Konten dari Pengguna

Pesan yang Tidak Pernah Terkirim

Helmi Shihab A

Helmi Shihab A

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang menatap pesan yang sudah ditulis, tetapi memilih untuk tidak menekan tombol kirim. (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang menatap pesan yang sudah ditulis, tetapi memilih untuk tidak menekan tombol kirim. (Sumber: Ilustrasi AI)

Pernahkah kamu menulis sebuah pesan yang panjang, membacanya berulang kali, lalu menghapus semuanya sebelum sempat menekan tombol “kirim”?

Saya pernah.

Bahkan lebih dari sekali.

Awalnya saya berpikir itu hanya hal biasa. Namun, semakin sering mengalaminya, saya sadar bahwa ada begitu banyak kata yang akhirnya hanya berhenti di layar, tanpa pernah sampai kepada orang yang seharusnya membacanya.

Kadang pesan itu berisi permintaan maaf. Kadang sekadar ingin bertanya kabar. Ada juga yang hanya ingin mengatakan, “Terima kasih,” atau, “Semoga kamu baik-baik saja.”

Semuanya sudah ditulis. Namun pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar terkirim.

Bukan karena tidak ingin berbicara, melainkan karena mulai muncul berbagai pertanyaan di kepala. Bagaimana jika pesan itu justru mengganggu? Bagaimana jika tidak dibalas? Atau mungkin… bagaimana jika balasannya tidak seperti yang kita harapkan?

Semakin lama berpikir, semakin berat rasanya menekan tombol kirim.

Akhirnya, pilihan yang paling mudah adalah menghapus semuanya.

Yang menarik, pesan yang tidak pernah terkirim sering kali bukan ditujukan kepada orang yang asing. Justru sebaliknya, pesan itu biasanya ditulis untuk seseorang yang pernah memiliki tempat penting dalam hidup kita. Seseorang yang dulu begitu dekat, tetapi kini hanya tinggal nama di daftar kontak.

Saya percaya, setiap orang mungkin pernah menyimpan kalimat yang tidak pernah sempat diucapkan. Entah kepada sahabat, keluarga, pasangan, atau seseorang yang kini sudah berjalan di jalannya masing-masing.

Ironisnya, terkadang yang paling sulit bukan menulis pesannya, melainkan menerima bahwa tidak semua perasaan harus disampaikan. Ada kalanya kita ingin berbicara, tetapi keadaan sudah berubah. Waktu terus berjalan, hubungan tidak lagi sama, dan keberanian yang dulu dicari akhirnya datang ketika semuanya terasa terlambat.

Seiring waktu, saya mulai memahami bahwa tidak semua pesan memang harus sampai kepada tujuannya. Ada pesan yang cukup menjadi pengingat bahwa kita pernah memiliki sesuatu yang ingin disampaikan. Ada pula yang selesai hanya dengan ditulis, karena proses menulisnya sendiri sudah membantu kita memahami isi hati.

Mungkin memang tidak semua percakapan membutuhkan balasan.

Dan tidak semua perasaan harus berakhir dengan tombol “kirim”.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa setiap pesan yang tidak pernah terkirim tetap memiliki maknanya sendiri. Bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita. Ia menjadi bukti bahwa pernah ada keberanian untuk mengungkapkan perasaan, meski akhirnya hanya disimpan dalam diam.