Konten dari Pengguna

Duh Gustiiii, Pak Luhut Baru Ngerti Tracing (Pelacakan) Sangat Penting?

Hendra J Kede, ST, SH, MH, GRCE

Hendra J Kede, ST, SH, MH, GRCEverified-green

Ketua Dewas YLBH Catur Bhakti / Pemerhati GRC / Profesional Mediator / Wasekjen PP KBPII / Wakadep Komunikasi Ummat ICMI Pusat / Peneliti Senior IDEALS / Waka KI Pusat RI 2017-2022 / Wakabid Organisasi PWI Pusat 2024-2025

·waktu baca 2 menit

Tulisan dari Hendra J Kede, ST, SH, MH, GRCE tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Hendra J Kede, Warga Negara Indonesia

Luhut Binsar Panjaitan. Foto: Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi
zoom-in-whitePerbesar
Luhut Binsar Panjaitan. Foto: Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi

Kalau pembaca orang Jawa atau orang yang hidup di Jawa atau orang yang pernah hidup di Jawa atau orang mengerti budaya Jawa dan bagaimana orang Jawa berbicara, maka bacalah judul di atas dengan intonasi orang Jawa bicara.

Intonasi membaca oleh orang Jawa antara mau nangis atau mau marah ndak jelas, suasana batin campur aduk antara keduanya, plus gemeeesss banget.

Sah-sah saja kalau pembaca juga membayangkan seandainya yang mengucapkan kalimat tersebut Presiden Indonesia, Bapak Jokowi yang lahir, hidup, tumbuh, berkembang, dan dididik dalam budaya Jawa, di pusat budaya Jawa pula, Solo. Terlepas beliau mengucapkan atau tidak mengucapkannya. Tidak semua hal yang ada dalam batin Presiden itu harus diucapkan, kan?

Namun sebagai pembantu Presiden yang baik, para Menteri harusnya bisa mengerti suasana kebatinan Presiden, termasuk yang tidak diucapkan Presiden, apalagi kalau sampai diucapkan.

Kalau Presiden yang mengucapkan kalimat itu, kalau lho ya, kalau Pak Jokowi yang mengucapkannya, penulis membayangkan kalimatnya kurang lebih akan seperti ini:

"Duh Gustiiii, (kalau) Pak Luhut baru ngerti tracing elemen sangat penting ngendalikan COVID-19, kok ndak ngomong dari dulu tho Paaak?"

Beda lagi kalau masyarakat Tim Sukses Pencapresan Pak Jokowi 2019 yang mengucapkannya, kalimatnya kemungkinan ada penambahan, kemungkinannya seperti berikut:

"Duh Gustiiii, (kalau) Pak Luhut baru ngerti tracing (pelacakan) elemen sangat penting ngendalikan COVID-19, kok yo ndak terbuka dari dulu tho Paaak? Mesak'ne (kasihan) Pak Presiden."

Beda lagi kalau masyarakat bukan Timses Pak Jokowi 2019 yang mengucapkannya. Pembaca yang budiman bisa bayangkan sendiri-sendiri rangkaian kalimatnya, cukup dalam benak pembaca sekalian.

Beda lagi kalau pemerhati Keterbukaan Informasi Publik yang mengucapkan, kalimatnya kayaknya mirip-mirip seperti berikut:

"Duh Gustiiii, (kalau) Pak Luhut baru ngerti tracing elemen sangat penting ngendalikan COVID-19, kok ndak terbuka dari dulu tho Paaak? Itu kan informasi teramat sangat penting sesuai prinsip keterbukaan informasi publik kan Paaak? Khususnya bagi Presiden."

*

Kalimat pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benak penulis, dan membayangkan akan muncul juga dalam benak banyak orang, sebagai reaksi spontan setelah membaca pernyataan Pak Luhut Binsar Panjaitan, Koordinator PPKM Darurat dan dilanjut PPKM ber-Level Jawa-Bali, di beberapa media online besar, dan bahkan ada yang menjadi judul berita (30/7/2021):

"Luhut: Sekarang Kita Mengerti Teknik Tracing Penting dalam Penanganan COVID-19"

Sementara kalimat kutipan utuh Pak Luhut lengkap dalam siaran pers (29/7/2021) sebagai berikut:

"Jadi sekarang kita sudah semakin mengerti bahwa teknik tracing itu penting dalam penanganan COVID-19. Teknik tracing ini kuncinya,”

Semoga penularan virus COVID-19 dengan berbagai varian ini segera berakhir, aamiin.