Konten dari Pengguna

Perpustakaan Bank Sentral, untuk Siapa?

Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Semarang menyediakan layanan bacaan fisik dan digital serta fasilitas yang mendukung akses pengetahuan bagi masyarakat. (Kolase: Dokumentasi Perpustakaan BI Jawa Tengah, diolah dengan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Semarang menyediakan layanan bacaan fisik dan digital serta fasilitas yang mendukung akses pengetahuan bagi masyarakat. (Kolase: Dokumentasi Perpustakaan BI Jawa Tengah, diolah dengan AI)

Apa urusan bank sentral dengan ruang bermain anak dan buku Braille?

Bank Indonesia lebih sering dikenal melalui urusan inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan sistem pembayaran. Tidak banyak orang membayangkan bahwa di salah satu kantornya terdapat ruang tempat anak-anak bisa mengenal buku sambil bermain, sementara pengunjung lain memperoleh kesempatan membaca melalui sentuhan ujung jari.

Pemandangan semacam itu bisa ditemukan di Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Semarang. Di area seluas 379 meter persegi, tersedia Latar Dolanan untuk anak-anak, Roso Ing Aksara sebagai pojok Braille, serta sejumlah ruang untuk membaca, berdiskusi, dan mengakses pengetahuan digital.

Pertanyaannya bukan mengapa bank sentral memiliki perpustakaan. Sebagai lembaga yang bekerja dengan data, riset, dan analisis ekonomi, kebutuhan akan perpustakaan justru mudah dipahami. Yang lebih menarik adalah mengapa pengetahuan yang dikumpulkan untuk mendukung pekerjaan sebuah lembaga perlu ikut dibuka kepada masyarakat.

Perpustakaan BI Jawa Tengah merupakan perpustakaan khusus. Koleksinya antara lain mencakup bidang moneter, stabilitas sistem keuangan, dan sistem pembayaran. Namun, layanannya juga terbuka bagi masyarakat umum. Kunjungan datang dari berbagai jenjang pendidikan, mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Di sinilah fungsi perpustakaan mulai bergerak melampaui kebutuhan pegawai. Pengetahuan yang semula dikumpulkan untuk menunjang pekerjaan lembaga dapat digunakan oleh orang-orang yang bahkan tidak memiliki urusan langsung dengan kebijakan moneter.

Ketika Rak Buku Tidak Lagi Cukup

Perpustakaan sering dinilai dari sesuatu yang paling mudah dihitung: jumlah koleksi, luas ruangan, dan kelengkapan fasilitas. Ukuran tersebut penting, tetapi tidak banyak bercerita tentang apa yang terjadi setelah buku tersusun rapi di rak.

Hingga 16 Juli 2026, Perpustakaan BI Jawa Tengah mencatat 14.433 koleksi cetak dan elektronik, meningkat dari 11.435 pada 2023. Dalam periode 16 Juli 2025 hingga 16 Juli 2026, sebanyak 6.219 koleksi tercatat dimanfaatkan, setara 43,09 persen dari keseluruhan koleksi dalam pencatatan tersebut.

Angka terakhir lebih menarik untuk dibicarakan daripada pertumbuhan koleksi semata. Setidaknya, kita memperoleh gambaran bahwa perpustakaan juga memperhatikan apakah bahan bacaan yang tersedia benar-benar digunakan.

Namun, pemanfaatan koleksi belum sama dengan peningkatan literasi. Seseorang bisa meminjam buku tanpa menamatkannya. Pengunjung dapat mengikuti diskusi tanpa mengubah cara berpikirnya. Bahkan perpustakaan yang ramai sekalipun belum tentu mampu menjangkau orang-orang yang paling membutuhkan akses pengetahuan.

Itulah sebabnya perpustakaan memerlukan ukuran keberhasilan yang lebih jauh daripada jumlah pengunjung atau buku yang dipinjam.

