Konten dari Pengguna

Gen Z Berburu Cuan: Investasi karena Paham atau Takut Ketinggalan?

Helmy Hartanto

Helmy Hartanto

Saya adalah mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helmy Hartanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi pribadi, diolah dari TradingView (2026).
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi, diolah dari TradingView (2026).

Di era digital, investasi semakin dekat dengan kehidupan generasi Z. Melalui media sosial, kita dapat dengan mudah menemukan konten tentang saham yang sedang naik, keuntungan investasi, hingga kisah anak muda yang berhasil membangun kekayaan sejak dini. Fenomena ini tentu menjadi hal positif karena menunjukkan meningkatnya minat generasi muda terhadap dunia keuangan. Namun, muncul pertanyaan: apakah kita benar-benar berinvestasi karena memahami tujuannya, atau sekadar takut tertinggal dari orang lain?

Menurut saya, salah satu tantangan terbesar investor muda saat ini adalah Fear of Missing Out (FOMO). Keinginan untuk memperoleh keuntungan sering kali membuat seseorang terburu-buru membeli aset hanya karena sedang populer atau direkomendasikan oleh influencer. Padahal, popularitas suatu instrumen tidak menjamin keuntungan, dan kenaikan harga pada masa lalu tidak memastikan harga akan terus meningkat.

Media sosial memang dapat menjadi sarana edukasi keuangan, tetapi juga berpotensi membentuk persepsi bahwa investasi merupakan jalan pintas menuju kekayaan. Konten yang menampilkan keuntungan besar sering kali lebih menarik daripada penjelasan mengenai risiko dan kemungkinan kerugian. Akibatnya, sebagian investor pemula dapat lebih fokus mengejar cuan daripada memahami instrumen yang dibelinya.

Saya berpendapat bahwa investasi seharusnya tidak dijadikan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling cepat memperoleh keuntungan. Setiap orang memiliki kondisi keuangan, tujuan, dan toleransi risiko yang berbeda. Mengikuti keputusan investasi orang lain tanpa mempertimbangkan keadaan pribadi justru dapat membawa kita pada risiko yang tidak seharusnya diambil.

Oleh karena itu, literasi keuangan perlu menjadi fondasi sebelum seseorang mulai berinvestasi. Generasi Z perlu membiasakan diri melakukan riset, memeriksa kredibilitas informasi, memahami risiko, serta menyesuaikan investasi dengan kemampuan finansial. Tidak kalah penting, kita harus berani melewatkan peluang yang belum dipahami daripada mengambil keputusan hanya karena takut ketinggalan tren.

Pada akhirnya, menjadi investor yang cerdas bukan berarti selalu berhasil mendapatkan keuntungan atau mengikuti setiap peluang yang muncul. Lebih dari itu, investor yang cerdas adalah mereka yang memahami alasan di balik setiap keputusan dan mampu bertanggung jawab atas risiko yang diambil. Jangan sampai keinginan mengejar cuan membuat kita kehilangan hal yang jauh lebih penting: kemampuan berpikir rasional dalam mengelola keuangan.