Konten dari Pengguna

Menjaga Ritme dengan QRIS, Bertumpu pada Rupiah

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendra Zajuli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tatkala napas mulai memburu di tanjakan curam Andong via Pendem, saya teringat pada satu filosofi pendakian. Beban di punggung harus dikemas seefisien mungkin agar langkah tetap ringan, namun perbekalan esensial pantang ditinggalkan di rumah. Konsep ultralight ini rupanya tidak hanya menyelamatkan fisik di jalur pendakian. Filosofi yang sama secara apik merefleksikan esensi dari bauran kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ritme perekonomian daerah.

Di tengah medan ekonomi global yang mendaki dan penuh ketidakpastian, navigasi kebijakan kita mutlak butuh titik keseimbangan yang terukur. Kebijakan moneter bertindak sebagai jangkar yang secara tegas berorientasi pada stabilitas nilai tukar (pro-stability). Di sisi lain, instrumen Sistem Pembayaran dioptimalkan layaknya ritme langkah yang konsisten, mendorong roda perekonomian agar terus bergerak lincah, efisien, serta inklusif (pro-growth).

Mari kita lihat realitasnya di gerbang pendakian. Waktu registrasi di Basecamp Pendem, urusan tiket retribusi sampai pemenuhan logistik awal di warung warga kini kelar dalam hitungan detik lewat scan QRIS. Fasilitas transaksi non-tunai di lereng Andong ini adalah wujud konkret dari meluasnya akseptasi digital. Inisiatif strategis semacam QRIS Jelajah Indonesia benar-benar hadir untuk mengeskalasi denyut ekonomi pariwisata dan UMKM, bahkan hingga ke tingkat akar rumput.

Meski begitu, kita harus bersikap realistis. Ada kalanya teknologi wajib berkompromi dengan kondisi alam. Ketika tiba di area puncak Andong dan ingin mengusir lelah dengan membeli es krim viral dari lapak pedagang atau sekadar memesan teh hangat, mie rebus dan gorengan di warung puncak, sinyal seluler yang kembang kempis membuat transaksi digital terhenti.

Di titik blank spot inilah, lembaran tunai Rupiah kembali mengambil alih peran vital. Mengingat demografi dan geografi Jawa Tengah yang begitu majemuk, Bank Indonesia terus mengedepankan langkah pre-emptive demi menjamin ketersediaan Uang Layak Edar. Keandalan pasokan Rupiah dipastikan selalu terjaga, baik dari sisi nominal maupun pecahannya, menjangkau pelosok hingga area minim sinyal.

Ketersediaan uag tunai ini tentu dikawal ketat dengan kampanye Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah serta penguatan pelindungan konsumen. Ketika masyarakat dan pedagang merasa aman bertransaksi, aktivitas ekonomi akan mengalir lancar. Di sinilah bauran kebijakan saling melengkapi. Transaksi tunai memastikan roda ekonomi di area terpelosok tetap hidup, sementara rekam jejak dari transaksi digital secara perlahan membuka jalan bagi UMKM di lereng gunung tadi untuk mengakses pembiayaan perbankan. Sebuah ekosistem yang dirancang agar pelaku usaha kecil kita bisa terus naik kelas.

Perpaduan antara kecepatan sistem digital dan keandalan fisik Rupiah ini ibarat sepasang sepatu gunung yang tangguh. Inovasi digital memberikan kelincahan untuk bermanuver cepat di rute yang mulus, sementara uang tunai fisik memberikan cengkeraman pijakan yang kuat agar kita pantang tergelincir saat menghadapi medan tak terduga. Lewat ekosistem pembayaran yang saling melengkapi ini, perekonomian Jawa Tengah kini berdiri di atas pijakan yang solid, siap menapaki jalur pendakian menuju puncak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

menikmati semangkok mie rebus telur di puncak andong, adanya warung dan pedagang di puncak andong adalah salah satu tanda geliat ekonomi diatas 1700an mdpl (doc Pribadi Penulis)