Konten dari Pengguna

Sudah Disimpan, Tapi Tak Pernah Dibuka

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang sedang menyimpan konten edukasi di media sosial sebagai simbol kebiasaan mengoleksi informasi tanpa selalu mempelajarinya. (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang sedang menyimpan konten edukasi di media sosial sebagai simbol kebiasaan mengoleksi informasi tanpa selalu mempelajarinya. (Sumber: Ilustrasi AI)

Pernah menyimpan video berisi tips belajar, tutorial memasak, atau artikel menarik dengan niat “nanti saja dibaca”? Lalu beberapa minggu kemudian, konten itu masih tersimpan rapi tanpa pernah dibuka lagi.

Kebiasaan ini mungkin terdengar sepele, tetapi tanpa disadari sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Setiap kali menemukan konten yang dianggap bermanfaat, jari dengan cepat menekan tombol Simpan. Rasanya lega karena berpikir informasi itu tidak akan hilang. Padahal, menyimpan bukan berarti memahami.

Media sosial membuat kita dibanjiri informasi setiap hari. Belum selesai membaca satu konten, sudah muncul puluhan konten lain yang tidak kalah menarik. Akibatnya, kita lebih sibuk mengumpulkan informasi daripada benar-benar mempelajarinya.

Ada perasaan seolah-olah sudah produktif hanya karena berhasil menyimpan banyak konten. Padahal, pengetahuan tidak bertambah hanya dengan memenuhi folder “Tersimpan”. Ilmu baru akan benar-benar bermanfaat ketika kita meluangkan waktu untuk membaca, mencoba, dan menerapkannya.

Sebagai mahasiswa, saya sering melihat kebiasaan ini terjadi, termasuk pada diri sendiri. Materi kuliah, video edukasi, hingga tips mengerjakan tugas terus masuk ke daftar simpanan. Namun ketika memiliki waktu luang, perhatian justru beralih ke konten-konten baru yang terus bermunculan di beranda. Akhirnya, daftar tersimpan semakin panjang, sementara yang benar-benar dipelajari hanya sedikit.

Mungkin yang kita butuhkan bukan menyimpan lebih banyak, melainkan mulai membuka kembali apa yang sudah tersimpan. Tidak perlu puluhan video dalam sehari. Satu konten yang dipahami hingga selesai akan jauh lebih berharga daripada ratusan konten yang hanya menjadi koleksi digital.

Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan memilih dan benar-benar mempelajari sesuatu justru menjadi keterampilan yang semakin penting. Sebab pada akhirnya, yang membentuk pengetahuan bukanlah banyaknya konten yang kita simpan, melainkan apa yang benar-benar kita pahami dan praktikkan.