Pertanyaan yang patut diajukan sederhana: bacaan apa yang dibutuhkan masyarakat, siapa yang belum terjangkau, dan apakah layanan perpustakaan membantu mereka memahami sesuatu yang sebelumnya sulit dipahami?

Di tengah banjir informasi digital, pertanyaan itu semakin penting. Mencari jawaban melalui layar memang mudah. Memastikan jawaban tersebut benar, memahami konteksnya, dan menggunakannya secara tepat merupakan pekerjaan yang berbeda.

Perpustakaan masih memiliki tempat dalam pekerjaan tersebut.

Tidak Semua Orang Membaca dengan Cara yang Sama

Salah satu upaya menarik di Perpustakaan BI Jawa Tengah adalah menghadirkan ruang baca untuk kebutuhan pengguna yang berbeda.

Latar Dolanan memberi tempat bagi anak-anak untuk mengenal buku melalui kegiatan yang dekat dengan dunia mereka. Kehadirannya mengingatkan bahwa kegemaran membaca tidak selalu dimulai dari kewajiban duduk diam dan menghabiskan sejumlah halaman.

Sementara itu, Roso Ing Aksara menyediakan pojok Braille. Fasilitas ini membawa pesan yang lebih mendasar: akses pengetahuan tidak seharusnya bergantung pada kemampuan seseorang membaca huruf tercetak.

Ada pula ruang digital, ruang diskusi, dan fasilitas pendukung kegiatan kreatif. Perpustakaan mencoba memberi lebih banyak pilihan tentang bagaimana orang mendekati pengetahuan, bukan hanya melalui buku yang dibaca sendirian.

Tentu, fasilitas yang tersedia belum otomatis membuktikan bahwa kebutuhan setiap pengunjung telah terpenuhi. Pojok Braille baru benar-benar berarti ketika koleksi dan pelayanannya sesuai dengan kebutuhan pengguna. Ruang anak pun perlu dilihat dari pengalaman belajar yang tercipta, bukan sekadar tampilannya.

Justru di situlah pekerjaan pengelola perpustakaan berikutnya: memastikan ruang yang dirancang dengan baik juga bekerja dengan baik.

Buku Perlu Mendatangi Pembacanya

Membuka pintu perpustakaan saja belum cukup. Tidak semua orang memiliki waktu, kebiasaan, atau alasan untuk datang.

Di lingkungan kantor, Perpustakaan BI Jawa Tengah menjalankan Angkringan Buku, layanan yang menghadirkan pilihan bacaan ke berbagai lantai agar lebih mudah dijangkau pegawai. Program ini tidak menyasar masyarakat umum, tetapi memperlihatkan cara sederhana mengurangi hambatan akses membaca di tempat kerja.

Di luar kantor, perpustakaan turut terlibat dalam kegiatan literasi bersama perpustakaan daerah, termasuk di tingkat Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang. Kegiatan bedah buku juga diselenggarakan di sejumlah kota, antara lain Solo dan Purwokerto.

Pendekatannya berbeda, tetapi persoalan yang ingin dijawab serupa. Buku dan kegiatan membaca tidak cukup hanya tersedia. Keduanya perlu dipertemukan dengan orang yang mungkin belum merasa membutuhkan perpustakaan.

Perjumpaan pertama itu memang tidak selalu menghasilkan pembaca setia. Namun, tanpa kesempatan untuk mengenal buku dan berdiskusi tentang isinya, kebiasaan membaca juga sulit tumbuh.

Karena itu, keberhasilan kegiatan literasi sebaiknya tidak berhenti pada jumlah peserta. Akan lebih menarik apabila pengelola mengetahui apakah peserta kemudian mencari bacaan lain, kembali menggunakan perpustakaan, atau membawa kebiasaan membaca ke lingkungannya.

Manfaat yang Menyeberang Gedung

Ada satu kegiatan yang memperlihatkan peluang manfaat lebih luas dari perpustakaan khusus milik lembaga negara.

