Konten dari Pengguna

"Libur Asap": Ketika Anak-Anak Kalimantan Dipaksa Terbiasa Berisiko

helmisupriyanti

helmisupriyanti

Guru BK MAN Kota Palangka Raya Kalteng

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari helmisupriyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dukumentasi Pribadi: Suasana Musim Kabut Asap di Kota Palangka Raya
zoom-in-whitePerbesar
Dukumentasi Pribadi: Suasana Musim Kabut Asap di Kota Palangka Raya

Musim Asap, musim yang tak pernah ada di buku pelajaran

Jujur saja, di Kalimantan ada satu musim yang tak pernah ada di buku pelajaran, tapi semua orang tahu kapan datangnya: musim asap. Bagi anak-anak yang tumbuh di sini, kabut pekat bukan lagi peristiwa darurat yang bikin panik. Bencana ini pelan-pelan berubah jadi rutinitas tahunan yang disikapi dengan helaan napas pasrah.

Begitu layar pemantau kualitas udara berubah warna jadi merah pekat atau hitam, grup WhatsApp orang tua murid pasti langsung ramai. Pesannya selalu sama: "Bapak/Ibu, mulai besok sekolah diliburkan. Belajar dari rumah atau PJJ"

Anak-anak menyebutnya "libur asap". Terdengar santai, padahal getir sekali. Liburan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan main layangan, sepedaan sore-sore, atau mandi di sungai. Libur asap artinya satu hal: dikurung di dalam rumah.

Masa Kecil yang Disumpal Kain Basah

Dunia anak-anak mendadak menyempit selebar ruang tamu. Memori masa kecil mereka dirampas pelan-pelan oleh jelaga.

Siang Hari Rasa Malam: Di rumah-rumah panggung berdinding papan, celah pintu dan jendela disumpal kain atau handuk basah supaya asap tak masuk. Lampu tengah rumah harus menyala seharian penuh, karena di luar, matahari cuma kelihatan seperti koin tembaga redup di balik kabut tebal.

Aroma Sangit yang Melekat: Kalau anak-anak di tempat lain mengingat bau hujan di atas tanah kering sebagai aroma masa kecil, anak-anak di sini tumbuh dengan ingatan tentang bau kayu terbakar yang menusuk hidung, mata yang gatal, dan tenggorokan yang selalu rasanya gatal.

Masker Kebesaran: Hak paling mendasar seperti berlarian di lapangan dan menghirup udara segar mendadak jadi barang mahal. Sebagai gantinya, mereka harus memakai masker N95 yang ukurannya sering kali kedodoran di wajah mungil mereka.

Hitung-Hitungan Negara yang Suka Lupa

Tiap kali pemerintah merilis laporan dampak karhutla, angka yang keluar selalu soal ribuan hektar lahan yang hangus, kerugian kayu, atau turunnya angka ekonomi daerah. Sayangnya, tidak pernah ada kolom khusus untuk menghitung kerugian masa depan anak-anak.

Pelajaran yang Menguap (Learning Loss):

Belajar online dadakan di tengah kondisi udara yang bikin pusing dan lemas jelas tidak efektif. Anak-anak sulit konsentrasi, materi pelajaran lewat begitu saja, dan ketertinggalan belajar ini makin menumpuk dari tahun ke tahun.

Bahaya Paling Mencekam: Menganggap Ini "Biasanya"

Hal yang paling bikin merinding dari "pendidikan asap" ini adalah ketika anak-anak mulai merasa bahwa langit merah, bau sangit, dan sesak napas itu hal yang wajar. Saat krisis lingkungan dianggap sebagai hal biasa, kita sedang membesarkan generasi yang tumpul daya kritisnya untuk menuntut hak atas lingkungan yang sehat.

Anak-anak di Kalimantan tidak sedang diajari cara meraih cita-cita secara maksimal; mereka cuma sedang dipaksa belajar cara bertahan hidup dari kelalaian orang-orang dewasa. Padahal, memadamkan api di tanah gambut itu bukan cuma soal menyelamatkan pohon, tapi soal mengembalikan langit biru dan masa kecil yang wajar buat mereka.

Ketika Generasi Muda Menjawab Bencana: Dari Pengorbanan Menjadi Gerakan

Ancaman terbesar dari "libur asap" bukan sekadar soal libur sekolah yang berulang, melainkan potensi lahirnya generasi yang menyerah pada keadaan. Namun, di tanah Kalimantan, kepasrahan itu mulai bergeser menjadi perlawanan sunyi yang bermakna.

Anak-anak dan remaja yang tumbuh dalam kepungan asap tidak hanya menjadi korban pasif; mereka perlahan mentransformasi trauma masa kecil menjadi daya kritis. Dari ruang-ruang kelas yang tertutup rapat dan diskusi kelompok belajar, tumbuh kesadaran baru bahwa ruang hidup mereka harus dipertahankan.

Titik Balik: Mengubah Asap Menjadi Aksi

Ketika orang dewasa terjebak dalam perdebatan regulasi dan tuduh-menuduh, generasi muda mengambil peran-peran kecil namun berdampak di lingkungan mereka:

Penyambung Lidah Informasi Valid: Melalui media sosial, pelajar dan mahasiswa menjadi benteng pertahanan dari serbuan hoaks seputar Karhutla. Mereka aktif membagikan pembaruan tingkat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), mengedukasi cara pembuatan filter udara sederhana (DIY air purifier), hingga memetakan lokasi posko bantuan oksigen terdekat.

Inovasi Lokal Sederhana: Dari tugas-tugas sekolah dan proyek riset pelajar, muncul gagasan-gagasan solutif, seperti pemanfaatan limbah lokal untuk alat pemurni udara murah hingga gerakan penanaman kembali vegetasi ramah gambut di pekarangan rumah.

Literasi Ekologis Adat: Generasi muda mulai menggali kembali kearifan lokal leluhur Dayak tentang cara menjaga keseimbangan alam dan mengelola lahan tanpa membakar. Nilai-nilai Huma Betang dan kebersamaan dihidupkan kembali sebagai benteng pertahanan ekologis.

Menagih Janji Langit Biru

Perjuangan menanggulangi Karhutla pada akhirnya adalah tentang kepemilikan masa depan. Anak-anak yang hari ini memakai masker kedodoran di balik dinding rumah panggung kelak akan menjadi pembuat kebijakan, peneliti, pendidik, dan pemimpin di tanah ini.

Memadamkan api di tanah gambut memang tugas berat hari ini, tetapi memastikan generasi penerus tidak kehilangan empati dan kepedulian terhadap lingkungannya adalah tugas yang jauh lebih mendesak.

Kalimantan tidak hanya membutuhkan pemadam api di lapangan, tetapi juga membutuhkan jaminan bahwa setiap anak di atas tanah ini memiliki hak yang sama: tumbuh sehat, belajar tanpa jeda, dan menghirup udara bersih di bawah langit biru yang utuh.