Mahasiswa Kupu-kupu di Era Gen Z, Masih Zaman?

Education Bureau at Universitas Pembangunan Jaya
Tulisan dari Hendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dilansir dari CNBC.com mengenai keahlian yang diincar perusahaan di masa depan antara lain memiliki kecakapan: Social Intelligence, Digital Fluency, Critical Thinking, Kreatif dan Inovatif, Sense Making, Leadership, dan Virtual Collaboration. Tentunya kecakapan ini akan didapatkan para mahasiswa bukan hanya duduk di ruang kelas saja dalam menerima pembelajaran secara teoritis, tapi harus ikut juga dalam andil di berbagai macam kesempatan.
Salah satu kampus yang konsen dalam pembentukan karakter dan mendidik Manusia Jaya adalah Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), melalui program JSDP (Jaya Softskills Development Program) yaitu program yang bertujuan untuk memberikan keterampilan (softskills) dan pengetahuan. Setiap kegiatan dalam JSDP akan mendapatkan poin sesuai ketentuan yang berlaku. Sasaran JSDP adalah penanaman nilai-nilai Jaya dan perolehan softskills yang dianggap perlu dimiliki oleh seorang lulusan UPJ.
Nilai-nilai Jaya yang dimaksudkan adalah: Integritas, Keadilan, Komitmen, Disiplin, dan Motivasi. Sementara softskills yang ditanamkan adalah: Keterampilan Penalaran dan Keilmuan, Kepemimpinan dalam berorganisasi, Kewirausahaan, Keterampilan sesuai Profesi Akademik, Kepekaan terhadap lingkungan, dan Tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Mahasiswa bukan hanya mendapatkan secara teoritis di ruang kelas, tapi juga pengimplementasian dari teori yang didapat untuk dipraktekan kedalam dunia kerja dengan kegiatan aktif lainnya bertujuan untuk mengembangkan skills, serta menambah pengalaman yang positif.
Salah satu kelompok yang beranggotakan Muhammad Ali Fahmi, Rafif Muafa, dan Eko Wahyu Sentavito perwakilan Mahasiswa aktif Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pembangunan Jaya yang dibimbing langsung oleh Bapak Desi Dwi Kristanto, S.Ds., M.Ds. Berhasil Lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Diktiristek. Yang berjudul “KamadevArt Project”.
“Kita harus balance dalam menjadi mahasiwa, dan dapat mengatur waktu untuk memporsikan kapan waktu untuk main, ngerjain tugas, dan aktif berorganisasi yang tujuannya menambah relasi serta koneksi” Ujar Fahmi, Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pembangunan Jaya pada Kamis (20/7).
Hal ini membuktikan betapa serunya dinamika perkuliahan Mahasiswa-mahasiswi di Universitas Pembangunan Jaya, di samping pemenuhan untuk pembelajaran tatap muka di ruang kelas, mengerjakan tugas kuliah, aktif berorganisasi di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan Himpunan Mahasiswa (HIMA), mereka juga turut aktif mengikuti lomba di tingkat Nasional. Tidak berhenti di situ saja keaktifan Muhamad Ali Fahmi, dkk. Mereka pun mengerjakan proyek-proyek pembuatan desain untuk kebutuhan berbagai kegiatan, mulai dari project yang didapatkan dari kepanitiaan UKM, HIMA, berkolaborasi dengan dosen, serta menjual karya yang mereka buat di website.
Salah satunya di website Displate.com, yaitu sebuah platform yang memungkinkan para desainer untuk menjual desain mereka. Situs ini menawarkan berbagai karya seni dari seniman dan desainer grafis dari seluruh dunia yang menyediakan layanan percetakan di mana pelanggan dapat memesan produk cetak seperti buku, poster, kaos, dan produk cetak lainnya secara online. Menjadi kontributor di situs ini adalah cara yang bagus untuk menghasilkan uang sekaligus membangun portofolio desain.
Kesimpulan dan Pesan yang coba Penulis rangkum dari artikel ini, untuk para Mahasiswa-mahasiswi di Indonesia, mungkin kita disibukkan dengan segala rutinitas yang setiap hari membuat kita jenuh, terkadang mengerjakan tugas pun mengandalkan SKS (Sistem Kebut Semalam), atau ingin aktif dalam berbagai kegiatan pun kita menghentikan langkah dan mengurungkan niat. Karena tahu bakal kerepotan membagi waktu.
Ayo mulai sekarang kita mulai untuk berefleksi dan coba duduk sejenak, tenangkan diri, list dan review kembali mana kegiatan yang benar-benar menjadi skala prioritas dan dikerjakan sehingga value nya pun dapat terpakai dalam menunjang penambahan kompetensi di dunia kerja.
Tim Penyusun Artikel,
Hendra, Muhammad Ali Fahmi, Rafif Muafa, dan Eko Wahyu Sentavito.
