Konten dari Pengguna

Anatomi Dahaga di Balik El Niño

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendra Zajuli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang petani merapikan mulsa plastik di lahan pertanian yang mengering akibat kemarau panjang. (Foto: Dok. Pribadi / Hendra Zajuli)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang petani merapikan mulsa plastik di lahan pertanian yang mengering akibat kemarau panjang. (Foto: Dok. Pribadi / Hendra Zajuli)

Tiap kali kemarau bergeser sedikit lebih panjang, pemandangan di ruang publik selalu seragam. Antrean jeriken warga mengular menunggu kiriman tangki, sawah di sentra pangan merekah kaku, dan pejabat dinas sibuk menggelar rapat darurat. Di depan mikrofon wartawan, nama El Niño kembali dipanggil sebagai terdakwa tunggal. Seolah-olah seluruh petaka dahaga di negeri ini dikirim lewat pos udara dari Samudra Pasifik, steril dari dosa kebijakan di daratan.

Menjadikan atmosfer sebagai kambing hitam adalah cara paling nyaman untuk lepas tangan. Klimatologi mencatat El Niño sekadar menunda datangnya hujan beberapa pekan—sebuah dinamika periodik yang sudah berulang ribuan tahun di kepulauan ini. Yang abnormal hari ini adalah kecepatan tanah kita bangkrut. Mengapa baru berselang sebulan tanpa hujan, mata air langsung mati dan pasokan air baku perkotaan kolaps? Jawabannya tidak ada di langit, melainkan pada rusaknya brankas penyimpan air di bawah kaki kita.

Di punggung pegunungan Jawa, benteng pertahanan hidrologis dibongkar secara legal. Lereng-lereng vulkanik tangkapan air—dari kawasan Puncak di barat hingga lereng Dieng, Merapi, dan Ungaran di Jawa Tengah—terus disesaki izin vila, resor pelesir, dan klaster perumahan. Kondisi ini diperparah oleh tambang galian C yang mengerat bukit batu dan pasir di zona resapan vital. Pengerukan alat berat meremukkan formasi batuan kedap (aquitard) yang bertindak sebagai dinding penahan kantung air tanah alami. Sekali formasi geologis ini pecah, mata air mati permanen. Air hilang bukan karena awan enggan meluruhkan hujan, melainkan karena wadah penampungnya di perut bumi telah dihancurkan.

Alih-alih memulihkan hulu, pemerintah justru menambal krisis dengan jalan pintas teknikal yang berbahaya. Demi mengejar target statistik swasembada gabah—khususnya ambisi panen tiga kali setahun di musim kering—program sumur bor dalam dibagikan secara obral ke kelompok tani. Mesin pompa berkekuatan hisap besar ditancapkan puluhan hingga ratusan meter ke bawah tanah untuk menguras akuifer dalam.

Menyedot cadangan air purba yang butuh ratusan tahun untuk terisi kembali demi membasahi sawah di puncak kemarau adalah perjudian fatal. Tekanan hidrostatis bawah tanah rontok seketika karena air disedot melampaui kapasitas pengisian alaminya. Dampaknya menjalar cepat ke dataran rendah. Di sepanjang koridor Pantura—dari Pekalongan, Semarang, hingga Demak—tanah ambles beberapa sentimeter setiap tahun. Ruang kosong yang ditinggalkan air tawar langsung diserobot lidah air laut. Intrusi asin merangsek ke daratan, mengubah air sumur warga menjadi payau dan meracuni kesuburan sawah secara permanen.

Kita sebetulnya tidak kekurangan presipitasi; kita hanya menolak mengelolanya secara waras. Negara agraris seperti India pernah menghadapi kepunahan air serupa di kawasan Maharashtra akibat maraknya sumur bor. Alih-alih menggelar proyek modifikasi cuaca atau membiarkan sumur bor liar, mereka menerapkan community water budgeting—neraca air desa. Sebelum musim hujan tuntas, warga digerakkan menahan air di hulu lewat parit resapan dan bendung tanah sederhana. Ketika kemarau datang, komoditas yang ditanam disesuaikan secara ketat dengan sisa neraca air tanah; petani dilarang memaksakan tanaman rakus air dan beralih ke palawija bernilai tinggi.

Rasionalitas serupa mendesak diterapkan di Jawa. Target produksi pangan tidak boleh lagi bertumpu pada logika borong sedot air tanah. Pertama, moratorium sumur bor dalam untuk irigasi pangan harus ditegakkan di seluruh zona merah amblesan tanah dan intrusi pesisir. Kedua, adopsi teknik pengairan berselang (alternate wetting and drying) wajib dimassalkan pada budidaya padi. Riset agronomi membuktikan padi tidak butuh digenangi air terus-menerus; metode pengeringan berskala ini memangkas konsumsi air hingga 30 persen tanpa memangkas tonase panen. Ketiga, setiap bantuan sumur pompa air tanah dangkal wajib dipaketkan dengan pembangunan sumur imbuhan (managed aquifer recharge). Prinsipnya mutlak: air hujan harus ditabung kembali ke tanah sebelum boleh disedot di musim berikutnya.

Samudra Pasifik pasti akan menghangat kembali pada periodenya dan El Niño berikutnya niscaya datang mengetuk pintu. Menghadapinya dengan terus mengebor bumi dan mengambinghitamkan langit adalah kebebalan yang terencana. Bila tata kelola air tanah tidak segera dirombak, kita tidak hanya akan kehilangan panen pangan masa depan, tetapi juga mendapati tanah tempat kita berpijak tenggelam di bawah rendaman air asin.