Harga Sebuah Tempat Berteduh
Tulisan dari Hendra Zajuli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebatang pohon di pinggir jalan mungkin hanya dianggap pelengkap penghijauan. Bagi pengemudi yang menunggu pesanan di bawah terik matahari, naungannya bisa menyelamatkan tenaga. Namun, berteduh punya ongkos yang tidak selalu terlihat. Waktu untuk memulihkan diri adalah waktu yang tidak digunakan mencari nafkah.
Bagi pekerja kantoran, cuaca panas mungkin berarti pendingin ruangan bekerja lebih keras. Pengemudi ojek daring, juru parkir, dan buruh angkut menghadapi perhitungan berbeda. Menepi berarti melewatkan kesempatan bekerja. Memaksakan diri terus bergerak pun mempertaruhkan kesehatan. Di tengah pertumbuhan kota, kebutuhan pekerja untuk berhenti sejenak justru jarang masuk hitungan.
Panas yang memotong jam kerja
Semarang punya alasan untuk memperhatikan persoalan ini. BMKG Jawa Tengah mencatat suhu maksimum bulanan umumnya memuncak pada Maret–April dan kembali meningkat pada Oktober–November. Namun, cuaca bukan satu-satunya penentu. Bentuk kota ikut menentukan seberapa mudah warga menemukan perlindungan dari matahari.
Penelitian Siti Mutiara Lugina dan Tania June dalam Jurnal Ilmu Lingkungan, September 2026, menghubungkan pola suhu permukaan Jakarta dan Semarang dengan kepadatan kawasan terbangun serta tutupan vegetasi. Rata-rata suhu permukaan yang mereka catat masing-masing 28,7 dan 26,2 derajat Celsius. Itu angka suhu permukaan dari satelit, bukan ukuran langsung tekanan panas yang diterima tubuh. Namun, peta tersebut memperlihatkan mengapa koridor yang minim pepohonan dan kawasan yang lebih teduh menawarkan kondisi kerja berbeda.
Perbedaannya menjadi persoalan pendapatan ketika pekerja dibayar berdasarkan hasil. Penelitian Yohanes Eki Apriliawan pada 2025, menggunakan data pengemudi berbasis aplikasi di Jabodetabek periode 2021–2024, menemukan hubungan antara meningkatnya suhu permukaan, berkurangnya jam kerja mingguan, dan menurunnya pendapatan bulanan. Temuan di Jabodetabek itu bukan taksiran kerugian pengemudi Semarang, tetapi memperlihatkan ongkos ekonomi dari panas pada pekerjaan yang mengandalkan mobilitas.
Istirahat yang harus dibayar sendiri
Laporan WHO dan WMO pada 2025 menempatkan tekanan panas sebagai risiko kesehatan sekaligus produktivitas kerja. Masalahnya, kemampuan mengambil jeda tidak terbagi merata. Pekerja bergaji tetap dapat memiliki waktu istirahat yang terjadwal. Bagi mereka yang hidup dari perjalanan berikutnya, jeda memiliki ongkos ekonomi: kesempatan menerima pesanan yang terlewat.
Pada ekonomi platform, persoalan ini bertemu dengan desain insentif. Waktu aktif dan penyelesaian pesanan menjadi bagian dari sejumlah skema penilaian. Sistem tersebut dapat menjaga keandalan layanan, tetapi membutuhkan pengecualian yang jelas ketika pengemudi harus berhenti karena kondisi panas membahayakan kesehatan. Tempat istirahat kehilangan sebagian manfaatnya jika pekerja merasa perlu tetap aktif agar peluang pendapatannya tidak terganggu.
Indonesia sebenarnya memiliki standar pengendalian panas melalui Permenaker Nomor 5 Tahun 2018. Pengukuran Indeks Suhu Basah dan Bola, pengaturan beban kerja, serta waktu istirahat dapat diterapkan pada lokasi kerja tetap. Tantangannya berbeda bagi pengemudi yang tempat kerjanya terus berpindah. Perbedaan hubungan kerja formal dan kemitraan perlu diperhitungkan, tetapi kebutuhan melindungi kesehatan tidak ikut menghilang.
Naungan sebagai infrastruktur kerja
Pemerintah kota tidak perlu memulai semuanya dengan membangun selter mahal. Peta kawasan panas dapat dipertemukan dengan lokasi pekerja menunggu pesanan: pasar, pusat kuliner, terminal, dan pergudangan. Tempat tunggu yang ada bisa diperbaiki, akses air minum diperluas, dan kerja sama dengan pelaku usaha setempat dibangun. Penyelenggara platform pun berkepentingan memastikan fasilitas mudah dijangkau dan mekanisme insentif memberi ruang untuk beristirahat dengan aman.
Bagi Semarang, pohon peneduh di koridor perdagangan dan jalur pengantaran bukan sekadar penghias jalan. Ia membantu pekerja mengambil jeda tanpa menghabiskan waktu dan bahan bakar untuk mencari naungan jauh dari wilayah kerjanya. Investasi ruang teduh perlu dinilai dari lokasi dan manfaatnya bagi pekerja, bukan hanya jumlah fasilitas yang diresmikan.
Kota boleh terus mengejar kelancaran lalu lintas dan kecepatan pergerakan barang. Namun, bagi pekerja yang hidup dari perjalanan berikutnya, harga sebuah tempat berteduh sering kali bukan terletak pada fasilitasnya, melainkan pada kesempatan mencari nafkah yang harus dilepaskan untuk menikmatinya.

