Konten dari Pengguna

Rumah Itu Bernama Akun Kedua

Helmi Shihab A

Helmi Shihab A

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Vasin Lee/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Vasin Lee/Shutterstock

Saya pernah bertanya pada diri sendiri, mengapa saya lebih sering mengunggah cerita di akun kedua daripada akun utama?

Padahal keduanya sama-sama milik saya. Sama-sama menggunakan aplikasi yang sama. Namun, perasaan yang muncul saat membuka keduanya terasa sangat berbeda.

Di akun utama, saya sering berpikir lebih lama sebelum mengunggah sesuatu. Saya memperhatikan foto yang dipilih, memikirkan caption, bahkan terkadang mengurungkan niat untuk mengunggah karena merasa momen itu tidak cukup menarik.

Sebaliknya, di akun kedua semuanya terasa lebih sederhana. Saya bisa mengunggah foto yang buram, membagikan hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari, atau sekadar menulis apa yang sedang saya pikirkan tanpa banyak pertimbangan. Rasanya lebih ringan.

Awalnya saya mengira itu hanya karena jumlah pengikut di akun kedua lebih sedikit. Namun, semakin lama saya menyadari bahwa yang membuat nyaman bukan semata-mata angka pengikut, melainkan suasana yang terasa berbeda.

Di akun kedua, saya tidak merasa sedang tampil. Saya hanya sedang bercerita.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang memiliki akun kedua. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu, melainkan karena ingin memiliki ruang yang terasa lebih bebas. Ruang yang tidak menuntut unggahan yang sempurna, tidak mengharuskan setiap foto terlihat estetik, dan tidak membuat kita berpikir terlalu lama sebelum menekan tombol “unggah”.

Menariknya, akun kedua sering kali justru menyimpan cerita yang lebih jujur daripada akun utama. Di sanalah kita membagikan hal-hal sederhana yang mungkin tidak dianggap penting oleh orang lain, tetapi memiliki makna bagi diri sendiri. Mulai dari secangkir kopi di sore hari, langit yang kebetulan terlihat indah, hingga keluhan kecil setelah menjalani hari yang melelahkan.

Bagi saya, akun kedua perlahan berubah menjadi semacam ruang untuk bernapas. Tempat di mana saya tidak merasa harus menjadi versi terbaik dari diri sendiri setiap saat. Saya bisa hadir apa adanya, tanpa terlalu memikirkan bagaimana unggahan itu akan terlihat di mata orang lain.

Mungkin setiap orang memiliki alasan yang berbeda. Ada yang menggunakan akun kedua untuk berbagi dengan teman terdekat, ada yang menjadikannya album digital, dan ada pula yang hanya ingin memiliki ruang yang terasa lebih tenang.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa akun kedua bukan sekadar akun cadangan. Ia menjadi tempat untuk menyimpan potongan-potongan kecil kehidupan yang mungkin tidak pernah sampai ke akun utama. Dan mungkin, di tengah media sosial yang sering membuat kita ingin terlihat sempurna, memiliki satu ruang yang terasa seperti rumah bukanlah sesuatu yang berlebihan.