.
Saya menyadari bahwa yang diputar ulang bukan hanya percakapannya, tetapi juga keinginan untuk memperbaiki sesuatu yang sebenarnya sudah selesai.
Mungkin kita semua pernah mengalaminya. Bukan karena percakapannya buruk, melainkan karena selalu ada bagian dari diri kita yang berharap bisa mengulang beberapa detik dan memilih kata yang berbeda.
Menariknya, hal-hal seperti ini hampir tidak pernah muncul di tengah kesibukan. Justru ketika malam datang dan keadaan mulai sunyi, pikiran terasa memiliki lebih banyak ruang untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi sepanjang hari.
Seolah-olah malam memberi kesempatan bagi kita untuk menjadi editor dari percakapan yang sebenarnya sudah tidak bisa diubah.
Saya tidak berpikir itu selalu merupakan hal yang buruk. Kadang, mengingat kembali sebuah percakapan membantu kita belajar menjadi pendengar yang lebih baik, memilih kata yang lebih tepat, atau memahami sudut pandang orang lain.
Namun, saya juga mulai belajar bahwa tidak semua percakapan harus diperbaiki di dalam kepala.
Ada kalanya kita perlu menerima bahwa setiap orang pernah salah memilih kata, pernah menjawab dengan kurang tepat, atau baru menemukan jawaban terbaik ketika semuanya sudah berlalu.
Dan mungkin, itu memang bagian dari menjadi manusia.
Karena hidup tidak pernah memberi kesempatan untuk mengulang percakapan yang sama. Tetapi hidup selalu memberi kesempatan untuk berbicara dengan lebih baik pada percakapan berikutnya.
Sejak menyadari hal itu, saya mencoba untuk tidak lagi membawa semua percakapan sampai larut malam. Saya percaya bahwa setiap hari akan selalu menghadirkan kesempatan baru untuk belajar berkomunikasi, tanpa harus terus-menerus menyalahkan diri atas kata-kata yang sudah terucap.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa percakapan yang terus datang sebelum tidur bukan selalu pertanda bahwa ada sesuatu yang salah. Terkadang, itu hanyalah cara kita belajar menjadi versi diri yang sedikit lebih baik daripada hari kemarin.