Pada 2026, Perpustakaan BI Jawa Tengah bekerja sama dengan BPSDMD Jawa Tengah dalam peningkatan kapasitas pustakawan, dengan keterlibatan Perpustakaan Nasional. Pesertanya berasal dari berbagai lembaga, mulai perpustakaan SMA, perguruan tinggi, hingga perpustakaan umum di Jawa Tengah.

Kegiatan semacam ini mungkin tidak semenarik pembukaan ruang baca baru. Namun, pengaruhnya berpeluang menjangkau lebih banyak orang.

Seorang pustakawan sekolah yang semakin terampil membantu pencarian referensi dapat melayani banyak murid. Pustakawan kampus dapat mempermudah mahasiswa menemukan sumber yang sesuai dengan kebutuhan akademiknya. Pengelola perpustakaan umum pun dapat membawa pengetahuan baru untuk melayani masyarakat dengan kebutuhan bacaan yang beragam.

Dengan demikian, manfaat pengembangan perpustakaan tidak harus berhenti pada orang yang datang ke gedung Bank Indonesia.

Tentu, mengikuti pelatihan belum otomatis membuat pelayanan lebih baik. Hasilnya baru dapat dinilai ketika keterampilan tersebut diterapkan di tempat kerja. Tetapi pilihan untuk berbagi kesempatan belajar lintas lembaga sudah menunjukkan arah yang patut diapresiasi.

Pengetahuan memperoleh nilai tambahan ketika orang yang memilikinya mampu membantu orang lain.

Sesudah Predikat A

Pada 2026, Perpustakaan BI Jawa Tengah meraih akreditasi A. Capaian ini patut diapresiasi sebagai pengakuan atas pemenuhan standar pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.

Namun, akreditasi bukan garis akhir. Kebutuhan pembaca akan terus berubah, begitu pula teknologi yang mereka gunakan untuk mencari informasi.

Perpustakaan yang hari ini dianggap lengkap bisa kehilangan relevansinya apabila koleksinya tidak lagi menjawab kebutuhan pengguna. Ruang yang dirancang inklusif juga perlu terus diperiksa apakah benar-benar nyaman dan mudah digunakan.

Karena itu, sesudah memperoleh pengakuan atas standar yang dipenuhi, pekerjaan berikutnya adalah memahami hasil yang dirasakan pengunjung. Apakah mereka lebih mudah menemukan informasi? Apakah mereka datang kembali? Apakah pelatihan pustakawan turut memperbaiki layanan di sekolah, kampus, dan perpustakaan umum?

Tidak semua jawaban dapat diperoleh dalam satu tahun. Tidak semuanya pula bisa disederhanakan menjadi persentase.

Bank Indonesia tentu tetap memiliki tugas utama menjaga stabilitas ekonomi sesuai mandatnya. Perpustakaan bukan pengganti tugas tersebut. Akan tetapi, keterbukaan perpustakaan khusus kepada masyarakat memperlihatkan bahwa sumber daya pengetahuan sebuah lembaga dapat memberi manfaat di luar kebutuhan organisasinya sendiri.

Kita belum dapat menyimpulkan bahwa berbagai kegiatan Perpustakaan BI Jawa Tengah telah meningkatkan tingkat literasi masyarakat secara luas. Kesimpulan sebesar itu membutuhkan pengukuran yang lebih panjang dan bukti yang lebih kuat.

Namun, ada perkembangan yang layak dicatat: perpustakaan yang dibangun untuk mendukung pekerjaan bank sentral juga membuka ruang bagi anak-anak, mahasiswa, masyarakat umum, dan pustakawan dari lembaga lain.

Pada akhirnya, keberhasilan perpustakaan bukan hanya soal seberapa banyak buku yang dimiliki atau seberapa tinggi predikat yang diraih.

Yang lebih penting adalah apakah pengetahuan yang tersimpan di dalamnya berhasil sampai kepada orang yang membutuhkan.

Penulis adalah pegawai Bank Indonesia. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.