Konten dari Pengguna

Tiga Titik yang Membuat Kita Menunggu

Helmi Shihab A

Helmi Shihab A

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sederhana yang menggambarkan seseorang menunggu balasan pesan, sementara tulisan typing… menjadi simbol harapan dan ketidakpastian. (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sederhana yang menggambarkan seseorang menunggu balasan pesan, sementara tulisan typing… menjadi simbol harapan dan ketidakpastian. (Sumber: Ilustrasi AI)

Pernahkah kamu mengirim pesan, lalu beberapa detik kemudian muncul tulisan typing…?

Tiga titik kecil itu seolah memberi tahu bahwa seseorang sedang menyiapkan balasan. Tanpa sadar, kita mulai menunggu. Mata tetap tertuju pada layar, berharap sebentar lagi pesan itu benar-benar terkirim.

Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya.

Tulisan typing… menghilang.

Beberapa saat kemudian muncul lagi.

Lalu menghilang lagi.

Sampai akhirnya… tidak ada balasan yang datang.

Fenomena ini mungkin terdengar sepele, tetapi saya yakin banyak orang pernah mengalaminya. Tiga titik yang sebenarnya hanya bagian kecil dari sebuah aplikasi, ternyata bisa membuat kita membangun begitu banyak harapan.

Saya sendiri pernah berada di posisi itu. Awalnya saya hanya menunggu jawaban sederhana. Namun semakin lama tulisan typing… muncul dan menghilang, pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Apakah mereka sedang memilih kata-kata? Menghapus pesan yang sudah ditulis? Atau memutuskan untuk tidak jadi membalas?

Lucunya, semua pertanyaan itu muncul sebelum saya benar-benar menerima satu kalimat pun.

Di era komunikasi digital, kita bukan hanya membaca pesan, tetapi juga membaca jeda. Kita mencoba memahami sesuatu yang bahkan belum pernah diucapkan. Padahal, belum tentu apa yang kita bayangkan benar. Bisa saja lawan bicara sedang teralihkan oleh pekerjaan, menerima telepon, koneksi internetnya bermasalah, atau memang belum sempat menyelesaikan pesannya.

Sayangnya, pikiran kita sering kali lebih cepat daripada kenyataan. Tiga titik itu berubah menjadi ruang bagi imajinasi untuk menciptakan berbagai cerita. Semakin lama menunggu, semakin banyak dugaan yang muncul.

Saya kemudian menyadari bahwa yang membuat saya lelah bukanlah menunggu balasan, melainkan terlalu sibuk menebak sesuatu yang belum tentu terjadi.

Pada akhirnya, typing… hanyalah tanda bahwa seseorang sedang mengetik. Tidak lebih dari itu. Sisanya adalah cara kita memberi makna pada sebuah jeda.

Mungkin, di balik tiga titik kecil itu, pelajaran yang bisa kita ambil justru sederhana: tidak semua hal harus segera kita simpulkan. Kadang, yang kita tunggu memang akan datang. Kadang juga tidak. Dan keduanya adalah bagian dari komunikasi yang tidak selalu bisa kita kendalikan.