Konten dari Pengguna

Tokolan Udang untuk Budi daya yang Lebih Produktif dan Tangguh

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendra Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo : Koleksi Hendra Gunawan
zoom-in-whitePerbesar
Photo : Koleksi Hendra Gunawan
Photo : Koleksi Hendra Gunawan
zoom-in-whitePerbesar
Photo : Koleksi Hendra Gunawan

Diseminasi Tokolan Udang Windu: Strategi Meningkatkan Produktivitas Tambak Tradisional dan Ketahanan Budidaya terhadap Perubahan Iklim

Surabaya, 8–9 Oktober 2026 — Upaya meningkatkan produktivitas budidaya udang windu (Penaeus monodon) melalui penerapan teknologi yang adaptif, ramah lingkungan, dan sesuai dengan karakteristik tambak tradisional terus didorong melalui kegiatan Diseminasi Tokolan Udang Windu yang diselenggarakan di Surabaya pada 8–9 Oktober 2026.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Asisten Deputi Pengembangan Budidaya, Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, PT Alter Trade Indonesia (ATINA), Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Forum Udang Indonesia (FUI), dan Blue Forest. Diseminasi dilaksanakan secara hibrida, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, akademisi, organisasi nonpemerintah (non-governmental organization/NGO), serta pelaku usaha perikanan.

Kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman dan penerapan metode tokolan udang windu sebagai salah satu pendekatan budidaya yang dapat direplikasi oleh pelaku usaha pembenihan dan pentokolan maupun petambak di berbagai wilayah Indonesia. Melalui diseminasi ini, praktik budidaya yang telah diterapkan diharapkan dapat menjadi referensi untuk meningkatkan keberhasilan produksi, khususnya pada tambak tradisional dan skala kecil.

Tokolan, Tahap Strategis untuk Meningkatkan Keberhasilan Budidaya

Tokolan merupakan tahapan pemeliharaan benih udang setelah fase postlarva (PL), sebelum dipindahkan ke tambak pembesaran atau grow-out. Pada tahap ini, benih dipelihara hingga mencapai ukuran dan kondisi yang lebih siap untuk menghadapi lingkungan tambak pembesaran.

Penerapan tokolan diharapkan membantu meningkatkan kesiapan dan kemampuan adaptasi benih terhadap perubahan kondisi lingkungan, memperpendek masa pemeliharaan di tambak pembesaran, serta mendukung pengelolaan siklus budidaya yang lebih efektif. Dengan pengelolaan yang tepat, tahapan ini juga berpotensi mengurangi risiko kematian benih pada awal pemeliharaan dan meningkatkan peluang keberhasilan panen.

Menjawab Tantangan Tambak Tradisional dan Dampak Perubahan Iklim

Sebagian besar kegiatan budidaya udang di Indonesia masih dilakukan melalui sistem tradisional dan skala kecil. Model budidaya ini memiliki peran penting dalam menopang mata pencaharian masyarakat pesisir, tetapi juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan kualitas air, fluktuasi cuaca, keterbatasan sarana produksi, hingga ketersediaan benih berkualitas yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan tambak.

Perubahan iklim semakin memperkuat kebutuhan akan strategi budidaya yang lebih adaptif. Perubahan pola hujan, kemarau berkepanjangan, serta fluktuasi suhu dan salinitas dapat memengaruhi kualitas lingkungan dan meningkatkan risiko kegagalan produksi.

Dalam konteks tersebut, tokolan menjadi salah satu pendekatan yang layak dikembangkan untuk memperkuat kesiapan benih sebelum memasuki fase pembesaran. Namun, keberhasilannya tetap memerlukan dukungan manajemen kualitas air, persiapan tambak yang baik, pemilihan benih berkualitas, serta penerapan praktik budidaya yang sesuai dengan kondisi lokal.

Mendorong Produksi Nasional dan Daya Saing Udang Indonesia

Pengembangan metode tokolan diharapkan menjadi bagian dari strategi peningkatan produktivitas udang nasional, terutama melalui penguatan sistem budidaya tradisional yang selama ini menjadi tumpuan banyak petambak. Peningkatan produktivitas tidak hanya ditentukan oleh teknologi pembesaran, tetapi juga oleh kualitas benih, kesiapan lingkungan tambak, dan ketepatan pengelolaan pada setiap tahapan budidaya.

Dengan memperluas penerapan praktik budidaya yang tepat, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat daya saing di pasar internasional, serta meningkatkan kontribusi sektor udang terhadap perekonomian masyarakat pesisir.

Di tengah persaingan dengan negara produsen udang seperti Ekuador dan India, inovasi yang sesuai dengan kondisi tambak Indonesia menjadi penting untuk terus dikembangkan. Tokolan udang windu dapat menjadi salah satu pilihan pendekatan untuk mendukung peningkatan produktivitas, sepanjang penerapannya didukung oleh pendampingan teknis, pengelolaan yang baik, dan evaluasi hasil di lapangan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga pendamping, organisasi masyarakat sipil, dan pelaku usaha, diseminasi ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi berlanjut pada penerapan nyata di tingkat petambak. Dengan demikian, pengembangan tokolan udang windu dapat berkontribusi terhadap budidaya yang lebih tangguh, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan memperkuat daya saing udang Indonesia di pasar global.